Naya melemparkan tas nya ke sembarang arah, lalu menghempaskan dirinya ke kasur.
Sungguh hari yang membingungkan. Batin Naya
Disatu sisi ia merasa bahagia karna sekarang Al selalu memperhatikannya dan selalu memberinya semangat, tapi disis lain Naya nerasa tertekan dengan keadaan keluarganya sekarang. Ia tidak tahu harus berbuat apa sekarang.
Jika saja tadi ia tidak langsung pulang ke rumah, mungkin ia tidak akan tahu fakta menyakitkan ini. Tapi jika ia tidak pulang, akankah keburukan papa nya terus tertutupi? Hari ini hari yang bahagia sekaligus hari yang suram bagi Naya.
Tanpa terasa cairan bening menetes dari kelopak matanya.
Kenapa papa nya setega itu? Kenapa papa nya sejahat itu? Kenapa papa nya harus melakukan semua itu? Kenapa papa nya harus bersama wanita lain? Kenapa papa nya tidak pernah memikirkan hati Naya, Rehan dan Mamanya? Kenapa harus keluarga nya yang harus menerima cobaan seperti ini? Kenapa?
Pikiran itu selalu saja terngiang di kepala Naya.
Naya tidak tahan dengan tangisannya, ia keluarkan semua yang mengganjal dihatinya, ia kesal, marah, kecewa, semuanya bercampur.
Naya yakin itu bukan papa nya, itu bukan sosok papa yang Naya kenal. Papa Naya tidak mungkin melakukan semua itu! Tapi mau menyangkal bagaimana pun, itu semua memang benar. Sangat sulit untuk dipercaya memang.
Setelah lelah menangis, Naya mengambil handuk yang tergantung di kapstok kamarnya kemudian pergi mandi untuk sedikit menyegarkan pikirannya.
*****
Naya sudah selesai mandi, sekarang ia sedang duduk di kursi meja belajarnya, memandangi foto nya ketika kecil bersama kakak dan orang tuanya. Ia rindu masa-masa itu, masa dimana ia hanya menangis karna terjatuh ketika bermain, bukan menangis karna terlalu lelah menghadapi kenyataan dan kehidupan.
Tiba-tiba ponselnya yang berada diatas kasur berbunyi, Naya pun segera mengambilnya kemudian tiduran di atas kasurnya.
Ketika ia membuka ponselnya, nampak nama Al di layar kaca nya, Al memvidio call nya, Naya pun mengangkatnya.
"Malem." ucap Al dari seberang telfon.
"Malem jugaa."
"Itu matanya kenapa, sembab, jangan nangis terus."
"Ih ngga! Ngga sembab kok!"
"Pinter ngeles." Al berdecak sebal.
"Ish nyebelin!"
"Udah makan?"
"Belum." Naya jujur, karena ia memang belum makan sama sekali. Tiba-tiba perut nya berbunyi.
Kruwukkk
"Kenapa ga makan?"
Naya menarik nafas nya kemudian membuangnya kasar.
"Males, ga mood."
"Gue ke rumah ya?"
"Eh ngapain?" Naya kaget.
"Tunggu aja pokonya!" Al mematikan telefon nya secara sepihak membuat Naya mendengus sebal.
Naya lalu bangun dari tempat tidurnya, kemudian berdiri didepan cermin.
Ia berkaca, takut jika Al benar-benar datang dan penampilan nya tidak enak dipandang, kemudian ia menyisir rambutnya yang dibiarkan tergerai tidak dikucir.
Setelah sekitar 15 menit menunggu, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya.
"Nay! Ada Al nih!" teriak Rehan dari luar kamarnya.
Ternyata cowo itu tidak berbohong, ia benar-benar datang. Naya berusaha mengatur nafas dan detak jantungnya supaya tidak terlihat gugup didepan Al.
Bagaimana tidak gugup? Al pergi ke rumahnya tiba-tiba, seenak jidat, bahkan ketika Naya ingin berbicara pun telefon nya malah Al tutup. Menyebalkan!
"Woi dek!" teriakan Rehan membuayarkan lamunan Naya.
"Iya sebentar tungguin!"
Naya lalu membuka pintu kamarnya, nampak ada Rehan dan Al disana. Al tersenyum kepada Naya.
Naya yang melihat Al sedang tersenyum kepadanya merasa heran, memangnya ada yang salah dengan penampilannya? Memang sekarang Naya hanya memakai baju piyama bercorak mickey mouse, tapi itu bukan suatu kesalahan bukan?
"Yaudah gue mau ke kamar dulu ya!" Rehan lalu meninggalkan mereka berdua yang sedang diam di depan kamar Naya.
"Kenapa? Ada yang salah ya sama gue?" tanya Naya bingung, setelah Rehan pergi.
"Lo lucu kalo pake piyama, mickey mouse lagi." Al terbahak.
Pipi Naya merah merona, ini pujian atau ejekan?
"Paan seh!"
"Makan yuk!"
"Dimana?" tanya Naya polos.
"Planet mars." jawab Al.
Allahu akbar, menyebalkan sekali manusia ini. Batin Naya.
"Yaudah tunggu gue ganti baju dulu!"
"Lama! Udah ayok!" Al menarik tangan Naya menuruni tangga.
"Ihh Al! Masa gue mau pake piyama gini!" Naya menggerutu, mencoba melepaskan genggaman Al.
"Banyak ngomong anjir! Udah Ayok!" Al gemas sekali dengan Naya.
Akhirnya Naya hanya pasrah. Dibawah ada Mama dan Papa Naya yang sedang menonton TV. Melihat wajah Papa nya selalu mengingatkan Naya pada kejadian tadi siang.
"Tante, Om, Naya nya Al pinjem dulu ya." izin al kepada Orang tua Naya.
"Mau kemana?" tanya papa Naya.
"Cari udara seger om, hehe."
"Pulang nya jangan terlalu malem ya." pesan Nina.
"Iya ma."
Setelah itu Naya dan Al keluar dari rumah, kemudian naik ke motor ninja Al.
"Al gue ke dalem dulu ya mau ganti baju ih!" rengek Naya.
"Gausah, lo tetep cantik kok!"
"Bukan gitu Al, dingin tau!" cemberut Naya, karena memang ia hanya memakai Piyama lengan pendek dengan celana panjang.
"Nih!" Al membuka jaketnya kemudian memberikannya kepada Naya, "biar ga dingin."
"Nanti lo gimana? Lo juga nanti kedinginan!"
"Bawel banget!" Al kemudian menyampirkan jaketnya di bahu Naya agar ia tak kedinginan.
Naya lalu tersenyum, "makasih."
Al hanya mengangguk tanpa menjawab ucapan terima kasih Naya. Mereka pun kemudian pergi meninggalkan rumah Naya.
*****
Maapin ya guys, udh lama banget ga update gegara ya emang lagi sibuk banget.
Nanti aku usahain up lagi tapi gimana antusias nya kalian aja ya wkwk.
Info!!!
Buat Ig atau mau tanya apa² ke Ig @shylvanaars aja ya.
KAMU SEDANG MEMBACA
MALVARMA [TAHAP REVISI]
Ficção AdolescenteKinaya Putri, perempuan berambut panjang dengan netra coklat dan bulu mata lentik yang menghiasi kedua matanya, ambisi dan perasaannya yang tulus ia tunjukkan sepenuh hati. Berbanding terbalik dengan Alvino Mahesa, laki-laki bernetra hitam yang akr...
![MALVARMA [TAHAP REVISI]](https://img.wattpad.com/cover/180903607-64-k858307.jpg)