• eleven •

1.4K 222 13
                                        

Hari ini, benar-benar menjadi salah satu hari yang tak akan mungkin Ia lupakan seumur hidupnya. Kertas-kertas yang masih berserakan diatas meja pun tak menghambat seorang Jennie Kim untuk kembali memutar memori disaat dirinya secara tiba-tiba di ajak untuk makan malam berdua. Padahal acara pertemuan dengan klien sudah selesai, dan Ia juga sudah sempat makan siang berdua bersama Kim Hanbin.

...

Keadaan yang sunyi senyap menyelimuti kedua insan di dalam salah satu restoran daging disana. Rasa nyaman untuk sekedar menyantap makanan saja tidak ada karena Kim Hanbin yang terus menatapnya datar.

“Kau... Eumm, maksudku. Presdir, kau tidak makan?”, ujarnya sedikit kikuk. Berat memang rasanya jika harus memanggil Kim Hanbin dengan sebutan ‘Presdir’ karena dirinya yang kini sudah menjadi atasan Kim Jennie. Tapi mau bagaimana lagi? Terkadang gengsi dan ego memang harus dilawan hanya untuk sekedar menyebut kata Presdir kehadapan pria itu.

“Tidak. Aku datang kesini untuk menyuruhmu makan. Bukan menyuruh kita makan”, ujarnya dengan nada yang begitu ketus.

Jennie melirik pria itu sebentar kemudian mengangguk paham. Ia sudah mulai terbiasa dengan sikap dingin Kim Hanbin yang jauh berbeda dengan ketika dirinya masih berpcaran dulu. Gadis itu kembali menyumpit daging marinasi dan melahapnya pelan. Entah sejak kapan dirinya menjadi sangat tidak nyaman ketika pria itu terus menatap aktivitas menyantap makan malamnya.

“Kenapa kau makan lambat sekali?”, celetuk pria itu tiba-tiba melontarkan pertanyaan.

Jennie mulai menoleh dengan hati-hati lalu tersenyum kikuk, “aku... sedikit tidak selera makan”.

Hanbin lagi-lagi harus melemparkan tatapan datarnya yang menjadi satu-satunya hal yang ingin Ia hindari, “bukannya kau dulu sangat menyukai ini?”.

Pertanyaan Kim Hanbin sukses membuat Jennie bergeming sebentar. Mengapa pria ini tiba-tiba harus menyebutkan kalimat yang berhubungan dengan masa lalu? Apa maksudnya?

Jennie terlihat salah tingkah. Menaruh kedua sumpitnya di atas piring lalu tersenyum kaku ke arah Kim Hanbin yang masih terlihat begitu datar, “ya.. Tapi.. itu dulu. Aku masih sangat menyukainya, tapi sedikit mencoba untuk menguranginya”, jawabnya refleks. Matanya mengatakan hal lain seolah perkataannya merupakan suata konotasi belaka.

Hanbin ikut bergeming. Kembali menatap gadis yang semakin kikuk itu dalam diam. Ia tiba-tiba beranjak dari kursi lalu meraih kunci mobil, “habiskan makananmu. Aku akan menunggu di mobil”, ujarnya tanpa ekspresi lalu pergi begitu saja meninggalkan dengan tumpukan daging marinasi yang belum banyak Ia makan.

Gadis itu hanya menatap punggung Hanbin yang mulai menghilang. Apa Ia benar-benar tak bisa melihat dari sorot mata Kim Jennie bahwa, Ia masih sangat mencintai pria itu.

...

Kim Jennie secara diam-dima mulai membuka laci mejanya. Menemukan gelang dengan inisial JH❤ yang masih Ia simpan di dalam laci kerjanya itu. Pekerjaan terasa sangat sulit. Tapi terkadang semakin sulit ketika memorinya terus bermain akan masa lalu yang ingin sekali Ia lupakan. Kapan Ia bisa memulai kehidupan baru tanpa terjerat kisah lama bersama orang yang terlibat didalamnya yang masih belum bisa Ia lupakan?

“Jennie-ssi?”, lamunannya akan gelang berinisial JH❤ yang membuatnya kembali memutar memori lama terbuyar ketika secara tiba-tiba gendang telinganya menangkapsuara pria yang terdengar begitu dekat dari posisinya.

