33. Harapan Kecil Angkasa (End)

4.9K 303 65
                                        

Silakan mendengarkan. Kalau videonya nggak bisa diputar, kalian bisa buka langsung di instagram @niskala.sasra karena aku juga upload videonya di sana.

AKU SARANIN SEBELUM BACA PART INI, KALIAN SIAPIN HATI KALIAN YANG KUAT, YANG TABAH.

DAN JANGAN LUPA SETELAH BACA PART INI, KOMEN YA!!!

AKU PENGEN TAU APA YANG KALIAN RASAIN SETELAH BACA PART ENDING INI.

~•~

Semoga, segala tentangku selalu kau ingat.
Semoga, tubuhmu masih memelukku erat.
Aku hanya berharap cerita kita tak pernah selesai.
Masih banyak mimpi-mimpi yang ingin aku capai,
Bersamamu.

☔☔☔

“Ra, pagi ini gue bawa nasi goreng buat lo. Ini murni buatan gue. Jadi, tolong diterima, ya. Susah nih gue buatnya, harus perang dulu di dapur.”

Angkasa duduk di depan Raina seraya menyerahkan kotak bekal berwarna biru pada Raina. Pagi-pagi sekali ia sudah terbangun untuk membuat bekal sarapan Raina.

Melihat kehadiran Angkasa di hadapannya, Raina bergegas beranjak bangun untuk pergi. Namun, untungnya Angkasa lebih dahulu menahannya. Angkasa menampilkan senyum terbaiknya untuk Raina.

“Ra, dimakan dulu sarapannya.” ucap Angkasa seraya menarik kembali tangannya ketika Raina sudah kembali duduk.

Tak ada pergerakan dari Raina, Angkasa berinisiatif membuka kotak bekal itu dan hendak menyuapi Raina.

“Gak perlu, Sa!” ucapnya cukup kencang.

“Dengerin aku baik-baik!” Raina memandang lekat-lekat kedua manik mata Angkasa. Ia baru sadar kedua kantung mata laki-laki itu membengkak. Namun, Raina segera menepis segala pertanyaan di benaknya.

“Sa, harus berapa kali aku bilang kalau kita itu udah selesai! Jangan memperumit semuanya, Sa. Sekarang kamu jalanin hidup kamu, aku jalanin hidup aku. Udah, Sa, udah cukup! Kemarin-kemarin kamu ke mana aja? Kenapa sekarang baru sadar? Kenapa baru berjuang sekarang disaat udah gak ada lagi yang bisa diperjuangin?!”

Mata Raina berkaca-kaca. Dadanya ikut terasa sakit ketika mengatakan semua kalimat itu. Ucapannya tak hanya menyakiti Angkasa, namun juga menyakiti dirinya sendiri.
Angkasa menghela napas untuk meredam gemuruh di dadanya. Lalu ia menampilkan senyum yang begitu tulus.

“Udah?” tanya Angkasa.

“Sekarang gantian aku yang ngomong. Dengerin aku, Ra.” lanjutnya dengan mengubah cara bicaranya.
Raina jadi teringat setiap kali dirinya sedang marah, pasti Angkasa akan mengubah cara bicaranya menjadi aku-kamu. Ternyata sampai sekarang belum juga hilang, padahal keduanya sudah selesai.

“Ra, harus berapa kali aku tegasin ke kamu kalau aku gak akan nyerah? Aku gak akan menyerah segampang itu. Mau kamu tolak aku berkali-kali, aku akan lebih keras kepala buat datangin kamu lagi. Kenapa aku baru berjuang sekarang? Jujur, kemarin aku dibutain sama perasaan semu ke perempuan lain. Tapi aku sadar, Ra, kalau kamu itu tempat pulang perasaanku. Aku gak bakal berhenti. Silakan kamu usir aku, tapi aku akan selalu balik lagi. Kamu itu rumah aku, Ra. Tempat aku pulang.”

Rainangkasa #2 [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang