Gadis bernama lengkap Jennie Kim itu mulai berjalan perlahan ketika sudah memasuki area tempat dimana ruangan Kim Hanbin berada. Lagaknya tampak ragu. Tangannya terlihat gemetar ketika hanya sekedar menggeggam gagang pintu tersebut.
Memberanikan diri, Kim Jennie akhirnya memutar benda itu, berdiri tepat diambang pintu sambil menunggu aba-aba dari sang presdir yang telah mengalihkan pandangan kearahnya itu.
“Kau kembali?”.
Suara serak itu memecah keheningan. Jennie mendesis di dalam hati melihat bagaimana halusnya sindiran pria tersebut.
“Dasar bodoh! Ayolah! Kau yang menyuruhku untuk kembali, kan? Mengapa kau bertingkah seperti ini padaku, sih?”.
Namun pada akhirnya, hanya kata, “maaf”, yang sanggup Jennie utarakan saat itu.
Kim Hanbin menghela nafas, “kau bukan anak kecil yang harus aku intstruksikan untuk masuk. Belajarlah mandiri tanpa harus kusuruh. Kau sendiri yang mengatakan untuk memperbaiki hidup berantakanmu, bukan?”.
Jennie terdiam. Menahan nafasnya ketika Kim Hanbin tiba-tiba membicarakan masa lalunya. Dimana kata-kata itu keluar ketika keduanya resmi mengakhiri hubungan.
Jennie menunduk. Bukan karena merasa bersalah, tapi karena tak tahu apa yang harus Ia rasakan dan lakukan saat ini, “kupikir aku akan selalu salah dimatamu. Aku tak ingin perlakuan kasar yang dulu kembali kudapatkan. Jadi aku bisa menunggu apapun yang kau perintahkan. Paling tidak untuk menghormati karena kau adalah atasanku”, jawabnya.
Jennie nampak memainkan kukunya. Kembali merutuki diri dengan jawaban bodohnya.
“Bodoh! Mengapa kau malah merendah seperti ini padanya? Jennie-ah! Bangun! Harusnya kau sudah melupakan masa itu, kan? Mengapa kau mengungkitnya lagi?”.
Hanbin memandang gadis mungil itu dalam diam. Bokongnya mulai bangkit dari kursi kebesaran yang Ia duduki. Melangkah pelan untuk menghampiri gadis yang masih berdiri di posisi yang sama selama beberapa menit kebelakang.
Jennie melirik pria itu. Dadanya secara tiba-tiba bekerja tidak karuan hanya dengan aksi tak jelas pria itu.
Tak ada lagi yang bisa Ia lakukan selain merutuki diri tentang lemahnya gadis itu dihadapan sang mantan kekasih saat ini.
“Ayolah! Bekerjalah dengan normal! Dia pria brengsek, bodoh!”
Jennie semakin dapat merasakan parfum berbau maskulin yang mulai menyeruak dihidungnya. Posisi pria itu semakin dekat. Dan jantungnya semakin berdetak tidak karuan.
Disaat-saat seperti ini, Ia rasanya ingin mati saja. Ia tak mampu bila harus kembali berhadapan sedekat ini dengan Kim Hanbin.
Hingga beberapa detik kemudian, badan tinggi pria itu sudah berada tepat didepannya. Hanya berjarak beberapa puluh senti dari posisinya berdiri.
Jennie masih menunduk. Demi apapun, Ia benar-benar tak berani untuk menatap Kim Hanbin. Bahkan hanya untuk sekedar mengangkat kepalanya.
“Kembalilah bekerja dan jangan ulangi kesalahan yang sama”.
Jennie menghela nafas. Kembali menggerutu didalam hati.
“Tentu saja Dia akan mengatakan aku bersalah. Jennie-ah, kau pikir apa yang harus kau ekspetasikan dari pria ini. Dia tak akan pernah menganggapmu benar. Dia bahkan tak akan mau mendengarkanmu. Kau sudah sangat mengenal perangainya, kan? Ayolah, jangan terperangkap dengan perasaanmu sendiri seperti ini!”.
“Kau paham apa yang kukatakan? Keluar dan kembalilah bekerja!”, perintah pria itu lagi mengulang kalimat awalnya kepada Kim Jennie.
Jennie masih terdiam. Terus merutuki diri tentang kelemahannya di depan pria itu.
“Apa benar-benar tak ada lagi ruang untukku?”.
