-18-

108 26 4
                                    

22Mei2019
7.51 pm

* * *

-kantor polisi?-

Hari ini, jam ini, menit ini, bahkan detik ini juga Changkyun merutuki nasibnya sendiri. Apa yang Changkyun liat di depan matanya sekarang itu hal yang gak mau Changkyun liat.

Padangan.

Iya, apa yang Rania minta kemarin. Changkyun emang mengiyakan. Mengiyakan dalam arti, padang itu bahasa jawa yang artinya terang. Changkyun pikir, Rania bakal ngajak Changkyun ke suatu tempat yang terang, indah, dan yah semacamnya.

Tapi ternyata padangan adalah. Suatu ruangan sempit tempat banyak orang makan. Masakan padang.

Bukan apa. Changkyun sama sekali gak suka masakan padang. Daritadi Changkyun cuma melihat-lihat sekitar sedangkan Rania udah makan dengan rakusnya.

"Anjing, rakus"

Rania berhenti menyuap makanannya dan menatap Rania. "Engga. Engga. Gue tadi bilang, gue mau balik" ucap Changkyun agak gugup.

"Kenapa ga makan?"

Changkyun menggeleng. Dia aja gak tau gimana cara makannya disini. Tiba-tiba Rania menarik lengan Changkyun. "Anjing, tangan lo kotor abis makan itu" sentak Changkyun.

"Diem. Gak bakal mati juga, lo nya" lalu Changkyun diem sampe mereka berhenti tepat di depan masakan yang begitu banyak. Sekarang apa mau Rania?, benak Changkyun.

"Makan disini tuh gampang. Ambil sebanyak yang lo mau."

Changkyun cuma mengangguk mengiyakan. "Gak laper gue." kata Changkyun pelan.

"Ambil!"

Changkyun menggeleng dong. Apaan sih, orang gak suka juga. Gini yah, Changkyun liat sayur bahkan lauk yang buanyak gitu malah bikin dia eneg duluan gimana mau makannya?

"Mau gue maafin gak?"

Changkyun bergegas meraih piring dan semacamnya. But, damn! Gak ada sendok makan. "Ambil apa yang lo suka"

Changkyun menelan salivanya dengan susah payah dengan pikiran, gimana mau ngambil yang disuka kalo gak ada makanan yang dia suka disini?

Alhasil dengan hati-hati Changkyun ngambil perkedel kentang dan nasi doang.

"Udah?" Changkyun mengangguk. "Ya udah serah lo. Diajak kenyang kaga mau" nyinyir Rania.

Mereka kembali duduk. Changkyun masih enggan makan makanannya. Dia belum pernah makan pakai tangannya langsung. Ditambah lagi dia kidal. Agak aneh aja.

"Makan aja. Padangan emang gak perlu sendok makan. Gak perlu jijik sama tangan lo sendiri"

Changkyun mencoba menyuap makanannya, tapi sebelum itu dia mencuci tangannya di air kobokan yang ada di baskom gitu. Sumpah, ini pertama kalinya bagi Changkyun.

"Enak, kan?"

Kalo kalian liat ekspresi Changkyun sekarang, antara mau muntah tapi dia tahan gitu. Jadi komuk kayak orang naber.

((Nahan berak))

Kalo bukan karena mulutnya itu, gak mungkin Changkyun ada disini. Segala bikin janji mau nurutin mau Rania kemarin.

Changkyun mengangguk ragu sama pertanyaan Rania. Enak tuh iya enak. Tapi Changkyun gak biasa makan ginian. Changkyun melepas jaketnya dan nyisain kaos oblong tipisnya.

Rania menatap intens. "Jangan macem-macem ya lo!"

"Kotor banget sih itu congor. Gerah gue!" Sahut Changkyun kemudian hening.

Trauma || IM Changkyun (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang