Esok harinya saat jam pelajaran olahraga diadakan uji ketahanan tubuh dengan berlari mengelilingi sekolah. Aku memang cukup baik dalam olahraga, tapi tubuh yang pendek berarti kaki yang pendek membuat langkahku tidak secepat yang lain, paling tidak finish sebagai peringkat ketiga bukanlah hal yang buruk.
Melisa menghampiriku yang sedang duduk di salah satu bangku di sudut lapangan melihat anak laki-laki yang selalu mendominasi lapangan bermain bola sepak setelah sebentar melakukan uji ketahanan tubuh barusan.
"Ini untukmu." Melisa memberikan sebotol air mineral lalu duduk di sebelahku.
"Terima kasih." aku membuka tutupnya dan langsung meminum beberapa teguk.
"Ku dengar kemarin kamu makan siang dengan Velia dan grupnya?"
"Ya, begitulah."
"Apakah terjadi sesuatu?"
"Sesuatu?"
Apa yang sebenarnya di maksud dengan "sesuatu" oleh Melisa? Apa karena Eveline dan yang lainnya tiba-tiba pergi? Aku tidak tahu arah pembicaraan ini?
"Kalau begitu tidak apa-apa ya berarti."
"Tapi sebenarnya ada apa memangnya dengan Velia dan grupnya? Kemarin Eveline dan yang lainnya pergi begitu saja saat mereka mengajak makan siang bersama? Apakah ada sesuatu pada hal itu?"
Melisa terdiam untuk sesaat.
"Cepat atau lambat kurasa kau harus mengetahuinya...."
Setelah itu Melisa menceritakan beberapa kisah lama tentang siapa sebenarnya Velia, atau lebih tepatnya Chloe Velia Magasa, dan nama akhirnya itu menandakan ia merupakan cucu dari pemilik sekolah ini, satu hal yang agak klise menurutku, bersama tiga temannya, Hellen Aurelia, Vania Kirana lalu yang terakhir Sarah Liliana Bernadine yang merupakan salah satu putri pemilik perusahaan media terkemuka. Tapi itu semua bukan intinya, dari perkataan Melisa juga aku tahu bahwa 2 tahun yang lalu sempat terjadi kasus tentang murid yang dikeluarkan atau guru yang dipecat secara sepihak karena berurusan dengan Velia, tidak ada penjelasan tentang hal yang terjadi tapi semua murid yang lulus dari SMP Magasa mengetahuinya.
Aku tidak langsung mempercayai perkataan Melisa begitu saja, paling tidak lebih baik aku memastikan langsung pada Velia kalau memang ada sesuatu seburuk itu, atau jangan-jangan itu bisa saja hanya gosip belaka atau rumor jelek yang tersebar. Esok harinya Velia pun mengajakku untuk makan bersama lagi dan seperti sebelumnya, Eveline dan yang lainnya pergi meninggalkan kami.
"Yo, chibi, apa yang kau bawa hari ini?"
Aku membuka kotak makan siangku layaknya adegan anime memasak, mengeluarkan cahaya fiksi yang memukau, tapi sayangnya hanyalah mi goreng dan ekstra telur dadar di dalamnya.
"Tadi pagi aku sedikit kesiangan, tidak sempat memasak nasi."
"Wah, wah kasian sekali, bagaimana dengan yang lain?" tanya Velia kepada teman-temannya.
Mi goreng, mi goreng, dan roti abon, pastinya itu Hellen. Apa ini memang hari spesial untuk mi goreng? Hahaha, ku rasa aku berlebihan.
"Baiklah, kalau begitu...," Velia berkata sambil membuka kotak bekalnya yang berisi nasi goreng seafood dan beberapa sosis di atasnya. "Aku berikan kalian masing-masing satu sosis sebagai bentuk kebaikan hatiku."
"Wahh terima kasih banyak Velia." Vania dengan senang hati mengambilnya sebelum Velia membagikannya.
"Kau mau juga kan Hellen?" tanya Velia setelah memberikan sosinya padaku dan Sarah.
"Terima kasih." Hellen langsung memakan sosis yang masih tertusuk di garpu Velia.
"Oke, kalau sudah semuanya, selamat makan."
Aku makan dengan tenang sama seperti biasanya, meski terkadang aku teringat dengan perkataan Melisa kemarin, apakah mungkin Velia dan grupnya bisa sejahat itu? Tapi sekarang, mereka tidak terlihat seperti itu. Aku harus menanyakannya langsung.
"Ve-"
"Ngomong-ngomong chibi-" Velia tiba-tiba memotong ucapanku. "Kau saja duluan."
"Ah, tidak apa-apa, ada apa?"
"Umm... baiklah," Velia meletakan peralatan makannya sesaat lalu mengambil minum sebelum melanjutkan pembicaraannya. "Jadi, sebenarnya aku ingin bertanya padamu. Apa kamu mau bergabung dengan grupku?"
"Eh?" aku tidak menyangka Velia akan bertanya seperti itu, tapi maksudnya dengan grupnya itu apa? Ku rasa itu hanya kelompok pertemanan biasa yang sama seperti aku lakukan ketika bersama Eveline lalu bersama Melisa, bukankah itu artinya aku sudah bergabung dengan mereka? Kenapa seformal ini? "Maksudmu apa Velia?"
"Hahaha, sepertinya dia terlalu polos ya." Vania meledekku.
"Jadi begini, gampangnya adalah kau sekarang jadi bagian dari kami, dan kita akan selalu berkumpul bersama di sekolah atau terkadang setelah sekolah selesai. Bagaimana?"
