Naya sedang memasukkan bukunya ke dalam tas, dan tiba-tiba Via yang sedang piket kelas berteriak, "Nay ini ada yang nungguin."
"Siapa? Bentar." jawab Naya.
"Senior." Naya mengerutkan alisnya, ia lalu berjalan mendekati pintu sambil menggendong tasnya, Ia lalu melihat Al sedang menunggunya. Jantung Naya berdetak kencang, ia sebenarnya masih takut dengan kejadian tadi saat Al menatapnya dengan tajam.
"Ayo pulang." ajak Al dengan muka sedatar jalanan.
"E-eu aku pulang sama bang Rehan." jawab Naya gugup.
"Gue pulang bareng Epi." tiba-tiba seseorang datang mendekati mereka, Naya dan Al menoleh, mendapatkan Rehan yang sedang menaik turunkan alisnya.
Kenapa bang Rehan nyebelin banget sih, ish. batin Naya.
"Pi, pulang bareng aku kan ya?" tanya Rehan memiringkan kepalanya ke dalam kelas, Via hanya mengangguk mengiyakan.
"Yaudah ayo pulang." Al lalu menggandeng tangan Naya.
Jantung Naya berdebar, rasanya ingin mencelos kebawah. Ia tidak kuat jika harus digandeng seperti ini, dia ingin mati saja rasanya.
"Vi gue pulang duluan!" teriak Naya yang mulai berjalan.
"Iyoy." jawab Via.
Al melepaskan gandengan tangannya dengan Naya kemudian masuk ke mobilnya. Al duduk di tempat kemudi, sedangkan Naya disamping kemudi.
Suasana menjadi hening, awkard. Naya bingung, ia masih berusaha menetralkan detak jantungnya. Al mulai mengendarai mobilnya, berjalan keluar dari tempat parkir.
"Tadi ngapain aja?" tanya Al memecahkan keheningan.
"Hem?" jawab Naya menoleh.
"Tadi ngapain aja?" ulang Al.
"Sama siapa? Ga ngapa-ngapain."
"Farhan."
Deg.
Naya terdiam, mulai mencerna perkataan Al.
"Oh tadi. Ngga ngapa-ngapain, b aja." jawab Naya sesantai mungkin, padahal jantung nya sudah degun-degun.
"Jangan sama Farhan lagi."
"Hem?" Naya menoleh, "kenapa?"
"Gapapa, ga suka aja." jawab Al sesimple mungkin.
Naya kesal, kenapa Al menyebalkan sekali? Semudah itukah menjawabnya?
Naya menatap kembali jalanan, "gapapa lah, gue ini kan. Lagian kan Lo bukan siapa-siapa gue." ucap Naya, ia kemudian berfikir kenapa dirinya berani sekali berbicara seperti itu.
Mendengar jawaban Naya, Al lantas mengerem mobilnya karena lampu merah. Al kemudian terdiam.
"Ok." jawab Al.
What the hell? Semudah itu berbicara seperti itu? Padahal bukan jawaban seperti itu yang Naya inginkan, ia kira Al akan berbicara bahwa dirinya penting untuk Al.
Naya menghela nafas, sabar.
"Ga peka." gumam Naya, tapi masih terdengar oleh Al.
Al kemudian menginjak kembali pedal gas dan memajukan kembali mobilnya, ia tersenyum mendengar gumaman Naya, "ga peka apanya?"
"Eh?" Naya malu, ia membuang pandangan nya dari Al.
Al hanya terkekeh melihat kelakuan Naya.
Al mengantarkan Naya di depan rumahnya, kemudian Naya turun dan melambaikan tangannya ke Al.
"Makasih ya, hati-hati!"
"Iyaaa." jawab Al tersenyum.
"Nay!" teriak Al memberhentikan Naya yang berjalan masuk ke rumahnya, Naya menoleh.
"Iya?"
"Ada yang kebawa."
Naya mengernyit, "Apa?"
"Hati gue kebawa sama lo."
