Kedua mata gadis itu tak berhenti memperhatikan setiap gerakan pria yang nampak sibuk mondar-mandir dengan ponsel di telinga kirinya, sedang nada bicaranya nampak sangat kesal.
Benar, Shavira sedang berada di kantor Bryan. Ah, lebih tepatnya di dalam ruangan milik pria itu, setelah acara berpelukan di taman, pria itu mengajak Shavira ikut ke kantornya dengan alasan 'aku ada meeting penting hari ini' dan nyatanya setelah berjam-jam Shavira disini, pria itu sama sekali tidak pergi 'Meeting' ke manapun.
Sejak tadi Shavira terus mengumpat kesal, karena dirinya mau-mau saja di tipu oleh pria menyebalkan ini.
"Pokoknya aku tidak ingin tahu, kau urus saja semuanya!"
Shavira hanya mendengus, mencoba tidak peduli dengan apa yang pria itu bicarakan di telepon, demi tuhan yang ingin ia lakukan sekarang adalah, melempar kepala pria itu dengan lensa kamera miliknya.
Shavira baru tahu jika Bryan itu tipe orang yang menyebalkan sekali.
Bryan nampak memutuskan sambungan telponnya, kemudian menatap ke arah shavira yang sedang berbaring di atas sofa sembari memainkan lensa kamera miliknya, Bryan tahu gadis itu sedang sangat bosan sekarang.
Menghembuskan nafas, kemudian Bryan beranjak mendekati sosok gadis yang masih saja berbaring dengan malas.
"Kau bosan?"tanya Bryan yang kini telah berjongkok di depan sofa tempat Shavira berbaring.
"Menurutmu?"sahut Shavira.
"Ingin pergi ke suatu tempat?"
Shavira hanya berdecak, "Kau tahu apa yang ku inginkan sekarang?"sungut Shavira.
Bryan nampak menaikan sebelah alisnya, menunggu gadis itu melanjutkan ucapannya.
"AKU INGIN SEKALI MEMUKUL KEPALA MU DENGAN LENSA INI!"teriaknya, lalu dengan cepat gadis itu bangkit dari posisinya.
Dan BLAM!
Gadis itu keluar dan membanting pintu ruangannya dengan kencang, Bryan memejamkan matanya sebentar, benar. Harusnya ia tidak mengabaikan kehadiran Shavira yang sudah susah payah setuju untuk di bawa kemari.
Dan selanjutnya, Bryan berjalan menyusul Shavira.
***
Dalam hidup Shavira, ini pertama kalinya ia merasa jika dirinya sangat cengeng, entah kenapa rasanya ia ingin menangis sekarang, mengingat hampir tiga jam Bryan mengabaikan dirinya.
Shavira menatap pantulan dirinya di dinding lift yang memantulkan dirinya, kemudian tanpa sadar airmatanya sudah terjatuh, gadis itu terisak pelan di dalam lift.
Dirinya tidak tahu kenapa dirinya ingin menangis hanya karena Bryan mengabaikannya?
Lagipula memangnya apa hubungannya dengan pria itu? Kenapa ia bersikap seperti seorang kekasih yang di abaikan?
Shavira menggelengkan kepalanya, sadarlah Shavira, apa yg kau tangisi dari pria brengsek itu?
Bryan sama saja dengan pria yang lain, sama-sama suka membuatnya terbang melambung tinggi dan kemudian menghempaskannya ke atmosfer bumi paling bawah.
Seharusnya ia tidak percaya begitu saja dengan ucapan rindu Bryan, seharusnya ia tidak berfikiran macam-macam ketika pria itu pulang di tengah-tengah meetingnya di jepang.
Seharusnya mereka tidak pernah saling bertemu...
Ya, seharusnya memang begitu.
"Shavira!"
Shavira terus berjalan, enggan menyahut ataupun menoleh kepada suara pria yang terus memanggil namanya, Shavira benci di abaikan, Shavira benci menunggu, dan Shavira benci Bryan Kaslavo.
"Shavira! Toling jangan bertingkah kekanakan seperti ini!"ujar Bryan yang berhasil mencekal pergelangan tangan Shavira.
Shavira mencoba melepaskan dirinya dari cekalan tangan Bryan, demi tuhan! Ia benci menjadi sorotan banyak orang. Dan sekarang seluruh pekerja di kantor ini sedang menatap dirinya yang seolah sedang marah kepada kekasihnya.
Shavira tertawa, tepatnya tertawa miris ketika Bryan mengatainya kekanak-kanakan. Yang benar saja. Sebenarnya siapa yang kekanak-kanakan disini?
"KALAU BEGITU LEPASKAN AKU! AKU TIDAK MAU LAGI BERTINGKAH KEKANAK-KANAKAN LAGI DISINI!"teriak Shavira yabg membuat Bryan masih enggan melepaskan cekalannya.
Lalu dalam sekali sentakan, Bryan telah membawa Shavira ke pelukannya. Bryan benar-benar merasa bersalah dengan ucapannya barusan, dan membuat Shavira marah kepadanya.
"Lepaskan aku Bryan! Lepaskan aku!"ucapnya sembari memukuli dada bidang Bryan bertubi-tubi.
Shavira tidak suka dengan kenyataan jika Bryan selalu bisa meluluhkan hatinya, selalu bisa mengalihkan dunianya dan selalu membuatnya nyaman...
"Aku minta maaf! Kau tahu? Aku terlalu merindukanmu hingga rasanya tidak ingin berpisah denganmu walau sedetik saja..."
"Shavira..."sahut Bryan lagi, ketika merasakan pukulan Shavira telah berhenti.
"Bryan! Oh ya tuhan, akhirnya aku menemukanmu!"
Teriakan itu berhasil menyadarkan Shavira dari lamunannya barusan, dari ucapan Bryan yang menggetarkan hati, Shavira lantas melepaskan pelukannya dan dapat melihat jika Bryan tampak menegang menatap wanita anggun yang berdiri di depan pintu masuk kantornya.
"Aku merindukanmu..."ucap gadis itu.
Dan itu cukup membuat Shavira sadar, jika ia seharusnya tidak berada di antara mereka, iya seharusnya memang begitu. Namun yang terjadi adalah ia tetap berdiri disana dengan ribuan pisau yang menancap di ulu hatinya.
Shavira masih disana, menyaksikan bagaimana wanita anggun itu memeluk Bryan dengan erat dan Bryan yang membalas pelukan wanita itu dengan sama eratnya.
"Aku juga--merindukanmu Shamanta..."
Dan entah memgapa Shavira benar-benar kembali merasakan ribuan pisau itu menusuknya dan mengoyak hati dan jantungnya, ia sakit karena hal yang ia sendiri tidak tahu.
Mungkinkah, ia jatuh cinta?
KAMU SEDANG MEMBACA
Mr. Possessive With Me [Completed✔]
RomanceShavira Greyson, wanita ceria dan memiliki sifat mudah beradaptasi. Tiba-tiba terjebak ke dalam kehidupan seorang Bryan Kaslavo. Pria angkuh yang tiba-tiba muncul dan membawanya terjebak lebih dalam ke kehidupannya yang rumit dan gelap. Memasuki keh...
![Mr. Possessive With Me [Completed✔]](https://img.wattpad.com/cover/141309314-64-k703858.jpg)