31. Penyesalan yang Mendalam

4.8K 289 20
                                        

Rainangkasa belum ending, sayang.
Masih sekitar 3-5 part lagi. Masih panjang ceritanya.

Part sebelumnya yang aku bilang Ending, itu tuh cuma bercanda.

Tenang aja, Rainangkasa gak akan selesai gitu doang wkwkw.

Selamat Membaca:))

~•~

Sesal disesap pada rongga-rongga dada.
Menjadi rasa sakit yang terus menorehkan airmata.
Semesta telah menamparnya dalam bentuk kehilangan.
Kini, sudah tak ada lagi yang dapat ia pertahankan.

☔☔☔

Tuhan dapat begitu mudah memutar balikan hati manusia. Jika di awal cerita ia menjadi yang begitu tulus mencintai, mungkin di akhir cerita ia akan menjadi yang begitu tulus dalam membenci.

Begitu pun sebaliknya. Jika sebelumnya hatinya tak sungguh-sungguh terpaut pada satu orang, mungkin diakhirnya hanya akan ada dia saja diingatannya. Seseorang yang begitu ia sesali karena tak mampu mempertahankannya.

Benang merah yang telah ia ciptakan tak berhasil ia luruskan kembali. Seseorang itu telah lebih dulu memutus benang merah itu agar menjadi lebih mudah.

Ternyata, yang begitu sakit itu bukan perihal menyerah, tapi ketika sepasang kekasih dipaksa kalah. Hubungan keduanya terpaksa menemui kata sudah.

Angkasa mengusap sudut matanya yang terasa berair. Padahal hari masih pagi, tapi sedih tak kenal waktu. Matanya yang memerah seolah memberitahu pada mentari pagi bahwa ada kantuk yang tak bisa ia tidurkan sejak semalam karena masih tak menyangka dengan akhir yang begitu menyakitkan.

Pikirannya mulai mengelana ke masa-masa silam sewaktu ia kehilangan Raina karena kesalahannya. Dan, kini ia sungguh-sungguh kehilangannya lagi karena kesalahannya. Namun, kali ini ia tak tahu apakah ia bisa mendapatkan hati Raina kembali atau berusaha mengikhlaskan hubungan keduanya kandas.

"Asa, ayok sarapan dulu." panggil Dewi—Sang Mama dari balik pintu.

Angkasa masih geming di atas kasurnya. Tatapannya mengarah pada dinding-dinding kamarnya yang begitu dingin.

"Asa?"

Tak ada jawaban. Seolah yang berada di dalam kamar ini hanyalah raganya saja, sedangkan jiwanya tersesat di kenangan-kenangan waktu itu.

Sadar tak mendapat jawaban, Dewi mencoba memutar gagang pintu kamar Angkasa dan ternyata tidak dikunci. Lantas ia berjalan masuk dan sempat tertegun melihat putranya hanya duduk dengan tatapan kosong.

Dewi melangkahkan kakinya untuk mendekati Angkasa. Perasaannya teramat pilu ketika menyadari sudut mata Angkasa yang berair.

Ternyata dalam diamnya, Angkasa tengah menangis.

"Asa? Hei, jagoan Mama kenapa? Lagi ada masalah, ya?" tanya Dewi selembut mungkin sembari merapikan rambut Angkasa yang berantakan.

"Gak biasanya kamu kayak gini. Jangan buat Mama khawatir. Cerita sama Mama, Sa." tuturnya.

Masih saja sama. Tak ada respon yang Angkasa berikan pada Mamanya.

Rainangkasa #2 [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang