Chapter Twenty🌛

3.6K 120 4
                                        

Salah nya aku terlalu menumpuk harapan pada orang yang jelas-jelas tidak mengarapkanku.
-Kinaya Putri-

Malam ini Naya sedang berada di kamarnya, diatas kasurnya. Ia menatap langit-langit kamarnya sembari pikirannya jauh menerawang kemana-mana.

Hari ini sangat melelahkan. Ulah Shelly, perlakuan Al, dan kegiatan-kegiatan yang menguras tenaga.

Naya kembali dengan sikap Shelly kepadanya. Sebenci itukah Shelly kepadanya? Sesalah itukah Naya dimata Shelly? Dan sebegitu inginnya Shelly melenyapkan Naya? Naya bingung apa yang ada dipikiran wanita itu. Naya tak tau apa salahnya. Mengambil Al? Naya rasa itu bukan suatu kesalahan, Al bukan pacar Shelly dan mereka tidak terikat hubungan apapun. Jadi, Shelly tidak mempunyai hak apa-apa untuk membenci orang lain yang mengambil apa yang bukan mikiknya.

Satu sisi lagi ia teringat dengan perlakuan Al akhir-akhir ini kepada nya. Apakah Naya menjadi penting dikehidupan Al sekarang ini? Apakah Al sudah menyukai Naya? Apakah Al mau menerima Naya? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul seiring dengan sikap Al kepada Naya. Perlakuan Al ketika camping seperti menunjukkan bahwa Al tidak ingin kehilangan Naya, tapi kenapa Al tidak mau mengakui itu? Naya bingung dengan situasi seperti ini.

Namun perlu kalian ingat. Rasa suka Naya, Rasa cinta Naya, tidak pernah berubah terhadap Al. Ia masih mengharapkan Al menjadi miliknya, dan ia berharap dapat mencairkan hati pangeran es-nya.

Memikirkan tentang Al membuat ia teringat sesuatu. Kado! Ya. Kado untuk Al karna selama ini selalu membantu Naya. Naya pun bangun dari tidurnya dan membawa kado itu dari atas meja belajarnya.

Naya memandangi kado itu lalu tersenyum, ia membayangkan bagaimana reaksi Al nanti. Ah! Naya ingin cepat-cepat besok untuk memberikannya kepada Al. Naya lalu menyimpan kotak yang tidak terlalu besar itu kedalam tasnya.

Untung aja muat. Batin Naya

Setelah itu Naya langsung keluar dari kamarnya karna cacing-cacing diperutnya yang sudah demo.

*****

Bel pulang berbunyi, Naya langsung bergegas keluar dari kursinya dengan terburu-buru. Takut jika Al pulang lebih dulu.

"Ngapa ni bocah?" tanya Nana heran.

"Iya ngapa lo Nay?" Via juga sama herannya.

Sekarang mereka sedang berjalan dikoridor bertiga karena Cindy dan Mira sudah pulang lebih dulu.

"Kepo, kepo! Udah sana-sana pulang!" usir Naya.

Nana dan Via berdecak sebal, mereka pun pergi meninggalkan Naya.

"Vi, gue pulang duluan ya? Udah dijemput." ucap Nana.

"Iyasok." jawab Via.

Naya berlari kecil, suasana di sekolah sudah mulai sepi karna orang-orang sudah pulang. Naya melihat Al dengan Shelly, ia pun menghampiri mereka. Posisi Al dan Shelly sedang berdiri dipinggir lapangan basket dan berhadapan dan Naya berada di belakang Al dengan membawa kado untuk Al.

"Lo kok gitu sama gue sih Al?!" ucap Shelly, dan sudah pasti terdengar oleh Naya.

"Lo bukan siapa-siapa gue! Stop ngejar-ngejar gue! Gue ga suka sama lo!" Al berkata kepada Shelly dengan emosi yang menggebu-gebu.

"Gue gamau!"

"Dasar tolol!" Wajah Al sudah memerah.

Naya lalu meraih tangan Al dari belakang, Al membalikan tubuhnya mengahadap Naya, tanpa Naya duga, Al menepis tangan Naya kasar.

"Dan lo! Udah beberapa kali gue bilang? Berhenti ngejar-ngejar gue! Gue ga suka sama lo! Lo harus tau itu!" Al sekarang marah dan membentak Naya.

