Karawang, 01 Agustus 2020
***
Setiap pagi saat aku membuka mata aku selalu bersyukur atas satu hal.
Aku bersyukur karena Tuhan telah menciptakan mahkluk indah sepertimu untukku.
***
Seorang pria jangkung baru saja keluar dari area parkir. Dia berangkat kuliah pagi ini, padahal kelas nya dimulai siang. Bukan karena ia terlalu rajin, namun ia malas berada di rumahnya yang sepi. Lagi pula kedua orang tuanya selalu sibuk bekerja, jadi ia lebih suka di kampus, nongkrong dan menggoda gadis gadis di sana. Jevin melangkah dengan penuh percaya diri, dengan ketampanan yang mumpuni ia mampu membuat banyak gadis jatuh hati.
Pria dengan kaus putih dan kemeja sebagai outer itu menghentikan langkahnya saat telponya berdering. Ia melihat ponselnya, dan layar ponselnya menampilkan nama sang ibu. Dengan malas Jevin mengangkat panggilan itu.
"Halo."
"Jev, kamu mau bantuin mama kan? "
"Bantuin apa mah? "
"Tolong ke Bandung ya, omah lagi sakit, kata tante kamu omah masuk UGD kamu tolong temenin tante jagain omah, mamah gak bisa karena harus ke luar kota."
Namun Jevin hanya terdiam tanpa mengatakan sepatah katapun.
"Jevin kamu dengerin mamah gak sih?"
"Hm."
"Jevin."
"Iya mah, kalo gak males Jevin ke sana."
"Loh kok gitu sih, itu kan yang sakit omah kamu."
"Hm."
BIP........
Jevin menghela napasnya kasar, malas rasanya mendengar omelan sang mama di pagi hari begini. Pria itu kembali melanjutkan langkahnya ia rasa pergi ke kantin dan makan adalah yang terbaik untuk pagi ini. Seperti biasa beberapa wanita pasti ada yang berbisik atau sekedar menoleh saat Jevin melintas. Meski ia sudah terkenal akan sifat nya yang playboy namun pesona nya selalu sanggup membuat para gadis menyukainya.
Jevin berdecak sebal, pria berhidung mancung itu harus kembali berhadapan dengan gadis yang selalu mengejarnya. Erika namanya, entah dia sudah gadis keberapa yang Jevin beri harapan palsu. Bahkan saking banyaknya gadis yang ia jadikan mainan Jevin sampai lupa siapa nama gadis berponi di hadapannya ini. Hanya satu yang Jevin ingat bahwa gadis ini pernah jalan sekali dengannya dan pernah marah marah saat ia bilang bahwa ia tidak menyukainya.
Gadis itu menarik lengan Jevin, membuat pria itu menoleh."Jev, kamu belum jelasin sama aku kamu beneran mutusin aku?"
"Lo lagi lo lagi, males gua."ucap Jevin menarik tangannya, lalu kembali melanjutkan langkahnya.
Namun belum selangkah Erika sudah menghadangnya lagi."Jev, jelasin dulu kok kamu mutusin aku gitu aja sih."
Jevin berdecak malas. "Eh putus dari mana sih, lo halu? Jadian aja gak pernah, lo aja yang baper."
"Apa? Jadi selama ini kamu... "Gadis dengan rambut sebahu itu tak dapat berkata kata bahkan matanya sudah memerah menahan air mata.
"Udah ah mending lo pergi, gua lagi gak mood."ucap Jevin.
"Kamu jahat banget sih Jev."Erika menutup mulutnya lalu berlari pergi sambil menangis.
Jevin hanya menggelengkan kepala nya, lalu dengan santainya kembali berjalan. Seorang pria dengan kaus berwarna kuning terang menghampirinya lalu berjalan beriringan. Aland pria itu melihat apa yang baru saja terjadi. Ia tak habis pikir bagaimana Jevin tega membuat gadis secantik Erika menangis. Mengingat Erika cukup populer di kampus mereka, gadis pintar dari fakultas ekonomi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jodoh Pilihan Abi
General FictionFira, seorang gadis ceria yang terjebak diantara dua pilihan, lelaki soleh yang dipilihkan oleh sang ayah, atau sang mantan kekasih yang rela berpindah keyakinan demi dirinya. Hatinya goyah, ia bimbang dengan pilihan yang ada didepan matanya Antara...
