9. Tak sesuai harapan

3.7K 262 7
                                        

Masalah tak akan bermurah hati memundurkan diri.
Maka menghilang tak bisa dijadikan penyelesaian.
Jadi kumohon kabari aku meski retak sudah mulai terlihat.
Agar masalah tak semakin melekat, dan agar kesempatan untuk yang lain tak punya tempat.
Agar tak ada sekat, untuk 'kita' yang masih terikat.

☔☔☔

"lo serius, Ray?!" Ray menganggukkan kepalanya sangat yakin dengan keputusannya yang sudah ia bicarakan kepada ketiga sahabatnya.

"kek gak ada cewek lain aja." celetuk Ares–salah satu sahabat Ray yang terkenal sangat cuek. Apalagi kepada perempuan.

Ray menepuk bahu Ares pelan, "gini, Res, kalau gue bisa milih pun, gue bakal tetap milih dia" ucapnya diakhiri kekehan.

"Ray, kalau lo emang mau deketin dia, gue bakal dukung lo!"

"tumben amat lo, Meg?" tanya Ray.

Mega Prisyara Gemilang, atau yang lebih sering dipanggil Meg, merupakan sahabat yang paling dekat dengan Ray dibanding kedua sahabatnya yang lain.

Bahkan, mereka terlihat seperti sepasang kekasih jika sedang berjalan berdua. Tapi, pada kenyataannya tak ada satu pun dari mereka menyimpan perasaan. Mereka murni bersahabat tanpa ada perasaan yang ikut campur.

"kalau lo deketin tuh cewek, berarti gue punya peluang buat deketin Angkasa!" jawab Mega kegirangan.

"jadi selama ini lo suka sama tuh kunyuk?" tanya Ray dengan senyum meremehkan.

"oh jelas! Secara Angkasa tuh ganteng, lumayan buat diajak jalan." jelasnya.

"gue gak setuju" celetuk Ares, mampu membuat Ray dan Mega menatapnya secara bersamaan.

"harus dong, Res! Velly aja setuju, iyakan Vel?" tanya Mega pada Velly yang sedaritadi sedang mengemut lolipop-nya.

Navellya Shaula–Velly malah menggelengkan kepalanya, "kalau Ares gak setuju, gue juga gak setuju."

Ares tersenyum miring penuh kemenangan saat mendengarnya.

"bodo amat lo mau setuju atau nggak, pokoknya keputusan gue sama Ray gak bisa diganggu gugat!" tutup Mega, lalu mengambil tasnya dan beranjak pergi.
"E-eh lo mau kemana, Meg? Tunggu ih," Velly ikut bergegas dan langsung berlari menyusul Mega.

Sekarang tersisa Ray dan Ares di tempat mereka biasa nongkrong.
Ares memang terkenal cuek, namun jika hal itu menyangkut sahabatnya, ia tidak bisa diam saja.

"belum terlambat, niat busuk lo gak usah dilanjut" tuturnya.

Ray berdecak kesal, "mana ada niat busuk?! Pikiran lo aja yang sempit, Res," sungutnya "udah lo gak perlu urusin hidup gue."

"cari cewek lain, lo cakep Ray, bakal banyak cewek yang suka" ucap Ares penuh penekanan agar Ray mampu mengerti maksudnya.

"bacot lo, anjing!" sarkas Ray seraya melongos pergi. Lama-lama ia muak jika harus patuh. Ia tak suka diatur. Ray benci itu.

*****

Ray mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Wajahnya yang memerah menahan emosi, tersembunyi dibalik helm full facenya.

Hari sudah menjelang sore, jalanan pun mulai padat. Ray hanya menyelak beberapa kendaraan agar tidak terjebak macet. Ia terus melajukan motornya, namun pandangannya menangkap sosok seseorang yang sepertinya dikenalnya.

Ray semakin memperlambat laju motornya saat mendekati seseorang itu. Ketika, dirinya tepat berada di sebelah seseorang itu, Ray membunyikan klakson motornya.

Rainangkasa #2 [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang