Terik mentari pagi nampak mulai samar-samar memasuki kamar Kim Jennie. Gadis itu mulai mencoba membuka matanya yang masih sangat sayu akibat terlalu kelelehan. Mengingat Kim Hanbin kejam yang seenaknya memberikan dirinya tugas deadline.
Gadis itu mulai mencoba bangkit. Melirik jam yang tertempel didinding. Sudah pukul 9 pagi. Ia tak ingin merutuki diri karena sudah bangun sesiang ini. Karena hal lumrah jika seseorang bisa bangun kesiangan akibat pekerjaan yang menumpuk.
Kim Jennie mulai berjalan menuju kamar mandi. Membasuk wajahnya agar dapat membantu membuka matanya secara sempurna.
Kini langkah berbalik menuju meja kerja yang masih belum berubah dari tadi dini hari.
Gadis itu cepat-cepat menyusun laporan tugasnya agar dapat Ia berikan kepada Kim Hanbin segera.
Tak ingin mempersulit diri dengan mengganti baju terlebih dahulu. Gadis itu langsung keluar dengan pakaian rumahannya untuk menghadap Kim Hanbin. Siapa peduli jika Ia tak mengganti baju dipagi hari. Ia bisa melakukannya nanti. Yang terpenting tugasnya sudah berada ditangan Kim Hanbin.
Gadis itu mulai keluar. Menatap pintu Kim Hanbin yang masih tertutup. Apa ada kemungkinan jika pria itu masih tidur?
Jennie mulai mengetuk pintu. Sampai beberapa saat kemudian pintu itu terbuka. Menampilkan Kim Hanbin dengan balutan baju rumahan yang persis sepertinya tengah berdiri disana dengan sang mata elang yang selalu ingin Ia hindari.
"Maaf, karena mengumpulkan tugasnya tidak sesuai jadwal", ujarnya sedikit ciut namun dengan menekuk leher sambil menyerahkan hasil pekerjaannya itu kepada Kim Hanbin.
Pria itu meraih tugas tersebut sedikit paksa. Mulai meneliti isinya. Menatap Kim Jennie yang terus-terusan mencuri lirikan padanya.
Tak berkata apapun, sebuah pukulan dari tugas Kim Jennie yang mengenai kepalanya menyapa. Siapa lagi yang melakukan hal itu kalau bukan Kim Hanbin?
"Bagaiamana kau sanggup mengirimkan pekerjaanmu lewat batas yang kuberikan?", ujarnya memarahi.
Suara dingin pria itu lagi-lagi membuat nyalinya menciut. Walau Ia harus meringis karena Kim Hanbin yang baru saja memukul kepalanya dengan tumpukan kertas menyerupai buku itu.
Gadis itu mulai mencicit, "aku... terlalu lelah semalam. Kau tak memberiku istirahat yang cukup. Dan kupikir juga kau telah tidur semalam", jawabnya pelan masih sambil menunduk.
Hanbin hanya menghela nafas sambil menatap tak percaya gadis didepannya ini, "kau pikir aku akan meninggalkan jadwal ketika aku sendiri yang memberimu jadwal? Aku sudah lama menunggumu. Tapi kau tak datang".
Gadis itu terdiam. Mencoba menahan nafasnya sedikit ketika kalimat omelan pria itu terucap.
"Apa Dia bilang? Jadi semalam dirinya menungguku?".
Gadis itu mulai mengangkat kepala. Menatap Kim Hanbin yang masih belum merubah posisinya. Namun cepat-cepat Ia palingkan karena dirinya yang masih tak mampu jika dihadapkan dengan mata elang Kim Hanbin itu.
"Apa... aku kembali membuat kesalahan?", cicitnya pelan.
Kembali terdengar helaan nafas dari pria itu, "tidak. Untuk kali ini akan aku maafkan", ujarnya.
"Cepat kemasi barangmu. Kita akan kembali ke kantor sore ini".
Jennie hanya menangguk ketika menemukan Kim Hanbin yang sudah mulai masuk.
Cepat-cepat gadis itu menahannya dengan menarik lengannya, "tunggu".
Hanbin terdiam. Menatap tangan Jennie yang saat ini tengah mencengkram tangannya sambil juga menatap gadis itu secara bergantian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Back To You
RomantizmMenjalin kisah cinta selama hampir 6 tahun bukanlah waktu yang sebentar. Bukan pula hal yang mudah. Banyak rintangan yang harus dihadapi kedua belah pihak. Sama dengan Kim Jennie. Gadis cantik berumur 25 tahun yang harus melepas Kim Hanbin setelah m...