Kedengarannya cukup menyenangkan, tapi kalau secepat itu aku merasa agak canggung, terlebih dengan rumor itu dan lagipula kami baru makan siang bersama dua kali dan aku tidak pernah berbicara kepada Velia atau yang lainnya selain pada jam makan siang bersama ini.
"...." aku mengambil waktu yang agak lama sebelum bisa menjawab hal itu dan Velia menyadarinya.
"Kau boleh memikirkannya lebih dulu, dan beritahu aku nanti. Lalu, apa yang mau kau katakan tadi?"
Aku jadi merasa sedikit tidak enak.
"Ah, iya, jadi sebenarnya ada yang ingin ku pastikan padamu," ucapanku terhenti sesaat untuk menelan makananku.
"Iya?"
"Aku dengar katanya kau pernah membuat seorang murid dan guru keluar dari sekolah? Apa yang terjadi?"
Saat aku berkata seperti itu, seketika keadaan di antara kami berlima menjadi hening, baik Vania, Sarah ataupun Hellen tidak ada yang bergerak dan hanya melihat ke arah Velia.
Apa jangan-jangan aku salah bicara?
"Siapa yang mengatakan hal itu padamu?" ucap Velia memecah keheningan.
"Melisa mengatakannya padaku."
Aku tidak tahu kalau apa yang baru saja aku katakan adalah hal yang terburuk yang pernah ku lakukan. Setelah mendengar jawabanku, Velia berdiri dari kursinya, menatap sekeliling kelas yang agak sepi karena beberapa murid ada di luar kelas, Velia berjalan keluar dari tempat duduknya ke arahku dan setelah mengelus kepalaku dengan pelan ia kembali menatap seisi kelas.
"Hei kau yang di sana! Panggil Melisa kemari!" Velia membentak sambil menunjuk seseorang secara acak dan memberinya perintah.
Orang itu menurutinya tanpa berkata-kata dan langsung pergi begitu saja dan setelah beberapa menit ia datang bersama Melisa dan Eva yang mengikutinya. Baik aku, Vania, Sarah dan Hellen hanya terdiam melihat apa yang terjadi di hadapan kami.
"Apa yang akan Velia lakukan?"
"Lihat saja." Vania sedikit tersenyum ketika berkata seperti itu.
Beberapa langkah dari tempat kami duduk, Melisa mulai berjalan mendekati Velia dengan sedikit tertunduk.
"A-ada apa Velia?" suara Melisa terdengar sedikit gugup.
"Kau yang memberitahukan Aria tentang masalah itu ya?!" suara teriakan Velia memenuhi ruang kelas itu.
Melisa menatapku yang ada beberapa meter di belakang Velia, aku melihat ada ketakutan di wajahnya, aku merasa bahwa apa yang barusan aku lakukan adalah sebuah kesalahan dan itu membuat perasaanku menjadi tidak enak. Kenapa bisa jadi seperti ini?
"Ma-maafkan aku Velia." Melisa menunduk dan berbicara dengan nada memohon.
"Maaf katamu?!" emosi Velia memuncak seiringan dengan suaranya lalu menarik kerah baju Melisa dan bersiap menamparnya.
Apa yang harus kulakukan? Aku bertanya pada diriku sendiri. Situasi ini terlalu buruk untuk harus terjadi.
"Aku harus menghentikan mereka." ucapku pada Vania dan yang lainnya lalu berdiri dari tempat dudukku.
"Hoi, hoi, hoi, jangan lakukan hal bodoh, dasar tolol." Hellen mencoba menghentikanku, tapi aku menghiraukannya.
Sesaat sebelum Velia menampar Melisa, aku pun menahan tangannya yang ada di kerah baju Melisa. "Hentikan Velia, kenapa kau lakukan itu, bukankah itu sama saja seperti apa yang dirumorkan."
Perkataanku menghentikan gerakan Velia dan ia melepaskan tangannya dari kerah baju Melisa, tapi sepertinya itu bukan hal yang baik untukku.
"Ah, sayang sekali, padahal baru saja dia bisa jadi bagian dari kita." Vania menepuk dahinya seperti orang kelelahan
"Hahaha, ku rasa dia memang harus diberi sedikit pelajaran, Velia harusnya mendengarkan kita sebelumnya." ucap Sarah.
"Ya... dia memang benar-benar idiot." Hellen melanjutkan menghabiskan roti abonnya yang tinggal sekali gigitan.
Melihat respon itu, aku tahu bagaimana keadaanku sekarang, bukanlah keadaan yang benar-benar menguntungkan, mungkin Velia dan teman-temannya akan membenciku sekarang, tapi lihat sisi positifnya, paling tidak masih ada Melisa dan yang lainnya, jadi tidak akan menjadi masalah besar-harusnya.
"Kau ini memang anak yang baik ya, chibi." Velia kini menatapku, tatapanya dingin lalu tersenyum menyeringai.
"Velia, kau-"
Belum sempat aku mengeluarkan kalimatku, sebuah tamparan keras dan saking cepatnya sampai tak dapat ku lihat mengarah ke wajahku lalu membuatku terjatuh karena tiba-tiba.
KAMU SEDANG MEMBACA
Idiot Aria [COMPLETE]
Teen FictionAria, seorang gadis SMA yang hanya ingin berteman dengan semua murid di kelasnya, harus menyadari kenyataan ia tidak lebih dari sekadar murid yang dibully oleh Velia dan gengnya. Akankah keinginan Aria dapat terwujud?
![Idiot Aria [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/194337535-64-k347072.jpg)