Karawang, 16 Agustus 2020
***
Aku tak bisa terus menjadi pagi yang menunggu mentari terbit atau menjadi malam yang menunggu bulan muncul
Sesekali aku ingin menjadi mentari yang dinanti dan bulan yang didambakan
Aku ingin tahu bagaimana jika kamu menjadi aku.
~Adiba Syafira~
***
Langit di atas sana terlihat sangat gelap, seakan serupa dengan hati gadis berhijab yang tengah murung itu. Bulan yang biasanya merajai langit malam terlihat bersembunyi di balik awan, sedangkan bintang bintang tak menampakan dirinya sama sekali. Udara malam terasa semakin dingin menerpa kulit gadis itu saat ia keluar dari mobil. Iya, sesaat yang lalu ia baru saja sampai di depan rumahnya yang sudah nampak sepi.
Waktu sudah menunjukan hampir pukul dua dini hari, Jevin sudah mengantarnya meski jarak Bandung jakarta tidaklah dekat. Fira akan sangat malu jika ia tak berterima kasih sama sekali pada pria yang sekarang berdiri di hadapannya ini. Jevin masih berdiri di sana menatap Fira dengan raut kecemasan yang begitu kentara. Pria itu pasti khawatir dan takut Fira kembali bersedih dan menangis.
Meski ia tahu jangankan mencemaskan Fira, memikirkan gadis itupun rasanya ia sudah tak punya hak apapun. Tapi Jevin sendiri tidak mengerti kenapa hatinya selalu bertindak berlawanan dengan akal sehatnya, ia juga tak bisa menahan kalau hatinya masih saja tertuju pada sosok gadis manis yang sudah jelas dimiliki orang lain.
Fira tersenyum dengan mata sembab nya."Makasih ya Jev lo udah nganterin gue."
"Gak perlu bilang makasih, karena gue seneng bisa nganterin lo pulang."balas Jevin.
"Ini udah malem banget, lo mau balik ke Bandung?" Tanya Fira, jujur saja ia sedikit khawatir jika pria itu kembali karena ini sudah sangat malam.
"Mungkin gue bakal balik besok pagi, gue mau balik ke rumah aja."jawabnya.
Fira tersenyum, sedikit merasa lega mendengar jawaban pria itu."Bagus deh, bahaya ini udah malem."
"Udah jam 2malem malah."lanjut Fira.
"Khawatir ya?"ucap pria itu sambil tersenyum.
"Apa sih Jev."Fira menggelengkan kepalanya, bisa bisanya Jevin bercanda dalam keadaan seperti ini.
"Bilang iya apa susahnya sih."balas Jevin.
"Iya gue khawatir lo kenapa napa di jalan."ucap Fira akhirnya yang membuat senyum manis Jevin mengembang.
"Gue seneng lo khawatir sama gue."ucap pria itu.
"Udah ah, gue masuk dulu." Ucap Fira.
"Iya."balasnya.
Namun saat Fira sudah berada di depan gerbang rumah orang tuanya itu suara Jevin membuatnya kembali menoleh."Fi."panggil pria itu.
"Hm?"
"Mungkin ini udah terlambat, tapi gue boleh kan berjuang lagi buat lo?"ucap Jevin.
Tatapan hangat di kedua manik mata pria itu jelas menyiratkan sebuah ketulusan, Fira terdiam. Kenapa ia bisa dihadapkan dalam keadaan sesulit ini, tapi Fira harus sadar bahwa kini seseorang sudah memiliki hatinya." Jangan gila."balas Fira akhirnya.
"Gue udah gila dari dulu."ucap Jevin lalu tertawa.
"Udah ah gue masuk dulu."ucap Fira.
"Oke."
KAMU SEDANG MEMBACA
Jodoh Pilihan Abi
Fiksi UmumFira, seorang gadis ceria yang terjebak diantara dua pilihan, lelaki soleh yang dipilihkan oleh sang ayah, atau sang mantan kekasih yang rela berpindah keyakinan demi dirinya. Hatinya goyah, ia bimbang dengan pilihan yang ada didepan matanya Antara...