Naya tertegun, pipinya memerah, "AL!" teriak Naya kemudian berlari masuk ke rumahnya. Sedangkan Al hanya tertawa melihat Naya yang malu dan pipinya yang memerah.
*****
Ayah Naya sudah pulang dari rumah sakit, keadaan nya sudah membaik.
Naya sedang berguling-guling di kasurnya sambil memegang benda pipih yang tidak ada notif sekalipun.
Naya mendengus sebal, ia berharap Al akan menghubunginya, tapi ternyata tidak sampai sekarang. Naya membuka hp nya kemudian mencari kontak Al, ketika Naya ingin menghubunginya, tiba-tiba ada sebuah panggilan masuk, ternyata Al lebih dulu menelfonnya.
Jantung Naya berdetak tak karuan, ia degun-degun, ia berdehem kemudian mulai memencet tombol hijau di hp nya. Panggilannya tersambung.
"Hem hallo?" panggil Naya.
"Malem." ucap Al dari seberang telefon.
"Ma-malem juga."
"Belum tidur?"
"Belum."
"Yaudah sana tidur."
"I-iya."
"Jangan lupa."
"Jangan lupa apa?"
"Jangan lupa mimpiin gue."
"Eh i-iya."
Lalu terdengar suara kekehan dari Al, kemudian Al mematikan sambungan telefonnya.
"Udah gitu doang?" Naya menatap ponselnya, "Ga asik. Tapi yaudahla gapapa yang penting gue seneng."
Naya kemudian berjingkrak jingkrak diatas kasurnya.
"Ya Tuhan sejak kapan Al jadi kang kerdus?" Naya masih berjingkrak diatas kasurnya. "Ah Alllll, makin hari gue makin cinta aja rasanya sama lo."
Naya tidak sadar bahwa dari tadi pintu kamarnya terbuka dan sejak dirinya berjingkrak jingkrak tidak jelas, ada seseorang yang sedang menatapnya di pintu sambil melongo.
"Gelo." ucap seseorang tersebut, Rehan.
Mendengar seseorang berbicara, Naya menoleh ke sumber suara lalu melotot, "Ngapain lo disini?"
"Dih sableng." nyinyir Rehan.
"Pergi sana jurig!" Naya melemparkan bantal ke arah Rehan, dan tepat ke muka nya.
"Uwek mau muntah." ucap Rehan dan menunjukkan muka-muka ingin muntah.
"Why? Kenapa mau muntah?" Naya mengernyit.
"Mau muntah, bantal lo bau iler iwh." Rehan kemudian melemparkan kembali bantal tersebut ke muka Naya, kemudian pergi meninggalkan kamar Naya.
"Dih apaan." Naya mencium bantalnya, "orang wangi kaya gini."
"SINI LO BANG REHAN! ENAK AJA NUDUH NUDUH!" Naya kemudian membawa bantalnya dan masuk ke kamar Rehan, kemudian memukulkan nya ke badan Rehan.
"Mati! Mati! Mati!" pukul Naya gemas, "sebel gue punya Abang kaya lo."
Rehan mengelus dadanya pelan, "songong banget punya adek." Kemudian tersenyum miris.
"AWOKAWOKAOKAOWKAOWK." Naya tersenyum penuh kemenangan.
Tapi tanpa disangka, Rehan membalas memukulkan bantal ke muka Naya, Naya lalu membalas nya lagi. Terus saja seperti itu.
*****
Ig; shylvanaars
KAMU SEDANG MEMBACA
MALVARMA [TAHAP REVISI]
Ficção AdolescenteKinaya Putri, perempuan berambut panjang dengan netra coklat dan bulu mata lentik yang menghiasi kedua matanya, ambisi dan perasaannya yang tulus ia tunjukkan sepenuh hati. Berbanding terbalik dengan Alvino Mahesa, laki-laki bernetra hitam yang akr...
![MALVARMA [TAHAP REVISI]](https://img.wattpad.com/cover/180903607-64-k858307.jpg)