27. Peran Untuk Saling Menjauh

2.8K 218 63
                                        

Mereka memasang wajah palsu
Bersolek di panggung lakon
Memainkan peran sebagai musuh
Dengan langkah yang perlahan menjauh dan begitu tangguh.

☔☔☔

Banyak cara untuk memperbaiki, tapi tak semua hal dapat diperbaiki. Semesta punya cara kerjanya sendiri untuk setiap hal yang terjadi. Perihal hubungan Raina dengan Angkasa, keduanya semakin terlihat begitu asing. Jarak di antara mereka semakin jelas membentang dan membatasi keduanya.

Sudah hampir seminggu sejak permintaan dari Raina kala itu, mereka tak lagi tegur sapa. Keduanya bersungguh-sungguh dalam memainkan peran untuk saling menjauh. Namun, bagaimana dengan perasaan satu sama lain?

Di setiap cerita, selalu ada yang tinggal dan tanggal. Ada yang bertahan dan melepaskan. Ada yang menyerah dan tak mau mengalah. Ada yang setia dan mendua. Semua hanya tentang dua insan yang tak bisa memahami perasaan masing-masing.

Ketika hubungan keduanya berada di ambang perpisahan, akan semakin banyak kesempatan untuk seseorang lain menggantikan. Akan ada banyak ketukan di pintu hati untuk mengisi ruang yang penghuni semakin melemah. Karena pada akhirnya, keduanya akan sama-sama kalah.

Jika cinta pernah memenangkan keutuhan perasaan keduanya, maka cinta bisa menjadi alasan keduanya saling kalah. Karena mereka jadikan cinta sebagai ajang pertarungan. Menjadi yang paling, bukan saling.

Mungkin begitulah kiranya hubungan Raina dan Angkasa saat ini. Berlomba menjadi yang paling, tapi tak saling, tak juga seiring.

"Angkasa?"

Angkasa menoleh ketika dirasakan tepukan di pundaknya.

"Ada yang mau ketemu sama lo."

"Siapa?" tanya Angkasa sembari mengepulkan asap rokok dari mulutnya.

"Embun."

Mendengar nama itu membuat Angkasa menghela napas. Dirinya sedang malas untuk bertemu dengan siapa pun. Tubuh Angkasa tetap geming, tak menunjukkan bahwa laki-laki itu hendak beranjak.

Sebagai sepupu yang cukup dekat dengan Angkasa, Qilla mengerti keadaan seperti apa yang sedang di alami olehnya.

Qilla mengusap bahu Angkasa lembut, "Kalau lo gak mau ketemu dia, gue bisa bilang kok."

Angkasa menggeleng, "Gak perlu."

Angkasa membuang puntung rokoknya lebih dulu dan beranjak bangun sembari menginjak-injaknya puntung rokok yang sudah berada di atas rumput. Tanpa mengucapkan apa pun, Angkasa melongos pergi dengan raut wajah datarnya.

Qilla hanya memperhatikan punggung Angkasa yang semakin menjauh dengan harapan laki-laki itu mampu menghadapi masalahnya.

*****

"Sa, ini materi sama tugas yang dikasih dosen hari ini." Embun menyerahkan beberapa buku catatan miliknya pada Angkasa.

Namun Angkasa sama sekali tak menerima pemberian itu. Bahkan menatap Embun saja tidak.

Sadar dirinya diabaikan, Embun menaruh buku itu di atas meja. Ia berdehem pelan dan memilih untuk mengajak bicara Angkasa lagi.

"Kamu mau ambil materi apa buat fokus skripsi?"

"Hukum pidana."

"Udah dapat tentang apa?" tanya Embun masih berusaha untuk mengajak Angkasa mengobrol.

Angkasa mengangguk, "Gue ambil bahasan tentang peranan Visum Et Repertum pada tahap penyidikan dalam mengungkap tindak pidana perkosaan."

"Lo sendiri gimana?" tanya Angkasa dengan pandangan yang sudah beralih menatap perempuan di sebelahnya.

Rainangkasa #2 [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang