• seventeen •

1.4K 216 42
                                        

“Katanya kita akan mendapatkan Presdir baru, ya?”

“Siapa yang mengatakannya?”.

“Lalu Presdir Kim bagaimana?”.

Seungwan yang masih terlalu fokus dengan monitor komputernya hanya mampu mendengarkan celotehan beberapa karyawan yang tengah berbincang soal CEO baru yang akan datang ke perusahaan ini. Entah bernarasumber darimana.

“Apa mungkin seseorang dapat mengambil alih posisi Presdir Kim ketika Dia adalah pemilik saham terbesar peruhasaan ini?”.

“Nama gedung ini juga masih berlandaskan namanya. Bagaimana mungkin seseorang dapat mengganti jabatannya”.

“Tapi bukannya Yongsun-ssi yang akan menghandle pekerjaan para karyawan?”

“Menurut yang kudengar, tugas Yongsun-ssi tetaplah sebagai seorang sekretaris kantor. Presdir Kim juga membebankan pekerjaan kantornya kepada Kim Yongsun. Apa kau pikir wanita itu bisa menghandle semuanya ketika ada lebih dari 60 manusia yang bekerja disini?”

“Tetap saja. Bagaimanapun, aku tak ingin jika ada seseorang yang menggantikan posisi Presdir Kim”.

“Setuju! Walau terkesan dingin dan tak mau tahu, tetap saja. Perangai Presdir Kim membuatku jadi selalu tidak pernah molor soal pekerjaan”.

“Dan bonus! Dia sangat tampan! Kaya lagi. Aku selalu bermimpi bisa mendapatkan posisi Kim Yongsun yang bisa selalu bersamanya”.

“Tapi si karyawan baru yang sok itu malah mengambil kesempatan! Bagaimana bisa Presdir Kim memilihnya untuk menemaninya syuting ketika Dia bahkan memiliki lebih dari 30 karyawan wanita”.

“Dan ingat! Kim Yongsun adalah sekretaris pribadinya!”.

Pembahasan gadis-gadis yang nampak menganggur itu membuat telinga Seungwan yang masih terlalu fokus akan pekerjaannya memanas.

Gadis berkulit pucat dengan rambutnya yang Ia ikat ekor kuda akhirnya memutar kursi kerjanya. Menatap satu persatu tiga orang gadis yang masih menganggur itu sambil mendelik.

“Maafkan aku karena telah memotong pembicaraan usil kalian yang entah darimana sumbernya. Tapi kupikir kalian harus menghormati karyawan lain yang sedang bekerja! Paling tidak jika ingin menggosip jangan disini! Karyawan lain akan sangat terganggu!”, semburnya terang-terangan membuat ketiga gadis itu mendongak dengan tatapan malas.

“Hey. Ini temannya si karyawan baru itu”.

“Oh. Wajar jika Ia marah ketika kita membicarakan temannya”.

“Tenang saja. Kan, memang fakta!”

“Aku juga lupa! Kita menduduki meja temannya”

Seungwan menautkan alis, “apa yang kalian bicarakan? Pergi ketempat lain sebelum aku benar-benar akan mengadukan semua ini ke Presdir!”, ancamnya.

Ketiga gadis itu hanya berdecak sambil mulai bangkit dari meja milik Kim Jennie yang saat ini masih kosong.

“Hidupnya terlalu serius”.

“Pantas saja tidak ada yang mau berteman dengannya”.

“Dia sudah sangat klop dengan si karyawan baru yang juga tak memiliki teman”.

Seungwan hanya mampu menghela nafas kasar ketika telinganya sudah samar-samar mendengarkan ocehan manusia-manusia tak bermoral itu yang sudah mulai menjauh.

Berbalik, Seungwan menemukan Jung Jaehyun yang masih berkutik dengan komputernya, namun matanya teralihkan kepada Seungwan yang masih berdiri.

Gadis itu tersenyum tipis, dibalas oleh Jaehyun sama tipisnya lalu keduanya melanjutkan kerja masing-masing.

Back To YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang