Tiga hari setelah kejadian itu, aku kembali ke sekolah. Hal pertama yang ku lihat saat membuka mataku hanyalah ruangan putih dengan langit-langit yang tidak ku kenal. Sebuah bilik rumah sakit. Aku terbangun beberapa jam setelah pingsan di lapangan itu. Wali kelasku dengan tatapan ibanya menatapku dalam-dalam. Untuk beberapa hal, aku sangat mengerti perasaannya, di kelas yang 1 yang ia urus, terlalu banyak kejadian buruk terjadi, coretan di dahiku, Hellen, dan pukulan ini. Sebisa mungkin aku berusaha menenangkan dirinya dan berkata bahwa aku baik-baik saja. Beliau menangis, menyalahkan dirinya, bukan berarti ia tidak berempati pada diriku dan tidak mengetahui apa yang terjadi padaku selama beberapa bulan terakhir. Tapi ia pun tidak dapat berbuat banyak. Sekalipun ia tahu Velia mencoreti dahiku setiap harinya, selama tidak ada aduan atau laporan dariku ke pihak sekolah, hal itu hanya akan menjadi bercandaan siswi SMA biasa.
Akibat dari perbuatan Jasmine, mata kiriku membengkak, dan berubah menjadi berwarna putih setelah aku membuka perban yang direkatkan selama tiga hari perawatanku. Dokter bilang ini kebutaan, saat mata mendapat rasa sakit yang teramat sangat hal ini mungkin terjadi. Mungkin ini yang membuat wali kelasku selalu mengunjungiku selama tiga hari aku di rawat di rumah sakit—terlebih karena kerabatku tidak mudah untuk menjengukku.
Saat bercermin di apartemen rumahku, mata ini sangat mengerikan, sekitar 30% dari wajahku terlihat sangat berbeda dan menjijikan. Tapi, satu-satunya yang ada di pikiranku saat melihatnya adalah kenyataan bahwa ini hanya akan menjadi bahan olokan oleh Velia, itu saja, ya hanya itu. Apa yang ku alami saat ini bukanlah sesuatu yang benar-benar besar. Di bandingkan apa yang terjadi saat terakhir kali aku melihat Hellen, hal ini bukanlah apa-apa. Tidak ada perasaan marah atau benci, baik itu pada Velia ataupun Jasmine, aku sama sekali tidak berpikir untuk melakukan pembalasan atau apapun, yang ku pikirkan hanyalah apa aku bisa kembali bersekolah seperti biasa atau hanya akan memperburukku keadaanku dengan Velia, yang satu itu merepotkan. Kadang aku berpikir aku sudah benar-benar kehilangan perasaanku, saat menatap bayanganku di cermin, pandanganku seakan selalu kosong, apa aku telah kehilangan emosiku atau memang ada yang salah dengan kepalaku, aku tidak tahu, juga tidak peduli.
Sejak saat itu, aku selalu berpikir, bahwa mungkin saja ada hal yang lebih buruk yang menantiku, dan mungkin karena pemikiran seperti itu aku selalu siap dengan apa yang akan terjadi termasuk hal kecil seperti ini. Bisa di ibaratkan jika seseorang menganggap bahwa hidupnya dikendalikan oleh sesosok eksisternsi yang maha kuasa yang disebut dengan tuhan, tuhan menganggapku sebagai sebuah mainan yang kebetulan mendapat peran terburuk yang selalu rusak di akhir permainan. Tapi, itu kalau aku benar-benar percaya dengan keberadaan yang disebut dengan tuhan itu. Dan dengan pemikiran itu pula, aku bisa mempertanyakan keberadaan diriku, apakah tuhan benar-benar membenciku? Apakah memang takdir yang disiapkan untukku hanyalah hal-hal buruk dan menyakitkan? Entahlah, tapi setidaknya aku tidak ingin menjadi seorang idiot yang mempercayai hal itu.
Jam Istirahat telah tiba. Aku berhasil melewati pagi dengan tenang, meski setiap orang melihatku sedikit jijik ataupun risih dengan mataku. Seharusnya aku membeli penutup mata saat di rumah sakit. Tapi paling tidak, Velia tidak terlalu senggang untuk menyempatkan diri mengolok-olok diriku yang seperti ini. Aku berjalan menaiki tangga sekolah, tempat yang ingin ku tuju saat ini tidak lain adalah atap sekolah. Sebelumnya, aku berkata mungkin aku sudah tidak memiliki perasaan lagi. Tapi, alasan kenapa aku, saat ini, berada di atas atap tempat terakhir aku bertemu dengan Hellen, mungkin karena aku tidak ingin melupakannya, tidak bisa lebih tepatnya, dan dengan mendatangi tempat ini setidaknya untuk makan siang seorang diri, aku tahu kalau aku masih punya sedikit perasaan, meski aku tidak tahu perasaan apa ini.
