Bab 1 : Chapter 1 - Namaku Aria, bukan Chibi!

6.5K 293 5
                                        

Hai, namaku Aria Arlene Gerani, biasa dipanggil Aria, itu saja cukup, karena kalau memanggilku dengan Arlene ataupun Gerani akan terasa agak aneh dan tidak biasa untuk di dengar. Hari ini adalah hari pertamaku masuk SMA, karena setiap manusia akan selalu berkembang dari hari ke hari, itulah kenapa tingkatan sekolah kita juga akan terus naik. SMA Swasta Magasa, salah satu SMA yang dekat dengan tempat tinggalku, seandainya aku bisa masuk sekolah negeri mungkin lebih baik. Tapi aku tidak sepintar itu, haha. Setelah merapikan rambut pendek sebahuku, aku pun bersiap untuk pergi ke sekolah, sarapanku hanya telur mata sapi dan segelas teh manis, tapi ku dengar sekolah swasta jarang mengadakan baris berbaris, tapi entahlah, setiap sekolah memiliki aturannya sendiri.

Hari pertama adalah masa orientasi, pengenalan siswa baru dengan lingkungan sekolahnya dan tentunya teman-teman baru, sepengetahuanku Yayasan Pendidikan Magasa memiliki sekolah dari PAUD sampai dengan SMA, agak canggung bila harus beradaptasi dengan mereka yang sudah saling mengenal, tapi pasti bisa, karena di sini bukanlah di Jepang yang membuat seseorang kesulitan berteman, siapapun dan dari mana pun, baik kenal dekat atau pun tidak, semua akan dianggap teman bila berada di kelas yang sama, itu salah satu hal yang baik yang ada di sini, jadi seharusnya tidak akan ada masalah serius.

Dan sesuai dugaanku, tidak ada baris berbaris, setelah sampai di kelas di bantu pengurus OSIS, aku hanya dapat menelan ludahku sesaat melihat kumpulan anak-anak di sana yang terbagi beberapa grup yang merupakan alumni SMP Magasa, laki-laki yang berkumpul dengan sesamanya, begitu juga dengan perempuan. Aku berjalan sedikit menunduk untuk tidak menarik perhatian, tapi ku rasa itu tidak perlu, tinggku hanya 154 cm, tanpa menunduk pun aku sudah terlihat seperti paling pendek dibanding yang lainnya, aku berjalan ke tempat dudukku yang sudah diatur sebelumnya, paling depan, terlalu mencolok, pasti karena tinggiku, beruntung ada di ujung yang bersebrangan dengan pintu bukan di barisan tengah.

Aku menghitung seluruh jumlah kursi yang ada, tiap tempat duduk terpisah sendiri-sendiri dan total ada 30 kursi, berarti ada 30 murid tiap kelasnya, tidak terlalu banyak ataupun terlalu sedikit. Lima belas menit sebelum jam 7 yang merupakan bel masuk, belum semua murid datang, aku mencoba mengamati secara diam-diam keadaan di kelas ini, dan buruknya, aku tidak melihat satu pun seragam SMP yang berbeda dari anak-anak Magasa, ini gawat. Tiba-tiba satu orang masuk ke kelas dan beruntungnya dengan seragam yang berbeda dari anak-anak lain, tapi sayangnya laki-laki, tidak bisa, tidak mungkin memulai perkenalan dengan lawan jenis begitu saja. Dan setelah bel berbunyi dan semua anak sudah masuk ke kelas, kesimpulannya ada 5 anak dari sekolah lain, aku dan 4 orang laki-laki yang berbeda-beda sekolahnya. Ini gawat, terlebih aku tidak punya teman SMP yang masuk ke SMA Magasa. Ayolah Aria, jangan pesimis.

Yang bertugas memimpin acara masa orientasi ini adalah para guru, yang ku dengar dari berita, wewenang OSIS sepertinya mulai dikurangi karena terkadang dapat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dan orientasi sebenarnya mulai diganti dengan sebutan pengenalan, tapi tidak banyak yang berubah dari yang pernah ku dengar. Kami dibagi menjadi 5 kelompok dengan masing-masing enam orang, karena itu tiap anak baru terpisah masing-masing di kelompok yang berbeda. Sama seperti anak baru yang lainnya, ku rasa kami memilih untuk tidak banyak berbicara karena tidak sopan, kecuali satu orang, kalau tidak salah namanya Albert, saking berisiknya sampai hampir semua anak mengenalnya.
Setelah sebelumnya memperkenalkan diri bergantian, sekarang aku harus memperkenalkan diriku lagi pada kelompokku, agak canggung, pastinya. Tapi bukan masalah, ketua kelompokku sepertinya orang yang baik.

"Namaku Aria Arlene Gerani, d-dari SMP Negeri xx. Salam kenal."
"Gerani? Salah satu unsur kimia?" Aku tahu namaku memang sedikit aneh di bagian itu.
"A-aku tidak tahu."
"Romi, jangan ganggu dia."
"Haha, maafkan aku."

Kelompokku terbagi menjadi tiga laki-laki dan tiga perempuan, tidak mudah menghafal nama mereka semua, tapi di sini ada, Kevin yang terlalu diam, Romi yang baru saja menanyakanku dan Agung sebagai ketua kelompok, lalu Melisa yang membelaku dan terakhir ada Hellen, dan ditambah aku jadi pas enam orang.

"Aku punya ide bagus, bagaimana kalau kau dipanggil Chibi? Hahaha, sepertinya kau yang paling pendek di dalam kelas." celetuk Agung mencoba mencairkan suasana dengan pernyataan berisiko.
"...." sebagai anak baru aku ragu untuk merespon ledekan itu, tapi memang benar, aku paling pendek di sini.
"Kalau dia Chibi berarti kamu jadi pelukis pelangi begitu?" ucapan Melisa membuat semuanya tertawa.

Sepertinya mereka teman-teman yang baik, meksi Kevin dan terutama Hellen sepertinya juga kesulitan berbaur begitu saja. Secara pribadi panggilan pendek itu bukan sebuah masalah besar bagiku, karena selain itu bukan ejekan melainkan kenyataan, panggilan seperti itu dapat memudahkan keakraban jika dilakukan dengan cara positif.

Idiot Aria [COMPLETE]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang