"Kenapa kau mengabaikanku?"
Sorot matanya tampak nyalang dengan kilatan amarah, rahangnya pun mengeras disertai gigi yang saling mengerat. Rena melihatnya.
Jungkook pasti telah menahannya terlalu lama.
Namun, tidak, tidak. Ini bukan sesuatu yang cocok untuk disatukan begitu saja setelah beberapa hari berlalu dengan menyakitkan. Menerima amarah Jungkook saat ini bukanlah hal terbaik yang bisa diterima begitu saja. Setelah ia ditarik untuk menuju bibir pantai, sinar rembulan kiranya cukup untuk menunjukkan segelap apa emosi Jeon Jungkook padanya. Namun, kenapa?
"Kau mengabaikanku! Apa kau semarah itu padaku?!" Nadanya bahkan kian meninggi disertai geraman di akhir.
Rena hanya menatapnya, mengamati paras tampan milik pemuda yang berada di depannya saat ini. Akankah esok hari aku kembali mendapatkan ini? Akankah aku mengingatnya?
Sepersekon kemudian, ia mengulas senyum teduhnya. Beberapa kali menggeleng seraya menatap teduh, suaranya bahkan melembut kelewat hangat saat ia membalas, "Aku tidak mengabaikanmu, Jung."
Mendengar itu, Jungkook tergelak. Merasakan amarah yang meradang dan nyaris mencapai daratan di kepalanya. Seolah-olah Rena baru saja mengisi bubuk mesiu untuk melecutkan gelegar amarahnya agar mengudara. Namun tak lama, ia mengulas senyumnya, terkesan mengejek.
Melihat Joan Rena yang tetap tenang dan malah terlihat menatapnya sendu justru semakin membuatnya kesal setengah mati.
"Omong kosong!"
Kuharap begitu.
"Rena, semua orang bahkan tahu jika kau menghindariku. Dan kau ingin tahu di titik mana kau berhasil memperburuk semuanya?"
Rena tidak ingin mendengarnya. Tolong!
"Saat kau bersama Kim Taehyung."
Senyum Rena luntur begitu saja, ia bahkan dapat merasakan remasan kuat di dalam sana. Keterkejutan, kekecewaan, kekesalan, dan amarah. Kenapa hanya emosi itu yang selalu mendatanginya?
"Jung, ku-kupikir ini terlalu dingin. Bisakah kita kembali—" Rena baru saja hendak menarik langkah seraya memeluk dirinya untuk kembali. Namun, Jungkook lebih dulu menariknya dengan kasar. Sontak saja gadis itu meringis kesakitan manakala cengkeraman Jungkook yang menguat di lengannya bukan main kasarnya.
"Jung, a-aku tidak ingin bertengkar denganmu saat ini." Suaranya bahkan bergetar menahan ketakutan di dalam sana. Bukan lagi takut, rasa-rasanya gadis itu bahkan akan meloloskan tangisnya begitu saja jika ucapan Jungkook nantinya berhasil memukul telak pertahanannya.
"Jika kita tidak bertengkar sekarang, kita tidak pernah tahu hasil mana yang menjadi akhir nantinya." Jungkook menarik gadis itu padanya, mengkikis jarak dengan kedua iris yang nyalang.
Sial!
"Berhenti memasang topengmu dan mari selesaikan semua ini di sini!"
Mendengar itu, Rena lekas memaksa lepas dan menarik langkah mundur, menciptakan jarak dengan deruan napas yang mengudara. Kedua irisnya tak lantas menatap marah, merasakan rasa panas yang perlahan membakar di dalam sana.
Tidak. Seharusnya dia tidak boleh begitu.
"Benarkah?"
"Berhenti memainkan sandiwaramu, Rena!" ujar Jungkook dengan nada yang perlahan meluruh. Rena sontak melengos begitu saja manakala netra Jungkook menghantamnya dengan tatapan sendu miliknya.
Sandiwara apa? Yang mana?
"Kenapa kau menghindariku? Kau sengaja? Kenapa justru Kim Taehyung yang menjadi pilihanmu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
LOST
Fanfiction[COMPLETED] [SUDAH DIBUKUKAN] AWAS! BACA INI BISA BUAT FLU DADAKAN SAMPE SESAK NAPAS! Jeon Jungkook. Dia datang lagi. Si Keparat yang suka mengejeknya. Si Keparat yang suka memukulnya. Si Keparat yang suka mencuri ciumannya. Bocah itu datang lagi. D...
