• two •

2.4K 302 32
                                        

Kejadiaan tak mengenakkan harus dialami Jennie hari ini lantaran taksi yang Ia tumpangi mengalami kebocoran ban. Alhasil gadis itu harus menerima resiko kerterlambatan untuk wawancara di perusahaan tempatnya melamar pekerjaan, dan jam sudah menunjukkan pukul 11 lewat 15 menit.

“Paman, tolong di percepat lagi lajunya,” pinta Jennie kepada sang pengemudi taksi dengan raut wajah gelisah.

Pria paruh baya itu kemudian merespon, “Sabar, sebentar lagi kau sampai. Mobil ini tak bisa melaju terlalu cepat. Kau lihat tadi, kan ini bukan ban permanen,”

Jennie menghela nafas. Ia sudah benar-benar gelisah akan terlambat ikut wawancara. Sementara seluruh calon karyawan harus datang pada pukul 10 tadi. Gadis itu terus berdoa agar Tuhan setidaknya memberikannya kesempatan sekali ini saja untuk bisa diterima di perusahaan periklanan tersebut.

Setelah sekitar 15 menit mengarungi jalanan sibuk kota Seoul, taksi berwarna oranye itu akhirnya berhenti di lapangan sebuah gedung bertingkat 3, gedung tempat bakal Ia bekerja nanti.

Gadis itu keluar dengan tergesa-gesa setelah selesai membayar tagihan tumpangannya kepada sang supir. Jennie bahkan tak mengucapkan kata-kata apapun kepada sang supir tadi.

Ia melangkah dengan terbirit-birit memasuki kantor tersebut. Beberapa staff dilantai dasar itu nampak bercengkrama satu sama lain. Jennie yang masih sangat baru, bahkan baru pertama kali menapakkan kakinya di lantai gedung itu akhirnya mulai bertanya kepada salah seorang staff pria yang kebetulan tengah berpapasan dengannya.

“Permisi, maaf. Bila aku boleh tau, wawancaranya dilaksanakan dimana?”

Pria dengan kemeja putih dan suit pants berwarna hitam itu berhenti sejenak, menatap penampilan sang gadis dari atas sampai bawah, “Kau calon karyawan disini?”

Jennie menggangguk pelan, “Tentu saja aku calon karyawan disini. Kalau tidak, untuk apa aku bertanya dimana wawancaranya,” gerutunya dalam hati sebal.

Pria itu kembali mengamati Jennie, sambil terkekeh pelan, “semoga kau tak dihabisi hidup-hidup. Wawancara dilaksanakan di lantai 2 dan sudah berakhir beberapa menit yang lalu,” ujarnya dengan senyum mengejek.

Jennie sontak langsung membulatkan kedua matanya. Tanpa berpikir panjang, gadis itu langsung berlari terbirit-birit menuju elevator. Bahkan tak sedikit terlintas di pikirannya untuk sekedar mengucapkan terima kasih kepada pria yang telah mau memberikannya informasi berarti itu.

Di dalam elevator yang Ia huni sendirian, Jennie terus berdoa di dalam hati, agar Presdir perusahaan itu masih mau menerima kedatangannya untuk wawancara.

Ting!

Pintu elevator tersebut terbuka. Jennie menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan. Gadis itu keluar dari elevator tersebut dengan langkah tergesa-gesa, mencari ruangan tempat di laksanakannya wawancara tersebut.

Hingga kemudian Jennie bertemu dengan seorang staff wanita dengan name tag Kim Yongsun yang nampaknya baru keluar dari sebuah ruangan sambil membawa beberapa berkas. Tanpa harus berpikir panjang, gadis itu kembali menghampiri staff wanita itu dan menanyakan hal serupa dengan yang Ia tanyakan kepada seorang staff pria di lantai dasar tadi.

“Permisi. Dimana ruang wawancaranya berada?”

Wanita bernama Kim Yongsun itu berhenti sejenak, mengamati penampilan Jennie siang itu. Ia menatap Jennie dengan pandangan tak suka sambil merespon ucapan Jennie dengan judes, “Siapa kau?”

Gadis itu tersenyum culas mendengar 2 kata yang dilemparkan wanita itu kepadanya, “Aku calon karyawan disini, tentu saja. Apalagi menurutmu?”

Yongsun menaikkan kedua alisnya mendengar jawaban tak sopan dari Jennie yang bahkan belum memiliki jabatan apapum di perusahaan itu, “Jaga nada bicaramu itu! Kau pikir kau siapa yang datang menanyakan dimana wawancaranya sementara wawancara telah selesai 5 menit yang lalu,” sergahnya membuat Jennie sedikit terkekeh.

Back To YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang