23

1.5K 175 28
                                    

~SEULPEUN SARANG~

Satu bulan terlewat begitu saja semenjak Jimin secara langsung meminta maaf pada Minji, menjadikan hubungan rumah tangga mereka berdua jauh lebih baik daripada sebelumnya.

Perlakuan kasar yang sering Minji terima kini sudah tak lagi ia rasakan, berganti seratus delapan puluh derajat dengan keramahan serta kelembutan yang diberikan oleh sang suami.

Dan selama perdamaian telah terucap dari bilah bibir Jimin, ia sama sekali tidak pernah absen untuk mengantar jemput istrinya berkerja, layaknya supir. Membuat Minji merasa nyaman dan hampir meletakkan kepercayaan penuh atas perubahan Jimin, berubah menjadi lebih baik, dan lebih hangat pada diri Minji.

Seperti hari ini, setelah pekerjaannya selesai, Minji buru-buru keluar dari lingkungan sekolah, berjalan melewati gerbang menuju sebuah mobil yang parkir di sudut jalan di pinggir sekolah. Minji melihat seorang pria tampan menggunakan coat hitam tebal, lengkap dengan kacamata hitam yang bertengger di hidung pria tersebut, lantas membuatnya setengah berlari bergegas menghampirinya. Kecemasan menempel di raut wajah Minji, karena dirinya telah membuat Jimin menunggu hampir satu jam di luar di cuaca dingin.

"Jim, maaf membuatmu lama menunggu. Mina, mendapatkan banyak pekerjaan, dan aku tak tega meninggalkannya, jadi, aku membantunya sebentar, uhm... kau tidak marah padaku 'kan?" Takut-takut Minji menjelaskan pada suaminya yang sedang  berdiri bersender di pintu mobil dengan wajah pucat hampir membeku kedinginan.

"Kau lebih mementingkan Mina daripada aku yang hampir membeku menunggumu hampir satu jam?" Ujar Jimin tanpa ekspresi.

Minji maju beberapa langkah agar tubuhnya berada jauh lebih dekat dengan suaminya. Mencoba menghilangkan keraguan yang timbul di benaknya, Minji mengulurkan kedua telapak tangan menuju pipi sang suami yang benar-benar dingin menyerupai es, menatap penuh penyesalan ke arah manik Jimin yang terhalang dengan kacamata hitam yang bertengger di hidung pria tersebut.

"Aku benar-benar minta maaf," ujar Minji lembut. "Aku 'kan mengirim pesan padamu, tak perlu menjemputku kerja. Kau tidak membaca pesanku?"

"Aku membacanya, tapi aku tetap ingin menjemputmu, ingin menjemput istriku," jawab Jimin, membuat kedua sudut bibir Minji tertarik menjadi senyuman, berbunga mendengar ucapan penuh kelembutan yang merasuk indera pendengarannya.

Pria dengan coat hitam itu pun menangkup kedua tangan Minji yang masih menempel di pipinya, tersadar jika tak ada yang membungkus tangan istrinya tersebut membuat Jimin membuang nafas kasar. "Sudah berapa kali kubilang, cuaca sedang dingin, kenapa kau masih saja lupa mengenakan sarung tangan?"

"Aku tidak terbiasa mengenakannya."

"Biasakan mulai dari sekarang, tanganmu itu terlalu mudah kedinginan, Ji." jelas Jimin sembari menggandeng serta menuntun Minji untuk masuk dalam mobil.

Dari dalam mobil, alunan lagu butterfly yang terputar dari radio turut menemani perjalanan mereka berdua.

Lagu yang tengah terputar tersebut membuat Minji terhanyut dengan pikirannya sendiri, merasakan lirik  yang di nyanyikan di lagu tersebut sangat pas untuk menggambarkan perasaan Minji saat ini.

Entahlah, rasanya Minji seperti sedang bermimpi. Bermimpi menemukan kebahagiaannya dari diri Jimin, atas pernikahan yang pada mulanya terpaksa, dan kebencian yang dilayangkan Jimin padanya.

Akankah semuanya berakhir bahagia sesuai harapan Minji?

Sungguh, Minji lelah untuk berharap. Lelah berharap akan angan semu yang terus menerus ia inginkan dalam hidupnya.

"Ji, lusa aku ada syuting di daerah Gwangju. Kau ingin ikut denganku?" tanya Jimin membuyarkan lamunan Minji.

"Benarkah? Kau telah kembali mendapatkan tawaran syuting? Aku senang mendengarnya, Jim." Jawaban sumringah kelewat bahagia dilontarkan gadis itu, turut membuat Jimin tertawa kecil.

Seulpeun Sarang | Park Jimin | 슬픈사랑 | COMPLETED ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang