Bab 10 : Chapter 2 - Aku Tidak Punya Waktu Untuk Hal Ini

1.4K 121 3
                                        

Alley oop yang dilakukan di detik akhir second half pertandingan semifinal Open House SMA MAgasa, sebuah tembakan buzzer beater yang menjadikan Alex terlihat begitu keren di lapangan, membuat semua mata tertuju padanya. Sekalipun SMA Magasa sudah unggul 89 – 56, Alex tidak ragu memamerkan pesonanya—pesona yang dimiliki oleh siswa SMA pemain basket. Sebagai seorang power forward yang terbiasa melakukan dunk, Alex adalah sorotan utama, salah satu bintang di tim basket pria SMA Magasa, meskipun ia sendiri baru benar-benar mulai bermain basket satu tahun yang lalu, tapi kekuatan fisik dari latihan karate jelas memberikan kelebihan tersendiri, sehingga ia hanya perlu fokus pada latihan teknik permainan saja.

Saat timer berbunyi dan pertandingan berakhir, Alex pun memberikan senyumnya kepada para penggemarnya yang kebanyakan wanita, hal yang tentunya membuat iri laki-laki lain baik itu sesama pemain basket ataupun bukan, ditambah riuh teriakan yang menyorakkan namanya membuat Alex semakin mendapat tatapan sinis dari teman-temannya. Tapi ia membiarkannya, itu sudah menjadi kebiasaan sejak ia bergabung dengan tim dan menjadi pemain inti.

Di antara kerumunan gadis yang bersorak, di sana pula Jasmine berada, sambil terus memegangi botol minuman isotoniknya, Jasmine juga ingin ikut bersorak, ia melakukannya tapi dengan sedikit malu-malu, sekalipun ia tahu bahwa suara ataupun keberadaannya di sana tidak akan benar-benar diketahui oleh kakak kelas yang disukainya itu.

Setelah saling bersalaman dengan tim lawan yang telah dikalahkannya, Alex dan timnya pun berjalan meninggalkan lapangan untuk membiarkan pertandingan selanjutnya digelar. Ini satu-satunya kesempatan Jasmine untuk menyapanya, setidaknya satu kesempatan setelah melewati kesempatan pada pertandingan-pertandingan sebelumnya, yang mana Jasmine tidak berani untuk menyapanya. Sambil memeluk minuman isotoniknya itu, Jasmine sudah membulatkan tekad, karena setelah pertandingan final, tidak mungkin akan ada waktu baginya. Jasmine melangkahkan kakinya, bergerak maju diantara para gadis lainnya yang masih meneriakan nama Alex, tapi sebelum ia sempat membuka mulutnya untuk menyapa kakak kelasnya, seseorang mendahuluinya.

“Selamat ya kak, sudah masuk pertandingan final.” Itu suara Velia. Sambil membukakan minuman kaleng dingin yang sudah ia bawa, Velia menyerahkannya pada Alex yang menerimanya dengan tersenyum.
“Terima kasih.” ucap Alex sambil meneguk minuman yang diberikan Velia. “Jadi, kamu benar-benar datang menonton?”
“Tentu saja, aku kan sudah janji dengan kakak, makanya aku buru-buru membeli minuman ini.” suara Velia terdengar sangat polos, berbeda karakter yang biasa ia tunjukkan.
“Hahahah… kamu bisa saja….” Alex tertawa sambil mengelus kepala Velia.
Pemandangan yang sesaat itu sudah cukup untuk membuat Jasmine kehilangan kata-kata dan tanpa sengaja menjatuhkan botol yang dari tadi ia genggam dan menggelinding ke tempat Alex dan Velia berada, tempat yang sebenarnya tidak ingin di dekati Jasmine barang selangkah pun. Tapi itu sudah terlambat saat Alex mulai menyadari keberadaannya.
“Jasmine….?” ucap Alex memastikan Jasmine yang muncul dari kerumunan. Alex pun mengambilkan botol minuman yang menggelinding ke arahnya lalu mengembalikannya pada Jasmine. “Ini… minumanmu.”
Agak menyakitkan bagi Jasmine untuk mengambil minuman itu dari tangan Alex, tapi ia sebisa mungkin menyembunyikan ekspresinya. “Ah iya, terima kasih kak…” Jasmine mengambil minumannya kembali, lalu melanjutkan kalimatnya. “Selamat ya kak, sudah berhasil masuk final.” Jasmine berkata-kata dengan lirih.

Velia tersenyum dan hampir tidak dapat menahan dirinya untuk tidak tertawa melihat ekspresi menyedihkan Jasmine yang murung saat ini, rencana berjalan sesuai keinginannya. Lalu kalau bisa, ia ingin segera menghancurkan Jasmine secepat mungkin, saat ini juga.

“Ehhh…?” Velia bergumam nyaring. “Kakak kenal dengan Jasmine?” tanyanya.
“I-iya, begitulah. Bukannya kalian sekelas? Memangnya kenapa?”
“Umm… ti-tidak apa-apa sih… aku hanya sedikit takut dengannya.” Velia mengeluarkan segenap kemampuan beraktingnya lalu memegang erat lengan Alex. “Kakak kan tahu saat awal semester kedua, dia gadis yang memukul teman sekelasku hingga masuk rumah sakit.”
Velia membeberkan kejadian awal semester, membuat citra yang jelek bagi Jasmine di mata Alex. Sekalipun kejadian itu terjadi di sekolah, anak kelas 2 dan 3 tidak akan mengetahuinya sama sekali, karena pada dasarnya memang bukan hal yang tidak lebih dari permasalahan di dalam kelas.
“Eh? Benarkah? Kamu tidak salah orang?” Alex tidak langsung mempercayainya begitu saja. Jasmine yang ia kenal tidak lebih dari junior yang baik dan berprestasi meskipun ia memang belum pernah melihat Jasmine bersama teman-temannya.

Idiot Aria [COMPLETE]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang