Maaf malem banget baru bisa update.
Happt reading!!
~•~
Lain kali jangan diulangi!
Gak semua hal pantas jadi bahan pembicaraan.
Gak semua hal pantas jadi bahan candaan.
Ngerti?
☔☔☔
"RAY!!" Mega berteriak sembari memasuki warung yang biasa mereka jadikan tempat untuk kumpul. Wajahnya menahan kesal, ketika yang dipanggil hanya meliriknya enggan.
"Ray, kok lo malah diem di sini sih?!" omelnya saat berada di hadapan Ray.
Lagi, lagi, Ray hanya meliriknya sembari mengepulkan asap dari mulutnya. Di sela jari telunjuk dan jari tengahnya terdapat puntung rokok. Sedangkan di bawahnya berceceran puntung rokok yang sudah pendek. Mega tak memperdulikan itu. Ia sudah biasa dengan bau asap rokok seperti sekarang.
Mega berdecak kesal ketika diabaikan, "Ray, Angkasa sama si Rain udah baikan! Kok lo diem aja sih?!"
"udah tau," sahutnya malas. Ray kembali menghisap rokoknya dan mengepulkan asapnya ke udara.
"terus kenapa lo diem aja?" tanya Mega kesal.
"Gue tau tabiat cowok itu kek gimana. Gak bakal bisa berubah dalam sehari. Percaya sama gue." jawabnya seraya berdiri. Kemudian, ia membuang rokoknya itu dan menginjak-injaknya.
Ray menatap Mega, lalu memegan kedua bahu perempuan itu, "lo tenang aja, Meg."
"terus lo mau diem aja gitu?" tanya Mega lagi.
Ray terkekeh sembari geleng-geleng kepala, "kan udah gue bilang, gak ada cowok yang bisa berubah dalam sehari. Lo kok mendadak lemot sih?!"
"ya, lo kenapa mendadak bijak gitu?!" sewot Mega tak mau kalah.
"gini Meg-ku tersayang, kita itu cukup diem aja, gak perlu buang tenaga. Nanti juga si Brengsek itu sendiri yang bikin hubungannya hancur." tutur Ray menjelaskan.
"inget, lo lebih brengsek!"
"Ckck, iya dah gue brengsek. Tapi gak pernah main cewek kan?" ucapnya dengan tertawa geli.
Mega mendelik, lalu meninju pelan bahu Ray, "pala lo benjol! Kaga mainin cewek gimana? Cewek lo berceceran dimana-mana." ucapnya sewot.
Ray hanya tertawa mendengarnya. Kemudian, ia mengeluarkan bungkus rokok dan korek dari hoodie hitamnya. Ia mengambil satu puntung rokok dan menyalakannya.
"lo udah habis berapa batang sih, Ray?" celoteh Mega.
Ray hanya mengedikkan bahunya. Ia sendiri tak menghitunf sudah berapa banyak rokok yang ia habiskan. Kemudian, Ray meraih tasnya dan menyampirkannya di sebelah bahunya.
"gue mau balik, mau bareng kaga?" tanyanya.
"ayok deh, tapi beliin gue makan dulu. Marah-marah bikin gue laper." ucap Mega sembari nyengir lebar.
Ray hanya mengangguk sebagai jawaban. Ia sudah menganggap Mega sebagai adik perempuannya sendiri. Meski terkadang sikapnya yang urak-urakkan, bicara yang asal ceplos, tapi bagi Ray, Mega tetap adiknya.
****
Sudah lama Angkasa tidak main ke rumah Raina, jadi sore ini sepulang kuliahnya. Angkasa memutuskan untuk mampir terlebih dahulu ke rumah Raina ketika mengantarkan gadis itu pulang.
Angkasa memakirkan motornya di teras depan rumah Raina. Saat Raina turun dari motor, Angkasa pun ikut turun.
"kamu mau mampir, Sa?" tanya Raina heran.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rainangkasa #2 [END]
Teen FictionHujan memang diciptakan untuk dijatuhkan. Semau dan semampu apapun hujan bertahan, tetap saja jatuh ialah keharusan. Semesta tak kenal kasih. Semesta tak pernah memilih. Jika sebuah hati berpaling, itu bukan salah semesta. Jika pada akhirnya harus...
![Rainangkasa #2 [END]](https://img.wattpad.com/cover/166189089-64-k761402.jpg)