Hari pertama masa orientasi bukanlah hari yang panjang, hanya perkenalan sesama teman dan pengenalan lingkungan sekolah dan setelah pengarahan sebentar kami dipersilahkan pulang, tapi yang terburuk dari semua itu adalah yel-yel bodoh yang harus dipersiapkan di hari pertama untuk ditampilkan dihari-hari berikutnya. Tidak ada ide yang muncul di antara kami berenam, jadi diputuskan untuk memikirkan sendiri di rumah lalu mengeluarkan ide pada besoknya.
Kelas pun di bubarkan, dan aku bergegas keluar dan ingin berjalan pulang ke rumah. Kelompok-kelompok yang bubar pun kembali terbagi menjadi grup-grup lain, seperti Melisa yang pulang bersama temannya di kelompok lain, atau Agung, Romi dan Kevin bersama kumpulan laki-laki lain yang berencana pergi ke warnet.
Memangnya masih jaman pergi ke warnet saat ini?
Aku sendiri terbiasa menggunakan laptop pribadiku, dan ku rasa murid-murid SMA Magasa memiliki perekonomian yang baik secara rata-rata. Tapi itu tidak terlalu penting, toh kebersamaan memang lebih menyenangkan daripada kesepian seorang diri.
Di lorong sekolah sebelum ke pintu keluar, aku melihat Hellen, sebelumnya dia orang yang agak pendiam saat di kelompok, aku berpikir untuk mencoba menyapanya karena ia berjalan sendirian di depanku, tapi setelah tahu ada teman-temannya yang menunggu di kantin, aku mengurungkan niatku. Sikapnya sedikit berbeda, Hellen tampak aktif dan sangat akrab dengan ketiga temannya itu. Mereka mengobrol dengan akrab, meski sedikit penasaran, tidak sopan menguping pembicaraan orang lain. Aku pun meninggalkan mereka begitu saja dan berjalan pulang.
Hari kedua pun datang, Aku mulai terbiasa dengan keadaan sekolah dan pandangan orang-orang pun mulai tidak asing lagi, tapi tetap saja kadang aku merasa sebagai anak SMP yang salah datang ke sekolah karena terlalu pendek sendiri.
"Pagi Aria." Melisa menyapaku yang sudah datang terlebih dahulu dan duduk di bangku yang disusun menurut kelompok masing-masing.
"Pagi, yang lain belum datang?"
"Agung dan Kevin sudah datang, tapi mereka masih di kantin. Kau sudah memikirkan yel-yelnya?"
Belum sempat aku menjawab tiba-tiba Romi datang mengejutkan kami berdua.
"Pakai punyaku saja, aku sudah memikirkan ide yang brilian. Ngomong-ngomong, pagi chibi, pagi Mel-mel"
"Pagi." jawab aku dan Melisa bersama-sama, meski terdengar sok akrab, tapi Melisa sepertinya sudah biasa, dan siapa sangka dia benar-benar memanggilku chibi tanpa rasa bersalah.
"Jadi ide apa yang kau punya?" tanya Melisa.
"Nanti, nanti... kalau semua sudah berkumpul, akan ku ceritakan ide brilian ini."
Bel berbunyi, dan semua murid kembali ke kelas ke kelompoknya masing-masing dan karena pengaruh Romi, Agung mulai memanggilku dengan Chibi, begitu juga dengan Kevin meski agak jarang, ia sepertinya agak pendiam dengan lawan jenis, bukan masalah besar. Tapi hari ini Hellen tidak datang. Agung sebagai ketua kelompok diminta pertanggungjawabannya oleh guru, hanya saja tidak ada yang tahu kemana ia pergi.
"Melisa, kau tahu di mana Hellen?" tanya Agung.
"Entahlah, aku tidak tahu. Mungkin Velia atau Vania tahu."
Sesuai saran dari Melisa, Agung pun bertanya kepada dua nama yang disebutkan tadi, aku melihat kepada siapa Agung bertanya, dan sesuai dugaanku, mereka adalah teman-teman Hellen yang kulihat kemarin saat pulang sekolah, bersama satu orang lagi yang aku tidak tahu namanya, mereka bertiga satu kelompok. Mungkin itu kenapa Hellen jarang berbicara karena terpisah dari teman-temannya.
"Mereka juga tidak tahu." ucap Agung yang kembali ke tempat duduknya.
"Sudah biarkan saja, besok juga akan datang sendiri, atau paling tidak Velia dan kawan-kawannya sudah mengetahui kabarnya."
Ucapan Romi barusan seperti menandakan keakraban antara Hellen dan teman-temannya lebih dari sekedar teman biasa. Sejujurnya sebagai anak baru itu agak menggangguku, ketika kehadiran sesuatu baru dapat saja merusak keakraban yang sudah lama terjalin, meski ku rasa bukan itu terjadi, semoga saja tidak akan terjadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Idiot Aria [COMPLETE]
JugendliteraturAria, seorang gadis SMA yang hanya ingin berteman dengan semua murid di kelasnya, harus menyadari kenyataan ia tidak lebih dari sekadar murid yang dibully oleh Velia dan gengnya. Akankah keinginan Aria dapat terwujud?
![Idiot Aria [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/194337535-64-k347072.jpg)