Chapter 28

3.2K 487 144
                                        

Perihal mencintai Jungkook, Rena tidak pernah tahu bagaimana cara mengatakan semuanya—mencoba menjelaskan tiap bagian yang akan memicu gelenyar aneh yang menghangat, atau sekadar debaran kuat-kuat dengan wajah memanas. Tidak ada definisi yang pas dalam hal itu. Ia mencintai Jungkook sebagai seorang laki-laki, pun ia mencintai pemuda itu sebagai teman, sahabat, sekaligus saudaranya. Hidup bersama hingga nyaris sebelas tahun terakhir ini membuatnya mengerti akan banyak hal tentang pemuda itu, bisa dibilang bahwa ia yang paling tahu dibandingkan Jungkook sendiri.

Ia mengerti akan segala hal perihal Jeon Jungkook, pun bagaimana Jungkook kepada orang lain. Namun, ia tidak pernah tahu bagaimana Jungkook kepada dirinya, sungguh, ia benar-benar tidak tahu. Maka, tatkala hati baru saja memutuskan untuk terbuka—membiarkan yang lain mengisi di dalamnya setelah bersama-sama mengikat, Rena adalah satu dari sekian gadis yang terluka, paling terluka manakala Jungkook bersama gadis lain selain dirinya. Seolah ada yang hilang, sebagian dari dirinya terasa berbeda tiap kali menemukan senyum tulus yang berubah menjadi seringai. Jeon Jungkook terasa asing.

Saat Kim Hyejin datang kembali di tengah mekarnya cerita cinta mereka berdua, bohong jika Rena tidak merasa sakit. Rena jelas tahu bagaimana perasaan Jungkook kepada gadis itu sebelumnya, manalagi tatkala menyadari kisah mereka yang baru dimulai—rasanya bisa saja hancur dalam satu rayuan yang dilontarkan Hyejin kepada Jungkook nantinya. Sungguh, bukannya tidak percaya, namun ketika seseorang dari masa lalu itu datang di antara suatu hubungan, entah karena sekadar dibicarakan maupun diingat, perasaan takut nan cemburu itu pasti ada.

Mungkin dengan berkata seperti "Tidak. Dia milikku sekarang." bisa membuat perasaan sedikit lebih tenang, namun nyatanya itu tak berlaku pada waktu yang lama.Ketakutan memang ada, namun cemburu yang kerap menjadi dominan.

Tak peduli kepercayaan yang dibangun begitu kokoh, ikatan janji yang diingat sedemikian rupa, atau kata-kata manis yang dilontarkan sebagai penenang—nyatanya status bukanlah sebuah halangan bagi siapa pun yang ingin menghancurkan hubungan yang lain.

Tak mengelak, bayang-bayang kekhawatiran pasti pernah muncul di dalam kepala, membuat gelisah setengah mati tatkala diingat, rasa marah entah karena apa, juga rasa panas yang memenuhi dada. Nyatanya, hampir semua orang pernah berpikir—mencoba menelaah diri sendiri dan mulai membandingkan diri dengan yang lain.

"Apa dia bahagia bersamaku?"

"Kendati telah denganku, apa dia pernah mengingat atau bahkan memikirkan masa lalunya?"

"Apa aku sudah sebaik masa lalunya? Ataukah aku sudah lebih baik dan mengerti dirinya daripada mantan kekasihnya?"

"Apa dia merindukan masa lalunya ketika ia mulai marah dan kesal padaku?"

Rena tidak berbohong, tapi itulah yang memang terjadi. Perihal kepercayaan, ia percaya pada kekasihnya. Namun rasanya tetap saja, pikiran semacam itu selalu memenuhi kepala. Manalagi ketika mengingat bahwa hubungan mereka baru saja dimulai, juga mengingat hubungan yang dijalin sebelumnya, rasanya jauh berbeda—membuat kesan asing yang menyenangkan.

Kali ini, ia mendadak merasa gelisah setengah mati.

Maka, Rena tidak lagi diam setelah lima menit berlalu. Gadis itu lekas bangkit dari duduknya, mengabaikan panggilan dari yang lainnya untuk menyusul kekasihnya. Tatkala pintu baru saja dibuka, bersamaan dengan itu Jungkook pun baru saja hendak ingin masuk, sehingga membuat mereka nyaris menabrak sebelum kemudian Jungkook menahan kedua bahu Rena dengan tangannya. Gadis itu terlihat tengah mencari-cari keberadaan Hyejin, sehingga membuat Jungkook yang paham lekas melepaskan pegangannya dan memilih mengacak surai Rena.

Gadis itu pun menelan saliva kaku, lekas menghela napas panjang sebelum kemudian mengulas senyumnya. Perginya Hyejin tidak bisa membawa ketakutannya turut pergi.

LOST Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang