Fira, seorang gadis ceria yang terjebak diantara dua pilihan, lelaki soleh yang dipilihkan oleh sang ayah, atau sang mantan kekasih yang rela berpindah keyakinan demi dirinya.
Hatinya goyah, ia bimbang dengan pilihan yang ada didepan matanya
Antara...
Sekali aku memilih, maka aku akan bertahan sampai akhir. Sekali aku mengikat, maka aku akan terus mendekat. Sekali hatiku terjatuh, maka aku akan tetap teguh. Maka dari itu, jangan pernah berpaling dariku.
***
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bonus, buat yang kangen sama Afnan hehehe...
***
Teriknya sinar mentari mengiringi Afnan dan Fira dalam perjalanan mereka hari ini. Mobil pribadi berwarna putih itu melaju membelah jalanan ibu kota yang kali ini cukup ramai lancar. Sepanjang perjalanan senyum manis Fira tak pernah hilang. Ia sangat senang karna sebentar lagi, ia akan benar benar menjalani kehidupan berumah tangga yang sesungguhnya.
Senyum Afnan yang meneduhkan bak rindangnya dahan pohon juga tak pernah absen menghiasi wajah tampanya. Rasanya ini adalah hari terbaik yang ia jalani selama ini. Afnan ingin segera tiba di tempat tujuan mereka. Tempat di mana mereka berdua akan memulai semuanya dari awal.
Pria beralis tebal itu menginjak pedal rem, saat mobil pribadinya tepat berada di depan sebuah rumah dengan dominasi cat berwarna biru muda. Sebuah rumah berlantai dua dengan gerbang besi yang cukup tinggi. dua buah pohon palm juga berdiri kokoh di kedua sisi gerbangnya, membuat rumah itu terlihat lebih asri. Afnan tersenyum pada gadis yang sedari tadi duduk di sampingnya, lalu bergegas keluar dan membukakan pintu mobil untuk gadis manis itu.
Mereka memang pindah ke rumah baru hari ini, dan sudah mendapat persetujuan dari orang tua mereka. Apalagi Fira yang langsung mengangguk mantap saat Afnan mengajaknya pindah rumah. Jika Afnan ingin pindah rumah karna ingin belajar hidup mandiri, maka lain halnya dengan Fira. Gadis yang kerap ceplas ceplos itu ingin pindah rumah juga karena satu hal, ia ingin bebas berduaan dengan Afnan. Ia tak mau kejadian tempo hari di mana Uminya memergokinya dan Afnan hampir berciuman terjadi lagi.
Fira tersenyum malu, akibat perlakuan manis suaminya itu. Apa yang baru saja terjadi pada pria ini, padahal biasanya ia bersikap dingin dan tidak peka. Apa Afnan salah minum obat, atau dia baru saja mendapat hidayah? Sepertinya Fira tidak begitu peduli akan hal itu, yang terpenting baginya saat ini adalah Afnan sudah mulai menunjukan perasaanya.
Fira keluar dari mobil lalu segera berjalan membantu Afnan yang sudah membuka bagasi dan membawa beberapa koper berisi barang barang mereka. Namun Afnan menahanya dan bersikeras bahwa ia yang akan membawa semua koper mereka kedalam rumah.
"Udah biar aku aja."ujar Afnan lalu memgambil alih koper besar itu dari tangan Fira.
Fira menggeleng lalu berusaha meraih pegangan koper itu lagi."Gak papa kak, aku bantuin ya."
Lagi lagi Afnan menepisnya dan bersi keras untuk membawakan koper itu."Gak usah, ini berat biar aku aja."
Fira tersenyum malu, ia terispu walau hanya karena perlakuan sederhana Afnan padanya. Yang bagi Fira terasa sangat manis, lebih manis dari pada sirup Mijan yang sering ia minum saat bulan puasa."Ih kakak romantis deh, kayak Dilan."ujarnya lalu mengulum senyum.