Hanbin mengernyit, tak mengerti dengan apa yang dibicarakan Jennie saat ini, “apa yang kau bicarakan? Ruang apa?”.
Jennie lagi-lagi terdiam. Merasa bodoh dengan ucapannya sendiri.
“Tidak. Kau memang tak pernah berubah”, ujarnya pelan seraya berbalik, melangkah menjauhi Kim Hanbin yang masih terpaku. Berusaha menela’ah ucapan gadis itu. Kembali menatapnya dalam diam hingga jasadnya menghilang dari pandangannya.
|||
“Jennie-ssi? Kau akhirnya datang juga”.
Jennie menoleh ketika merasa seseorang baru saja menyebut namanya. Gadis itu menemukan senyum hangat dari seorang gadis berambut ombre yang sempat datang padanya untuk kembali ke kantor.
Jennie tersenyum canggung. Ia sudag merasakan bahwa dirinya tak akan cocok untuk bergaul, atau bahkan hanya untuk sekedar mengobrol dengan gadis bernam tag Son Seungwan itu. Dia nerasa bahwa Jennie tak akan cocok dengan orang-orang yang ramah dan penuh senyum. Mereka pasti mudah patah hati. Dan Jennie menyadari bahwa ucapannya yang pedas bisa saja sewaktu-waktu menyakiti gadis itu.
Berusaha beradaptasi dengan Seungwan, Jennie hanya membalas dengan ragu dan canggung, “Ah, iya. Aku kembali”, ujarnya.
Seungwan tersenyum, semakin melangkah mendekati gadis tersebut, “aku mendengar banyak celotehan dan ujaran jahat dari para karyawan tentangmu. Kuharap kau tak usah mendengarnya, ya. Karyawan disini memang terkadang suka sekali bergosip”.
Jennie kembali mengangguk sembari tersenyum canggung.
“Kau tak perlu mengatakannya. Kalau tak mengingat ini adalah kantor, dan pemimpin utamanya adalah Kim Hanbin, aku tak akan segan-segan untuk memotong mulut-mulut busuk mereka”.
“Ah, terima kasih banyak”.
Gadis itu kembali tersenyum, “apa kau sudah menemui Presdir Kim?”.
Jennie mengangguk, “ya, sudah”.
Seungwan ikut mengangguk paham. Mulai meneliti hal yang kini tengah dikerjakan Jennie Kim.
“Lihat, bagaimana indahnya sketsa gambarmu”, puji gadis itu ketika menemukan hasil sketsa Jennie Kim yang sebenarnya Ia buat karena bosan.
“Ah, tidak. Ini bukan apa-apa”, ujarnya merendah.
Jennie jadi semakin tidak nyaman dengan kehadiran Seungwan saat ini. Jujur, rasanya ini baru pertama kaliny Kim Jennie berbicara dengan lembut dan sopan kepada gadis seumurannya.
Tetap menomorsatukan kenyamanannya, Kim Jennie akhirnya berusaha mengusir rasa segan untuk memprotes kehadiran gadis itu.
“Apa kau bisa pergi dan membiarkanku bekerja? Kurasa aku butuh fokus yang lebih dengan bekerja sendiri disini”.
Seungwan terdiam. Nampak paham dengan permintaan gadis itu.
“Ah, aku benar-benar menganggumu, ya? Maafkan aku. Kau bisa kembali bekerja. Semoga mendapatkan hasil yang baik”, ucapnya menyemangati dan mulai berjalan menjauhi gadis tersebut.
Jennie menghela nafas. Bekerja disini akan menjadi tangangan yang sangat berat untuknya.
|||
Yuhuu, Back To You akhirnya update guyss setelah sekian lama terbengkalai dan gak diuruin, huhu. Cian banger work yang satu ini.
Semoga yang udah lama nunggu ini update gak kecewa sama chapter ini, yaa.
Jangan lupa buat selalu tinggalin jejak, loh.
Thankyou yah udah mampir!!
Uvu❤
KAMU SEDANG MEMBACA
Back To You
RomansMenjalin kisah cinta selama hampir 6 tahun bukanlah waktu yang sebentar. Bukan pula hal yang mudah. Banyak rintangan yang harus dihadapi kedua belah pihak. Sama dengan Kim Jennie. Gadis cantik berumur 25 tahun yang harus melepas Kim Hanbin setelah m...
