Naya tersedak, “LO GA SALAH? NAMANYA ALAY BANGET ANJIR.”
Teman-temannya kemudian terbahak melihat respon Naya.
“Ih iya kok alay.” dukung Via.
Cindy dan Mira memegang perutnya karena lelah tertawa, “Gue gakuat hahahaha.”
Nana kemudian berhenti tertawa, “Hahahaha sumpah, setau gue itu sebutan buat mereka dari anak-anak sekolah. Jadi bukan mereka yang namain sendiri.” jelasnya.
“Tapi tetep aja ngakak, nyari nama yang bagus dikit kek.” ucap Naya.
“Ya gatau lah! Tapi kan artinya juga cowo-cowo keren, cocok buat mereka.”
Naya mual mendengar penuturan Nana, ketika Nana memperjelas artinya adalah “cowo-cowo keren” tidak masalah sebenarnya, namun ketika mengingat bahwa kakaknya ikut dikategorikan sebagai cowo keren itu membuatnya merinding.
Kayanya orang-orang di sekolah ini matanya kelilipan. Batinnya.
“Lo jadi ga Nay mau nganterin makanan?” tanya Via mengingatkan.
“Ohiya, yaudah anter ya.” pinta Naya.
Teman-temannya kemudian mengangguk.
Naya kemudian keluar dari kelas, ia bersama keempat temannya kemudian berjalan melewati anak tangga, walau sebenarnya sedikit malu, takut jikalau ada kakak kelas yang nyinyir dan menyindirnya karena sudah berani menghampiri kakak kelas yang dia sendiri notabenenya masih anak baru. Tapi Naya membuang jauh-jauh pikiran itu, ia berusaha untuk percaya diri. Untung saja Al sekelas dengan kakaknya, karena setidaknya ia bisa beralasan untuk menemui Rehan.
Di dalam kelas Rehan, para siswa sedang menertawakan Revan yang sedang bercerita mengenai kejadian yang menimpanya, mereka tertawa terbahak-bahak karena lucunya cerita Revan.
“Ya gue kan baik, dia lagi tidur terus ada laler di pipinya, ya gue pukul lah lalernya, eh marah dimarahin dah, aneh banget.” ucap Revan serius.
Teman-teman Revan yang sedang mendengarkan cerita tersebut kemudian ricuh, mereka tertawa sambil mencaci Revan yang berani-beraninya menjahili Pak Simon, guru di sekolahnya.
“Lo dongo abis, gue malu punya kembaran kayak lo.” Zevan, saudara kembar Revan kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa.
“Hahahaha ga jelas lo, Rev.” Rehan yang ikut menyimak juga tidak habis pikir dengan apa yang Revan lakukan.
Sedangkan Al, dia hanya memainkan handphone-nya, tidak ikut menyimak cerita Revan, lebih tepatnya acuh. Tapi walau begitu telinganya tetap mendengar apa yang diucapkan teman-temannya, ia ikut terkekeh pelan, seperti sudah tidak aneh dengan perilaku Revan. Namun setelah itu mukanya kembali datar sambil memainkan handphone.
“Aduh lo ya,” Revan menunjuk Al, “Dengerin kek, ikut nimbrung kek kalo gue ngomong, diem-diem aja.”
Merasa ada yang sedang berbicara dengan dirinya, Al menoleh. “Mau gue dengerin juga cerita lo tetep ga jelas, Rev.” ucapnya singkat, lagi-lagi teman-temannya tertawa.
Tiba-tiba seorang perempuan di kelas bertanya, “Eh Rehan, katanya yang kemaren lo bilang pacar tuh ternyata adek lo?”
Rehan menoleh kemudian nyengir, “Naya maksud lo? Iya hahaha.” ia terkekeh.
KAMU SEDANG MEMBACA
MALVARMA [TAHAP REVISI]
Ficção AdolescenteKinaya Putri, perempuan berambut panjang dengan netra coklat dan bulu mata lentik yang menghiasi kedua matanya, ambisi dan perasaannya yang tulus ia tunjukkan sepenuh hati. Berbanding terbalik dengan Alvino Mahesa, laki-laki bernetra hitam yang akr...
![MALVARMA [TAHAP REVISI]](https://img.wattpad.com/cover/180903607-64-k858307.jpg)