Langkah gemetar yang diciptakan Jennie saat ini benar-benar sama sekali tak mendapatkan perhatian apapun dari pria yang kini berjalan beberapa langkah di depannya.
Ia tak henti-hentinya merutuki diri atas apa yang terjadi barusan, “mengapa kau harus membuat masalah ini, Jennie-ah!”
Tiba-tiba langkah Kim Hanbin berhenti di depan sebuah pintu. Jennie yakin bahwa pintu itu akan menjadi jalannya untuk masuk ke ruangan kebesaran milik Presdir tersebut.
Tak ada basa-basi bagi pria itu untuk mengajak Jennie memasuki ruangannya. Sementara Jennie masih tak bisa menghilangkan rasa gemetar yang sedari tadi hinggap di tubuhnya.
Jennie terdiam di tempat. Tak berani melangkahkan kakinya sedikitpun. Padahal hanya butuh 1 atau 2 langkah saja, dan gadis itu sudah berada di dalam ruangan kebesaran milik Kim Hanbin.
“Ingin terus berdiri disitu seperti orang bodoh?”
Jennie bergeming.
Apa katanya? Orang bodoh? Maksudnya adalah Jennie? Oh, tentu saja. Tak ada orang lain disini selain gadis bermata kucing itu yang masih berdiri kaku layaknya seorang pecundang.
Kim Jennie sedikit menyeka keringatnya. Dengan segenap kekuatan yang ada, gadis itu akhirnya berhasil mengangkat kepalanya dengan angkuh layaknya seorang ratu, “aku masih diajarkan oleh orang tuaku sopan santun untuk menunggu penghuni ruangan membiarkanku masuk,”
Lagi, dan lagi. Tatapan dingin itu kembali mendelik ke arahnya. Sebisa mungkin Jennie menahan tatapan mematikan itu dengan cara menatap Hanbin balik dengan tatapan yang sama, “kau cukup dewasa untuk menyadari kesalahanmu dan tak hanya berdiri disana ketika pemimpin perusahaanmu memanggilmu atas apa yang kau lakukan. Posisimu bukanlah sebagai seorang tamu disini,” semburnya dengan nada dingin yang membuat Jennie bungkam seribu kata.
Pria itu berbalik untuk melanjutkan langkahnya. Di saat ini pula, Jennie dengan raut gemetar harus kembali mengikuti langkah pria tersebut.
Badannya semakin kaku saat Hanbin sudah berhasil menduduki kursi kebesarannya. Sementara Jennie masih diam membeku di tempat semula.
Pria itu lagi-lagi melemparkan tatapan mendeliknya ketika mengetahui Jennie yang masih terdiam disana, “perlu kuberi instruksi juga agar kau duduk?”
Jennie menggeleng pelan. Pada akhirnya gadis itu mengambil posisi duduk yang bersebrangan dengan Kim Hanbin.
Tiba-tiba sunyi. Setelah beberapa detik mendudukkan bokongnya di atas kursi tersebut, Hanbin sama sekali tak memberikan sepatah kata apapun, membuat Jennie semakin merasa risih dan tak nyaman. Namun tetap saja, dalam keadaan seperti itu, Jennie tak berani membuka mulutnya.
“Angkat kepalamu,”
Setelah sepersekian detik, suara dingin itu akhirnya memecah keheningan yang canggung ini.
Demi apapun, jantung Jennie berdetak tidak karuan hanya dengan 2 untaian kata yang Hanbin lontarkan untuknya. Gadis itu memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya.
Sial. Tatapan tajam yang diberikan Hanbin padanya membuat matanya semakin panas. Jennie tak bisa untuk tidak menelan salivanya saat harus dihadapkan dengan mata mengerikan itu setelah beberapa tahun.
“Kau serius untuk bekerja disini, kan?”
Jennie sekali lagi menelan salivanya. Sial. Pertanyaan yang harusnya bisa dijawab dengan ‘Ya’ atau ‘Tidak’ itu malah terasa sangat sulit karena mata Hanbin yang terus-terusan mengawasinya.
“Ya, sangat serius,” jawabnya mantap.
Tatapan mematikan dari Hanbin membuat Jennie kembali berpeluh dingin. Serius, Ia harus mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Suara dingin itu kembali bergema di telinganya, “Lalu, apa yang mendasarimu mendorong asisten perusahaan ini?”
Jennie menghela nafas. Ia sudah tahu kalau topik inilah yang akan dibahas oleh dirinya dengan sang Presdir. Apalagi memangnya?