Gadis itu cepat-cepat memasukkan kembali gelang tersebut ke dalam laci. Memutar kursinya untuk menatap sang pemanggil namanya.

“Y.. ya, Jaehyun-ssi?”.

Pria itu menatap meja Jennie yang masih penuh oleh kertas-kertas dan beberapa berkas lainnya, “pekerjaanmu masih belum siap juga?”.

Jennie ikut menatap kertas-kertas yang masih setia bertapak di atas mejanya, ditambah lagi laptop yang tak kunjung Ia tutup, “Presdir kembali memberiku tugas dan harus kuselesaikan malam ini”, ucapnya.

Jaehyum menatap miris gadis itu, “ketika sekretarisnya adalah Kim Yongsun tapi malah membebankan segala pekerjaannya kepadamu?”.

Jennie mengangkat kepalanya, menatap Jaehyun yang masih berdiri dengan ekspresi bertanya, “apakah... ada yang salah? Maksudku, aku datang kesini untuk bekerja, bukan?”.

Jaehyun malah tersenyum kecut menatap gadis yang terlihat polos itu, “bukannya kau berada di bagian design advertisement? Mengapa data-data periklanan dan aktor yang memerankannya harus kau yang mengerjakan?”.

Jennie terdiam kikuk melihat Jaehyun yang ternyata adalah seorang yang teliti. Pria itu bahkan dengan lancang meraih salah satu kertas yang ada di atas meja, “lihat, ini adalah data untuk aktor yang akan memerankan iklannya, kan? Yang kutahu harusnya ini dikerjakan oleh sekretaris Presdir mengingat ini merupakan data pribadi”, ujarnya lagi menjelaskan.

Jennie kembali terdiam. Memahami maksud ucapan Jaehyun. Masuk akal. Sebenarnya ini bukan pekerjaannya. Tapi mengapa pekerjaan sebanyak ini malah diberikan kepadanya?

Gadis itu kembali tersenyum kikuk, “Ah, kurasa Yongsun sedang sibuk, maka Presdir memberi tugas ini padaku. Tak ada masalah, kan? Aku juga jadi bisa belajar”, ujarnya membela diri.

Pria itu bergeming. Menatap salut Jennie yang ternyata adalah seorang gadis pekerja keras, “aku berencana akan pulang. Tapi kulihat pekerjaanmu masih banyak. Apa tak masalah jika aku menunggu disini sampai kau selesai?”.

Jennie cepat-cepat bangkit, “Ah. Untuk apa kau capek-capek menungguku. Pekerjaanku masih sangat banyak. Kau seharusnya pulang sekarang, kan? Lagipula aku sudah terbiasa sendirian mengerjakan pekerjaanku”, ujarnya.

“Kau yakin?”.

Jennie mengangguk mantap, “sangat yakin. Aku tak ingin merepotkan siapa-siapa disini”, ujarnya lagi mencoba meyakinkan Jaehyun untuk segera pulang saja.

Pria itu kembali menatap Jennie salut, “kau tak takut jika terjadi apa-apa di kantor? Kau sendiri. Sampai jam berapa kau akan pulang?”.

Lagaknya Jennie mulai kembali kikuk, “kurasa tak akan ada yang terjadi di kantor. Aku akan segera menyelesaikan tugasku dan pulang secepatnya. Aku tak ingin mencari perkara dengan Presdir. Aku harus memperbaiki reputasi burukku akan insiden waktu itu”, ucapnya yang tiba-tiba curhat.

Jaehyun tersenyum gemas menatap gadis itu, “baiklah. Aku pulang duluan. Semoga kau bisa segera menyelesaikan tugasmu. Karena istirahat adalah yang paling penting”.

Jennie hanya merespon sedikit semangat yang diberikan pria itu dengan senyum kikuk. Hingga akhirnya Jaehyun mulai melangkah menjauh. Meninggalkan Jennie dengan pekerjaan menumpuknya yang harus segera Ia selesaikan.

Tak menyadari bahwa seseorang baru saja mendapati obrolan kecil mereka dari jauh.

•••

Back To YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang