Karawang, 24 Februari 2020
***
Biarlah kamu berpikir aku berlebihan
Silahkan kamu berkata aku kekanakan
Karena kamu bahkan tak mengerti bahwa aku seperti ini karena mu
Karena aku takut kehilangan mu.
***
Mentari cerah tersenyum lebar di atas sana, memancarkan cahayanya yang hangat. Namun di dalam mobil berwarna putih itu seorang gadis dengan pasmina menutupi kepalanya Sama sekali telah kehilangan senyuman manisnya pagi ini. Ia hanya diam, bungkam sambil menatap lurus ke depan. Berbeda dengan orang yang sedari tadi sibuk menyetir, Afnan sedang kebingungan mencari cara bagaimana agar Fira tidak salah faham atas kepindahan Beby ke samping rumah mereka.
Sesekali Afnan menoleh ke samping menatap Fira yang masih saja cemberut. Ia yakin istrinya itu pasti sedang marah lagi, cemburu lebih tepatnya. Afnan menghela napasnya, lagi lagi ia selalu kehabisan cara untuk menjelaskan yang sebenarnya pada Fira. Karena sebenarnya Afnan tidak pernah tahu kalau Beby akan pindah ke samping rumah mereka dan menjadi tetangga baru. Karna bahkan Afnan tak pernah memberitahukan alamat rumah mereka pada wanita itu.
Afnan menghentikan mobilnya saat mereka sampai didepan gerbang kampus Fira. Fira melepas sabuk pengaman nya dan hendak keluar, namun Afnan mencekal tanganya.
"Fi aku bisa jelasin."
"Jelasin apa lagi sih kak? Udah jelas jelas tuh cewek menor gak akan pindah ke sana kalo kakak gak pernah kasih tahu alamat rumah kita."
"Tapi Fi aku beneran gak tahu kalo mbak beby mau pindah ke sana, aku juga gak pernah kasih tahu alamat rumah kita ke dia kok."
"Terserah deh, aku mau kuliah dulu asalamualaikum."
"Hhhhh..... Waalaikumsalam."
Fira keluar dari mobil lalu berjalan memasuki area kampus. Hari ini ia memang sudah ada janji dengan dosen pembimbingnya ada hal yang harus ia tanyakan. Fira tidak mau kalau ada yang salah lagi apalagi kalau harus merevisi seluruh pekerjaanya. Jadi di bab kali ini Fira bener benar ingin serius.
Namun sepertinya akan sulit baginya untuk serius kali ini, bukan karena serius sudah bubar. Melainkan karena tetangga baru yang membuatnya cemas bukan kepalang. Sejujurnya Fira juga yakin bahwa Afnan tak mungkin memberitahu alamat rumah mereka pada si wanita menor itu. Hanya saja terkadang Fira jadi kesal pada sikap Afnan yang terlalu baik, ia takut wanita itu berpikir yang tidak tidak.
Meski suudzon itu dilarang, tapi kali ini Fira ingin suudzon sekali saja. Ia yakin wanita ulat bulu itu pasti sedang merencanakan sesuatu sampai sampai ia rela pindah rumah ke samping rumah mereka. Fira yakin wanita itu menyukai Afnan dan belum menyerah untuk mendekati suaminya. Tapi sekarang apa yang bisa Fira lakukan untuk menyingkirkan ulat bulu itu jauh jauh.
Jika mengusirnya Fira mana bisa, lagi pula ia ada hak apa untuk mengusir orang. Jika melabrak nya ia takut pada akhirnya ia yang akan diceramahi oleh Afnan. Astaga ia jadi bingung harus bagaimana?
Fira masih berjalan di koridor kampusnya dengan tatapan kosong dan pikiran yang masih melayang kemana mana, masih untung ia tidak menabrak tiang ataupun orang lain. Namun suara menyebalkan seorang pria berhasil membuatnya berhenti melangkah,untung saja Fira tidak jantungan.
"Pagi Fira.... "Ucap suara bas seorang pria di samping telinganya.
Fira menoleh. "Eh elo Jev bikin kaget aja tahu gak."
Jevin tersenyum, pria berkaus hitam itu ikut berjalan disamping Fira."Gue perhatiin akhir akhir ini lo Jadi sering bengong, kenapa? Masih mikirin suami lo?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Jodoh Pilihan Abi
General FictionFira, seorang gadis ceria yang terjebak diantara dua pilihan, lelaki soleh yang dipilihkan oleh sang ayah, atau sang mantan kekasih yang rela berpindah keyakinan demi dirinya. Hatinya goyah, ia bimbang dengan pilihan yang ada didepan matanya Antara...