Wanita dengan sanggul acak-acakan itu sedikit mengetuk-ngetuk meja milik Kim Hanbin dengan jarinya. Aura yang dipancarkannya kali ini terlihat sangat berbeda, “Aku percaya diri dengan apa yang aku lakukan. Aku benci orang-orang yang suka merendahkan dan meremehkan orang lain,” jawabnya tegas. Jennie akan berubah menjadi sangat ambisius jika soal pembelaan diri. Karena jika Dia merasa dirinya benar, maka akan Ia pertahankan hal itu. Harga diri adalah yang paling penting.
Hanbin terdiam sebentar. Terlihat berpikir atas jawaban Jennie barusan. Tak lama pria itu akhirnya berujar, “dan kau tak memilik jabatan apapun disini. Umurmu bahkan masih belum 24 jam,” sergahnya lagi.
Wanita itu kembali nampak menegaskan setiap perkataannya, “Aku tak peduli apa jabatanku disini. Bahkan jika kau memberikanku pekerjaan untuk menjadi pembersih perusahaan ini, pun tak masalah. Tapi ini soal harga diri. Asistenmu itu meremehkanku di depan semua orang,” semburnya.
Mata sipit milik Kim Hanbin itu lagi-lagi tampak mengawasinya, “tapi seharusnya kau memiliki rasa malu. Yongsun itu adalah seniormu,”
Jennie menggelengkan kepalanya mendengar sergahan baru yang Hanbin berikan untuknya. Gadis itu mengeratkan pegangannya ke meja kebesaran milik Kim Hanbin, “Siapapun mereka. Aku tak suka diremehkan. Dengan menjadi senior, seharusnya Ia menasihatiku dengan cara baik. Bukan dengan menyindirku secara terang-terangan di depan semua orang. Seharusnya kau ajarkan asistenmu itu caranya bersikap dewasa,” sergahan bertubi-tubi terus datang dari Jennie untuk membela dirinya. Hanbin kalah telak. Ia tak tau lagi ucapan apa yang harus Ia katakan agar perempuan dihadapannya ini menyerah.
Gadis itu kembali berujar, “ingin menyalahkanku lagi? Atau berikan aku sesuatu yang bisa aku kerjakan disini. Akan kubuktikan padamu bahwa Yongsun itu tak lebih baik daripada aku,”
Hanbin menghela nafas, “Pulanglah,”
Jennie menautkan kedua alisnya, “Apa-apaan ini? Pulang katamu?”
Hanbin tak menjawab. Jennie berusaha menahan amarahnya. Ia tetap harus bersikap selayaknya seorang karyawan di hadapan Presdirnya. Namun benar-benar, “biarkan aku mengambil kesimpulan,”
Jennie menjeda perkataannya, “Kau mau memecatku hanya karena aku mendorong asistenmu itu?” lanjutnya diiringi tawa sumbang.
Gadis itu mulai beranjak dari kursi duduknya, “Tak perlu bertele-bertele dengan menyuruhku pulang. Aku akan dengan senang hati meninggalkan perusahaan ini bahkan di hari pertama bekerjaku!”
Hanbin masih tak tertarik untuk menjawab. Netranya hanya sibuk memandangi Jennie yang kini terlihat benar-benar emosi sambil berpeluhkan keringat.
Jennie mulai berbalik menuju pintu keluar ruangan Kim Hanbin. Dengan langkah pelan. Menunggu suara dingin itu untuk menghentikan langkahnya. Tetapi ekspetasi hanyalah tinggal ekspetasi. Bahkan di langkah terakhir gadis itu, Kim Hanbin tetap tak mengeluarkan sepatah kata apapun.
Benar-benar. Hanbin sudah memecatnya. Secara tersirat.
Gadis itu berhenti sejenak ketika tangannya sudah menggegam gagang pintu. Namun tetap saja, tak ada suara apapun yang terdengar. Hingga Ia berhasil keluar dari ruangan itu, Hanbin tetap juga tak mengejarnya.
Benar. Dia sudah di pecat.
|||
jangan lupa tinggalin jejak, yaa.
Uvu❤
KAMU SEDANG MEMBACA
Back To You
RomanceMenjalin kisah cinta selama hampir 6 tahun bukanlah waktu yang sebentar. Bukan pula hal yang mudah. Banyak rintangan yang harus dihadapi kedua belah pihak. Sama dengan Kim Jennie. Gadis cantik berumur 25 tahun yang harus melepas Kim Hanbin setelah m...