Pagar besi atap sekolah sudah banyak berubah sejak terakhir kali kejadian itu. Pihak sekolah jelas tidak ingin kejadian yang sama terulang lagi, dan karena itulah mereka mengganti pagar besi yang sebelumnya menjadi pagar besi yang lebih tinggi, yang tidak dapat dilompati begitu saja. Dan memang lebih baik seperti ini, dibanding mengunci atap sekolah agar tidak boleh di masuki, lebih baik melakukan tindakan pencegahan yang lebih pasti—karena hanya dengan mengunci tidak menjamin tidak ada yang datang ke atas atap, dan dalam hal ini termasuk diriku.
Sambil memegangi bekal makan siangku, aku berjalan di sekitar atap mencari tempat duduk yang nyaman untukku sebelum seseorang yang tidak asing muncul dari balik tabung air yang biasa ada di atap gedung-gedung bertingkat.
“Oh, rupanya kau? Ku pikir tadi itu suara guru, ternyata hanya gadis idiot.”
Itu Jasmine, sepanjang pagi aku tidak melihatnya, aku dengar dia terkena skors, meskipun aku tidak tahu berapa lama, kalau saat ini ia ada di sini, kemungkinannya adalah skorsing-nya tidak lebih dari 3 hari dan berarti dia sedang membolos.
“Ahh….” Aku sedikit menghela napas, selain karena tahu hal ini tidak penting dan menyebalkan, aku sama sekali tidak berniat menjawabnya.
Melihat reaksiku, Jasmine berjalan mendekat. “Oi, oi, untuk apa kau kemari? Mencariku? Ingin balas dendam? Atau menuntut permintaan maaf dariku? Coba lihat mata itu, wah ternyata pukulanku memang masih sekuat dulu, atau mungkin malah bertambah kuat. Kau tidak berpikir untuk mendapat mata seperti itu di sisi yang lain kan?” ucapnya sambil sedikit mengancam.
“Tidak.” Jawabku datar tanpa sedikitpun menatap dirinya. “Aku tidak benar-benar peduli apa yang terjadi dengan mataku ini, dan aku tidak membutuhkan permintaan maafmu, aku hanya ingin makan siang. Itu saja.”
“Makan siang? Kau yakin hanya untuk makan siang? Atau jangan-jangan kau berpikir untuk melompat dari atap sekolah dan menjadi pusat perhatian karena telah di pukul olehku? Ku dengar beberapa bulan yang lalu ada murid melompat dari atap sini? Hahahaha, benar-benar bodoh….”
Tanpa sadar tanganku bergerak dan menampar wajah Jasmine sebelum ia menyelesaikan kalimatnya.
“Kau… tidak tahu apa-apa….” Napasku sesaat tiba-tiba menjadi berat. “Kau tidak berhak menertawakan kematian seseorang tanpa mengerti apa yang dirasakannya.” Aku berkata-kata dengan sedikit membentak, mataku berkaca-kaca, bayangan akan apa yang terjadi waktu itu seakan kembali merasuki ingatanku dan membuatku ingin menangis tapi sebisa mungkin aku menahannya.
Jasmine yang sebelumnya hendak marah karena tamparanku, menjadi terdiam. Ia sama sekali tidak mengetahui tentang Hellen, cerita kejadian itu adalah hal yang tabu, tapi hanya dengan menatap mataku yang berkaca-kaca Jasmine mengerti, orang yang melompat dari atap adalah temanku.
“Cih… dasar cengeng. Aku jadi tidak berniat lagi untuk memukulmu. Terserah kau ingin melakukan apa, tapi jangan ganggu aku. Dan satu lagi, jangan berani-berani untuk memberitahukan guru kelas kalau aku ada di sini.”
Jasmine berpaling dariku dan kembali ke tempat sebelumnya ia bersembunyi, semenara aku mengusap mataku dengan tanganku. Aku tidak menjawab perkataannya sama sekali. Tapi ku rasa Jasmine pun tahu, kalau aku bukanlah seseorang yang serajin itu sampai harus merepotkan diriku untuk melaporkan dirinya pada guru kelas. Setelah menenangkan diriku beberapa saat, aku yang sudah mendapatkan tempatku di atas atap ini pun, membuka bekal makan siangku dan menghabiskannya pada jam istirahat sambil memandang langit biru siang itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Idiot Aria [COMPLETE]
Fiksi RemajaAria, seorang gadis SMA yang hanya ingin berteman dengan semua murid di kelasnya, harus menyadari kenyataan ia tidak lebih dari sekadar murid yang dibully oleh Velia dan gengnya. Akankah keinginan Aria dapat terwujud?
![Idiot Aria [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/194337535-64-k347072.jpg)