STOP PLAGIARISME!!!!
MEMINTA IZIN LEBIH DIUTAMAKAN SAAT INGIN MEREPOST SETIAP KATA-KATA DI CERITA INI!!!!
SELAMAT MEMBACA 💋
****
Tangguhkan percayamu,
Meski dalam rongga-rongga paling tersembunyi,
Ada ragu yang menetap terus mengekang.
Jika dirasa yakinmu perlahan meluruh atas nama jenuh,
Katakan padaku,
Biar aku yang meyakinkanmu,
Bahwa kita masih bisa utuh.
Meski tak penuh.
☔☔☔
Raina baru saja selesai mencatat materi yang disampaikan oleh Dosennya. Hari ini, ia hanya ada empat mata kuliah dan berakhir dengan tugas yang diberikan Dosennya itu.
Sekarang sudah jam setengah satu, dan Raina masih ingin berada di kampusnya. Ia memutuskan untuk pergi ke gedung fakultas hukum yang jaraknya cukup jauh. Karena ia harus melewati beberapa gedung fakultas lain. Bukan tanpa alasan ia ingin pergi ke sana, melainkan ia harus bertemu Angkasa. Ia harus meminta maaf karena kejadian kemarin.
Raina berjalan sendirian untuk menuju tempat Angkasa. Sebenarnya, ia tak suka ketika para mahasiswa memperhatikan dirinya. Ia tak suka tatapan mereka yang terkesan memuja.
Cukup lama ia berjalan menelusuri gedung-gedung setiap fakultas. Kini, ia sudah sampai di sebuah gedung berwarna biru cerah. Tepatnya, di gedung fakultas hukum.
"telepon aja kali, ya?" gumam Raina seraya mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya. Ia mencari kontak Angkasa dan meneleponnya.
"kenapa, Ra?"
"kamu masih ada kelas, Sa? Masih lama gak?" tanya Raina dengan memainkan kuku jemarinya.
"hah? Nggak... Ini udah selesai." jawab Angkasa dari seberang telepon.
Raina menganggukkan kepalanya, "aku pulang bareng kamu, ya? Aku tunggu di kantin aja, gimana?"
Lama Raina menunggu jawaban, namun yang ia dengar hanya ocehan tak jelas dari seberang telepon. Ia juga dapat mendengar samar-samar suara perempuan.
Mungkin teman kelasnya. Batin Raina.
"Angkasa? Halo? Masih di sana, kan?" tanya Raina merasa gregetan karena diabaikan.
"hah? Ehh.. Iya, Ra. Bentar gue ke sana. Lo tunggu aja. Bentar... Iya sabar, ini gue lagi ngomong sama cewek gue" Raina mengernyitkan dahinya saat mendengar Angkasa tak sepenuhnya bicara dengannya, "Ra, lo tunggu di kantin. Gue otw"
Tiba-tiba sambungan diputus oleh Angkasa. Masih dengan kerutan heran di dahinya, Raina menatap layar ponselnya. Menerka-nerka siapa yang sedang bicara dengan Angkasa saat ia meleponnya. Namun, karena malas untuk memikirkan hal yang bisa merusak mood-nya, Raina memutuskan untuk segera bergegas pergi ke kantin.
Sedangkan di satu sisi, Angkasa tengah membereskan kertas-kertas yang berhamburan di mejanya. Ia membereskannya dengan emosi yang sedari tadi berusaha ia tahan. Bukannya apa-apa, tapi semua ini ulah perempuan yang sekarang berada di hadapannya.
"Angkasa, ini ternyata masih banyak yang kurang. Penjelasannya kurang masuk akal. Kita mau ngerjain lagi kapan?" Angkasa hanya mendengus malas saat mendengarnya. Sudah beberapa menit yang lalu, perempuan ini terus saja berceloteh kepadanya. Mengatakan ini-itu, harus begini, harus begitu. Lama-lama jengkel juga.
Lagipula, kenapa dosennya harus mempersulit keduanya, sih?! Lagi, lagi, Angkasa hanya mendengus kesal.
"Angkasa, aku serius nanya. Kita mau ngerjain tugas ini kapan? Masalahnya waktu ki–"
KAMU SEDANG MEMBACA
Rainangkasa #2 [END]
Teen FictionHujan memang diciptakan untuk dijatuhkan. Semau dan semampu apapun hujan bertahan, tetap saja jatuh ialah keharusan. Semesta tak kenal kasih. Semesta tak pernah memilih. Jika sebuah hati berpaling, itu bukan salah semesta. Jika pada akhirnya harus...
![Rainangkasa #2 [END]](https://img.wattpad.com/cover/166189089-64-k761402.jpg)