Nina dan Rehan duduk di sebelah Al, Naya kemudian melepas pelukannya dari Al.
"Tan." sapa Al kepada Nina, kemudian mencium tangannya.
"Han." Al kemudian menyapa Rehan.
"Hey." sapa Rehan kembali sambil tersenyum, mood nya sekarang sedang tidak baik-baik saja.
Nina tersenyum, kemudian mengusap punggung Al, "Al makasih ya udah dateng kesini."
"Iya tante sama-sama."
Tidak lama kemudian, dokter keluar dari ruangan.
"Gimana keadaan papa saya dok?" tanya Naya panik.
"Pak Rama kehilangan banyak darah, dan sekarang membutuhkan transfusi darah sedangkan stok darah yang dibutuhkan sedang kosong, apakah dari pihak keluarga ada yang bergolongan darah O dan mau mendonorkan darah nya untuk pak Rama?" jelas dokter.
"Golongan darah saya A dok, anak saya juga semuanya A." ucap Nina, Naya dan Rehan semakin panik, bagaimana caranya untuk mendapatkan darah itu?
"Jika tidak segera ditangani, kecil kemungkinan pak Rama untuk bisa diselamatkan."
"Papa." Naya dan Nina menangis kembali, Rehan mengacak rambutnya gusar, dia tidak boleh menangis.
"Golongan darah saya O dok. Saya siap donorin darah saya." Al angkat bicara.
Naya, Nina, dan Rehan mendongak menatap Al tidak percaya dengan ucapan Al. Merasa dirinya ditatap, kemudian Al menatap Naya balik dan mengangguk. Al kemudian pergi meninggalkan mereka bertiga dan berjalan mengikuti dokter.
"Al." ucap Naya lirih, memegang jari tangan Al.
Al mengusap kepala Naya, kemudian tersenyum. "udah gapapa."
Al kemudian melepaskan pegangan Naya, dan berjalan kembali.
Sudah tiga puluh menit tapi Al belum keluar juga, Naya gelisah, ia berjalan kesana kemari karena takut sesuatu terjadi kepada Al. Sedangkan mama dan kakak nya duduk sambil menatap Naya dengan tatapan menginterogasi, heran dengan anak nya itu.
"Kamu kenapa sih Nay bulak balik terus?" tanya mama nya yang jengah dengan sikap anaknya.
"Iya lo kenapa sih? Pengen boker?" Rehan berdecak.
Mendengar nama nya dipanggil, Naya menoleh, "Ih apaan sih mama sama bang Rehan itu. Naya itu deg degan takut Al kenapa-napa!"
Nina menghela nafas, "dari pada bulak balik ga jelas, mending berdo'a, supaya Al ga kenapa-napa, dan operasi papa lancar."
"Iya tuh bener, kita juga sama khawatir, tapi ga segajelas lo dek."
Naya hanya menghentakkan kakinya kesal, kemudian duduk disisi Nina. Tidak lama kemudian, Al datang dengan wajah datar seperti biasanya.
Nina langsung berdiri dari duduknya, "Al gimana? Kamu ga kenapa-napa?" Nina menatap Al cemas.
"Aku gapapa tan." Al tersenyum.
"Makasih banyak Al, tante gatau lagi gimana kalo gaada kamu." Nina menatap Al haru.
"Thanks ya Al, lo emang soulmate gue!" ucap Rehan menepuk pundak Al.
"Santuy aja." Al menyengir, memperlihatkan deretan gigi putihnya yang berjajar rapih.
Kemudian dokter datang, "Kami akan segera memindahkan pak Rama ke ruang Operasi."
"Baik dok, lakukan yang terbaik untuk suami saya." Nina mengangguk mantap, kemudian dokter mengangguk dan pergi.
Naya menatap Al yang sedang duduk, "Lo gapapa?" Naya memajukan kepalanya ke hadapan Al, merasa dirinya ditatap seperti itu, Al langsung memundurkan kepalanya ke belakang dan menaikkan alisnya.
"Kenapa apanya?" tanya Al polos.
"Ish nyebelin."
Al lalu memegang tangan Naya, kemudian berdiri dan mengajak Naya untuk bangun dan mengikutinya, "Tante, saya pinjem Naya nya dulu ya."
"Oh iya boleh." Nina terkekeh.
Al kemudian menggandeng tangan Naya, membawa nya ke taman rumah sakit, kemudian duduk bersebelahan.
"Kenapa kesini?" tanya Naya polos.
"Gapapa, pengen nyari udara seger aja." Al kemudian menyenderkan kepalanya ke tangannya yang dilipat ke belakang.
"Al, kenapa lo tadi rela donorin darah buat papa?"
"Gapapa, suka-suka gue dong." jawab Al santai, "Lagian darah gue kebanyakan, jadi harus disumbangin ke orang yang lebih membutuhkan. Daripada dibuang gitu aja, kan mubazir."
Naya mengusap dadanya pelan, "Kampret!" kemudian memukul lengan Al kesal.
"Aww sakit!" Al mengaduh, tangan bekas diambil darah tadi terkena pukul Naya.
"Eh maafin. Ih maaf ga sengaja!" Naya menatap Al khawatir, kemudian mengusap tangannya.
"Tapi boong." Al tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi khawatir Naya.
"ASU!"
Al menatap Naya tajam,"Ngomong apa tadi hah?"
"Hehe engga kok." Naya nyengir tak berdosa.
"Bagus Naya, tingkatkan lagi ya!" Al tersenyum kemudian menepuk kepala Naya.
"Ih apaan sih Al!"
Sedangkan Al hanya terkekeh, melihat tingkah Naya yang menurutnya sangat lucu. "Jangan marah, nanti makin cantik."
Naya diam, kenapa Al menjadi semenyebalkan itu? Selalu saja membuat hati Naya degun-degun tak karuan. Naya kemudian menyentuh dahi Al, "Wah bahaya ini, suhu tubuh lo ga normal, lo alien ya? Atau otak lo juga ikut ikutan ga normal?" Naya menggeleng pelan.
"Semerdeka Naya aja." Al mengangguk pelan, yang dibalas tawa oleh Naya.
*****
Ig; shylvanaars
KAMU SEDANG MEMBACA
MALVARMA [TAHAP REVISI]
Teen FictionKinaya Putri, perempuan berambut panjang dengan netra coklat dan bulu mata lentik yang menghiasi kedua matanya, ambisi dan perasaannya yang tulus ia tunjukkan sepenuh hati. Berbanding terbalik dengan Alvino Mahesa, laki-laki bernetra hitam yang akr...
![MALVARMA [TAHAP REVISI]](https://img.wattpad.com/cover/180903607-64-k858307.jpg)