Aku terkejut, mengetahui seberapa banyak diriku sanggup menampung luka.
~Minji, Kim.
Terkadang, manusia selalu bertanya-tanya. Mengapa Tuhan menciptakan hal baik, dan hal buruk.
Manusia selalu lupa jika Tuhan adalah sumber kebaikan yang nyata. Selalu saja timbul keraguan di benak mereka. Entah mereka yang memang lupa, atau justru mencari pembenaran atas apa yang terjadi di hidup mereka. Seringkali mereka menyalahkan Sang Penguasa Alam Semesta ketika nasib buruk tengah menimpa. Selalu saja mereka beranggapan jika Tuhan itu tidak adil. Selalu saja mereka menyalahkan, bahkan mengobarkan kemarahan dengan terang-terangan, dan melakukan hal-hal buruk hingga hal yang menyimpang. Seharusnya, mereka mengetahui, mengingat, dan mencatat dengan akal sehat-- Tuhan adalah sumber kebaikan bagi kehidupan mereka.
Keburukan yang terjadi pada dasarnya bersumber dari masing-masing manusia itu sendiri. Seringkali tanpa mereka sadari, keburukan, kejahatan, dan hal-hal keji justru muncul dari alam bawah sadar mereka.
Begitu pun yang terjadi pada Jimin saat ini. Dirinya benar-benar berada dalam lingkaran kegelapan. Seiring berjalannya waktu, hati Jimin kian menghitam, tak ada kejernihan yang tersisa. Hatinya seolah tertutup rapat. Dibutakan oleh satu kata yang disebut dendam.
Jika saja Jimin berkenan berpikir dengan akal sehatnya. Ia akan menyadari, jika dendam yang ia miliki pada Minji sangatlah tidak berdasar.
Sebenarnya, atas dasar apa Jimin menyimpulkan bahwa Minji yang menyebabkan kematian Eunhye? Hanya karena nama Minji tertera di dalam surat yang Eunhye tinggalkan? Atau karena selembar potret Minji dalam cetakan polaroid yang Jimin temukan dari dalam surat tersebut?
Sekali lagi, jika saja Jimin berkenan untuk kembali membaca surat peninggalan terakhir belahan hatinya tersebut dengan pikiran yang jernih. Dirinya akan menyadari jika dendam yang terlanjur bersarang di hatinya adalah sebuah kesalahan. Sebuah kesalahan yang tidak akan pernah Jimin sadari, atau mungkin belum.
Hati Jimin terlanjur mati untuk menyadari hal tersebut.
Jimin kembali meneguk minuman beralkohol berjenis vodka Rusia klasik yang kandungan alkoholnya mencapai hampir empat puluh persen-- kandungan murni. Pada umumnya, vodka merupakan bahan dasar yang digunakan untuk membuat minuman-minuman populer seperti; French Martini, Bloody Marry, dan John Daly drink Vodka. Malam ini, Jimin tidak membutuhkan minuman campuran tersebut. Yang ia inginkan adalah penat di kepalanya cepat menghilang, dengan meminum minuman yang mengandung kadar alkohol sangat tinggi seperti vodka.
Gemerlap cahaya kelab malam, dan hentakan music yang diiringi disc jockey semakin membuat Jimin terhanyut dalam suasana yang-- sangat sulit untuk diartikan.
Menatap lekat selembar foto yang berada ditangannya sembari kembali menenggak minuman, membuat Jimin tidak dapat berpikir dengan jernih.
Bagaimana bisa Jimin berpikir jernih pada saat alkohol memasuki dan mengalir di dalam tubuhnya? Justru, Jimin semakin larut, dan semakin memiliki perasaan dendam yang mendalam.
Jimin menyimpan banyak hal yang mengganjal di dalam hatinya. Sudah pasti hal utama yang mengganggu pikirannya adalah keterkaitan Minji atas kematian Eunhye. Apa memang benar kepergian Eunhye disebabkan oleh perjodohannya dengan Minji? Atau ada hal lain? Seingat Jimin, ketika Eunhye dan dirinya masih bersama mengarungi kebahagiaan, ia sama sekali tidak pernah melihat, ataupun mendengar hal-hal yang membuat Eunhye bersedih hingga mengeluarkan air matanya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Seulpeun Sarang | Park Jimin | 슬픈사랑 | COMPLETED ✔
FanfictionPark Jimin harus menerima kenyataan bahwa Lee Eunhye calon tunangannya mendadak mati bunuh diri. Tuan Park Junsung- Ayah Jimin kembali menjodohkan anaknya dengan gadis lain yaitu Kim Minji. Park Jimin marah dengan keadaan- kelakuannya berubah menjad...