Naya kaget, belum pernah ia dibentak seperti itu oleh Al. Tanpa terasa air mata nya mulai membasahi pipinya.

"Al." ucap Naya pelan.

"LO ITU KAYAK CEWEK MURAHAN! GA PUNYA HARGA DIRI! GAPUNYA OTAK!" Al kembali meninggikan suaranya.

Jleb.

Ucapan Al yang seperti itu merupakan hantaman keras untuk Naya. Ia tidak menyangka Al akan mengucapkan kata seperti itu, bahkan orang tua atau kakaknya pun sama sekali tidak pernah berkata sekasar itu, orang-orang yang selama ini ia kenal pun tidak pernah berbicara seperti itu.

Air mata Naya turun begitu deras, ia sangat sakit hati dengan perkataan Al. Shelly yang melihat kejadian ini hanya tersenyum miring, Ini yang dia  tunggu-tunggu.

Naya menjatuhkan kadonya, kemudian berlari meninggalkan mereka berdua. Naya berlari, ia tidak tahu mau kemana, yang dia rasa hatinya sekarang sangat-sangat kecewa, sakit hati. Bahkan Naya meninggalkan Rehan yang menunggunya di parkiran.

Rehan, si kembar, dan Via datang menemui Al. Shelly yang melihat kedatangan mereka langsung pergi meninggalkan Al sendirian.

Bugh.

Satu tonjokkan mendarat di pipi Al. Rehan menonjok Al dengan wajah yang nemerah.

"Lo goblok! Lo gapunya hati! Lo ga mikirin perasaan adek gue!" Rehan sangat marah.

"Lo gatau gimana rasanya jadi adek gue! Bahkan lo gapernah ngehargain adek gue! Gue kecewa sama lo Al! Setelah semuanya yang Naya lakuin ke lo, lo hanya bilang kalo Naya CEWEK MURAHAN? iya?" Rehan menekankan kata-kata Cewek murahan.

"Hati cewek lemah coy! Mudah rapuh! Dibentak sedikit aja dia nangis, apalagi sampe lo ngomong kayak gitu." mereka yang ada disitu baru kali ini melihat kemarahan Rehan, sangat ngeri.

"Udah han." Via menenangkan dengan menggenggam tangan Rehan.

"Lo cowok brengsek yang gue kenal." ucap Rehan mengakhiri.

Bugh.

Satu tonjokkan dari Rehan kembali mendarat dipipi Al. Mereka berempat pun pergi meninggalkan Al yang hanya diam tak berbicara sepatah kata pun.

Al membungkuk, mengambil kado tersebut dan memasukan nya kedalam tasnya.

Hari beranjak sore, Naya masih terdiam di pinggir jalan dengan air mata yang masih mengalir, ia tidak tau harus pulang bagaimana, meminta jemput Rehan? Hp nya lowbat dan mati sejak tadi. Sekak tadi muncul pertanyaan-pertanyaan didalam pikirannya, Apa bener gue cewek murahan? Apa bener gue ga punya harga diri? Gapunya otak? Pertanyaan itu yang memenuhi pikiran Naya, dan perkataan Al yang selalu membekas dihatinya.

Langit tampak mendung, Rehan mengotak-atik hp nya berkali-kali, menghubungi Naya. Mengirim sms, menelfonnya, dan sama sekali tidak ada jawaban dari Naya. Mama nya tidak ada dirumah, ia sedang ada urusan dengan temannya, sedangkan papanya belum pulang dari luar kota. Rehan bimbang, cemas, panik, menghubungi teman-teman Naya sudah, namun jawabannya sama saja. Mereka tidak tahu dimana Naya.

Rehan ingin mencari keluar, tapi ia tidak tahu Naya ada dimana, bagaimana ia mencari Naya jika tidak tahu dimana gadis itu sekarang.

Hujan turun begitu deras, membasahi gadis yang sedang duduk dipinggir jalan tersebut. Naya mulai kedinginan, ia bangun dari duduknya dan menuju halte bus yang ada di seberangnya untuk berteduh. Naya pun melangkahkan kaki nya menyeberang jalan.

Brakkk.

*****
Maap typo bertebaran dimana-mana ehehe.

Hae gaes, Maapin ya kayanya Author seminggu ini pasti jarang post, soalnya mau ulangan Penilaian Akhir semester, do'ain semoga lancar ya hihii🐇

Ig; shylvanaars

MALVARMA [TAHAP REVISI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang