Flashback On
Saat itu tepat dihari Eunhye meninggalkan Jimin, ia tengah disibukkan kegiatan syuting yang mengharuskannya keluar negeri dan meninggalkan Seoul ataupun Eunhye untuk beberapa saat. Hingga pada akhirnya di tengah proses syuting di negara Sakura tersebut Jimin harus mendadak memesan tiket penerbangan Jepang-Korea, mencari penerbangan tercepat ke kota yang telah membesarkan namanya tersebut setelah ia mendapatkan telpon dari Lee Seokjin dan mendengar kabar bahwa Eunhye dilarikan ke rumah sakit setelah Seokjin menemukan Eunhye berusaha mengakhiri nyawanya dengan menelan puluhan pil obat tidur berdosis sangat tinggi. Kabar Eunhye overdosis membuat Jimin kelimpungan dan ketakutan setengah mati. Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya Jimin merapalkan doa-doa meminta kepada Tuhan agar menyelamatkan hidup Eunhye. Jimin kalut, ia tidak ingin kehilangan Eunhye, ia takut jika satu-satunya wanita yang berhasil menjerat seluruh hati dan kehidupan Jimin pergi meninggalkannya.
Dan pada akhirnya, ketika pesawat Jimin baru saja mendarat di bandara Incheon Lee Eunhye menghembuskan nafas terakhirnya. Ya, nyawa gadis itu tidak dapat tertolong, kandungan senyawa kimia yang terlampau berlebihan telah melebur dan terlanjur merusak organ-organ yang berada di dalam tubuhnya dan berujung mengambil alih fungsi jantung gadis itu. Detak jantung Eunhye yang awal mula ditemukan Seokjin telah lemah kini berhenti berdenyut.
Begitu sampai rumah sakit Park Jimin bergegas turun dari taxi dan memberikan uang yang jumlahnya tak terhitung kepada sang supir "Sisanya untukmu saja". Setelahnya, Jimin berlari seperti orang kesetanan. Ia menuju receptionist dan menanyakan perihal ruangan wanita yang dirawat akibat overdosis obat tidur dan bergegas menuju ruangan yang telah disebutkan oleh receptionist barusan.
Hal pertama yang tertangkap dari netra Jimin adalah wajah kusut dan surai berantakan Lee Seokjin, alis Jimin berkerut, rona wajahnya pucat pasi, ia ketakutan setengah mati ketika hendak menanyakan keadaan Eunhye kepada Seokjin. Sebenarnya Jimin dapat menyimpulkan apa yang tengah terjadi pada saat ia menyaksikan wajah kusut seokjin, raut wajah kesedihan yang menandakan telah kehilangan sesorang. Jimin tahu itu namun ia mencoba menepis dan membuang jauh-jauh prasangka yang hinggap di hatinya.
"Hyung.."
Seokjin menatap manik Jimin dengan sorot mata kesedihan- kehilangan. Tatapan yang sungguh pilu dan menyayat hati.
"Hyung katakan padaku Eunhye baik-baik saja kan?" Ucap Jimin begitu lirih.
Seokjin hanya menjawab pertanyaan Jimin melalui sorot mata kesedihan serta gelengan kepala menandakan nyawa Eunhye tidak dapat tertolong dan hal tersebut berhasil membuat pertahanan Park Jimin ambruk. Tungkainya mendadak lemah kehilangan tenaga, Jimin jatuh terduduk dan menenggelamkan kepalanya di kedua lutut yang telah ditekuk.
Pundak Jimin bergetar hebat, ia menangis mengeluarkan begitu banyak air mata namun tak ada suara sedikitpun yang keluar dari bibir Jimin. Tangisan Jimin begitu pilu sehingga mampu membuat orang disekitar ikut menitikkan air mata jika melihat kondisi Jimin saat itu.
Seokjin mendekati pria yang tengah terisak hebat tersebut bermaksud menenangakanny.
"Jim.."
Jimin mendongak menatap Seokjin dengan raut wajah yang sangat berantakan "J-Jin hyung.. tolong katakan padaku Eunhye masih hidup, dia baik-baik saja kan? Tolong katakan padaku jika dia baik-baik saja hyung."
Seokjin berusaha mengendalikan rasa kehilangannya, ia mencoba untuk tegar demi Jimin. Jika dirinya menangis terisak lalu siapa yang akan menenangkan Jimin?
"Jim.. relakan kepergian adikku. Eunhye tidak akan tenang jika melihatmu seperti ini" ujar Seokjin berusaha menenangkan Jimin.
"E-Eunhye pergi hyung- ia pusat hidupku, lalu bagaimana aku bisa hidup jika pusat kehidupanku ternyata telah tiada." Jimin kembali terisak dan menutup manik kembar dengan tangan kirinya, lalu tangannya yang sebelah kanan Jimin gunakan untuk meremas surai yang kian berantakan. Air mata Jimin terus mengalir tiada henti, bibirnya bergetar, ia beralih menggigit bibirnya dengan keras sehingga mengeluarkan bercak darah, Jimin bermaksud memindahkan rasa sakit yang tertumpu di dadanya ke area bibir. Namun seakan percuma, hatinya tetap saja terasa sakit walaupun ia telah menyakiti bibirnya hingga berdarah.

KAMU SEDANG MEMBACA
Seulpeun Sarang | Park Jimin | 슬픈사랑 | COMPLETED ✔
FanfictionPark Jimin harus menerima kenyataan bahwa Lee Eunhye calon tunangannya mendadak mati bunuh diri. Tuan Park Junsung- Ayah Jimin kembali menjodohkan anaknya dengan gadis lain yaitu Kim Minji. Park Jimin marah dengan keadaan- kelakuannya berubah menjad...