24. Menjadi Penyebab Rasa Sakit

3.5K 249 17
                                        

Ada begitu banyak rasa sakit yang sudah ia torehkan.
Di sudut-sudut cerita seseorang, angkasa menjadi penabur luka.
Namun angkasa begitu tinggi di sana, jauh dari jangkauan penyesalan.
Sehingga airmata tak mampu meluruhkannya.

☔☔☔

Memaafkan akan begitu mudah jika seseorang tak diperkenalkan dengan rasa sakit. Namun, tidak dengan Raina dan penerimaan maaf yang begitu dingin. Angkasa mengerti rasa sakit seperti apa yang sudah ia perkenalkan kepada Raina, sehingga perempuan itu tak mau memaafkannya.

Seharusnya sejak awal, Angkasa tak memperkenalkan Raina dengan rasa sakit dan teman-temannya.

Raina hanya perempuan lugu yang tulus mencintainya. Raina selalu bertahan ketika Angkasa hanya mampu berikan rasa sakit kepadanya. Bahkan, jika ia menengok lagi ke belakang, hanya ada banyak rasa sakit di sana.

Kemana Angkasa saat itu? Mengapa baru menyadari sekarang?

Ternyata benar, seseorang baru akan tersadar ketika sudah kehilangan.

Untuk kesekian kalinya, Angkasa mengusap wajahnya gusar. Sejak semalam ia tak dapat tidur karena memikirkan bagaimana cara agar Raina mau memaafkannya.

Angkasa sudah mencoba beberapa kali untuk menghubungi Raina, namun panggilannya tak pernah dijawab. Bahkan pesan yang ia kirim tak dibaca sama sekali oleh Raina. Sudah beberapa kali juga Angkasa merutuki dirinya sendiri karena rasa bersalah.

"Angkasa!"

Satu masalah belum selesai, datang masalah baru. Angkasa menatap tajam seseorang yang berjalan ke arahnya.

"Mau ngapain lo?" Suara dingin Angkasa menyapa indera pendengaran perempuan itu yang baru saja duduk di hadapannya.

Dengan senyum liciknya, Mega balas menatap Angkasa.

"Lo udah selesai kelas?"

Angkasa hanya menaikkan sebelah alisnya. Malas untuk berurusan dengan seorang Mega.

"Lo bisa ikut gue gak? Ada yang mau gue tunjukin ke lo."

"Gak bisa."

Mega memutar bola matanya malas. Laki-laki di hadapannya sangat berbeda jauh dengan Ray yang selalu bersikap hangat padanya. Sejujurnya, Mega tak pernah benar-benar menyukai Angkasa. Ia hanya suka ketika melihat Angkasa dan Raina bertengkar dan yang menjadi penyebabnya adalah dirinya.

"Ohya, gue denger lo lagi berantem sama si Hujan, kan?" Tanya Mega dengan menyebut Raina dengan sebutan 'hujan'.

"Denger dari siapa lo?"

"Yaelah, Sa. Semua juga tau kali lo lagi 'slek' sama dia. Lagian kenapa nggak lo putusin aja si Hujan itu?"

Enak banget itu mulut Mega, asal ngomong saja. Tidak tahu saja bagaimana tersiksanya Angkasa ketika Raina terus menerus mendiaminya. Apalagi ia memutuskan perempuan itu. Bisa-bisa ia menyesal seumur hidup.

"Gimana, Sa?"

"Apa?"

Mega mencondongkan tubuhnya, lalu menopang dagunya, "Putusin Rain, terus jadian sama gue."

Angkasa mendelik tajam, "Gila lo!"

"Gini deh, gak usah jadian sama gue. Lo putus sama Rain aja gapapa. Kalau lo putus, lo bisa deket sama si Embun tanpa harus sembunyi-sembunyi."

Itu tawaran yang sangat buruk. Sebejat-bejatnya Angkasa, tak pernah terpikirkan olehnya untuk melakukan itu. Sungguh.

"Kalau lo datang ke sini cuma mau nambah masalah gue, mending pergi, Ga." Ucapnya ketus.

Rainangkasa #2 [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang