Bab 1 : Chapter 3 - Kamu Boleh Aku Bawa Pulang?

3K 215 5
                                        

Kegiatan hari kedua pun di mulai, baris berbaris yang coba kuhindari akhirnya muncul, melelahkan dan membuat tubuh keringat, tapi dari dulu aku orang yang sering berolahraga dan karena hal itu beberapa kegiatan lainnya pun dapat ku lakukan dengan mudah, beberapa permainan kekompakan atau pertandingan tiba-tiba antar kelompok, semua dapat dilalui dengan lancar dan menghasilkan keakraban antar kelompok, rasanya menyenangkan. Sedikit demi sedikit aku mulai mengenal dan dikenal, terutama karena tinggi badan yang mencolok karena pendekknya menjadikanku Aribi, Aria chibi, lagi-lagi Romi yang menyebarkan semua itu.

Dan semuanya itu bertambah parah ketika penampilan yel-yel bodoh yang disiapkan Romi yang diterima begitu saja oleh anggota kelompok lain sambil tertawa sekalipun aku sendiri sudah menolak. Ide Romi adalah menggunakan parodi lagu girlband yang sempat populer dulu dengan gerakan khasnya.

"Chibi... Chibi... Ha... Ha... Ha...." Romi mempraktekkan gerakannya layaknya orang bodoh.

Dan yang paling bodoh dari semuanya adalah memintaku menjadi pusat gerakannya itu, seakan ide lain yang tidak pernah keluar dari Agung dan yang lainnya tidak akan terpakai. Sejujurnya aku sendiri tidak menyiapkan apa-apa, atau mungkin jangan-jangan yang lainnya juga begitu. Dan dengan terpaksa ketika kelompok kami dipanggil ke depan untuk melakukan yel-yel di lapangan sekolah. Aku mau tidak mau melakukkannya, dengan pose gemetar dan jijik terhadap diri sendiri meneriakkan bagian akhir itu.

"Chibi... Chibi... Ha... Ha... Ha...."

Pandanganku seperti kehilangan arah, dan tanpa melihatnya pun aku tahu wajahku memerah saking malunya. Dan ketika aku sadar setelah melakukan gerakan itu, ternyata Agung dan yang lainnya sudah merencanakannya tanpa sepengetahuanku, untuk membiarkan aku melakukannya seorang diri. Dasar gila mereka itu. Melisa hanya menahan tawa ketika aku melihatnya tanpa merasa bersalah bersamaan dengan teriakan tawa seluruh murid yang melihatnya dilanjutkan tepuk tangan cukup keras, sesekali aku mendengarkan beberapa sorakan dari para murid.

"Kyaaaa! Imutnya."
"Coba lakukan sekali lagi."
"We want more! We want more!"

Beruntung guru yang sempat tertawa itu, memastikan bahwa waktu yang dimiliki tidaklah banyak dan harus melanjutkannya ke kelompok lain. Aku tidak berani menatap siapapun saat ini, terlalu memalukan, meski sesekali ada murid yang menggodaku.

"tarianmu bagus chibi."

Aku pun menjawabnya dengan tawa kecil disertai ucapan terima kasih. Mungkin ini akan menjadi aib untuk beberapa minggu ke depan. Pikirku sambil membenamkan wajah di pelukan kakiku yang sesekali disemangati oleh Melisa dengan tepukan di pundak.

Kegiatan hari kedua pun berlalu, meski menyebalkan tapi aku merasa senang. Melisa pun bahkan mengenalkan teman pulangnya yang bernama Eva, sepertinya kami sudah cukup akrab kali ini, tapi karena arah kami pulang berbeda, kami tidak bisa jalan pulang bersama-sama.

Bahkan beberapa gadis dari kelompok lain tidak segan-segan mendatangiku lalu mencubi pipiku tanpa rasa bersalah.

"Kyaa, benar-benar imutnya, kalau begini terus kau akan jadi 'adik' di kelas kita." ucap seseorang yang bernama Evelyn atau Edelyn, aku tidak mendengarnya dengan jelas.
"Kamu dari SMP mana?"
"Tinggal dimana?"
"Apa kau ikut kelas akselerasi? Jangan-jangan kau beneran lebih muda dari kami."
"Kamu boleh aku bawa pulang?"

Pertanyaan-pertanyaan itu menghujaniku sampai aku terlambat pulang setengah jam lebih dari biasanya. Walaupun memang banyak yang mendekatiku, tapi itu tidak semua dan itu adalah hal yang wajar, bukannya aku sedang mencari kepopuleran atau ang lainnya, tapi bisa berteman akrab dengan banyak orang pasti sangat menyenangkan, pertemanan bukanlah sesuatu yang dipaksakan, jadi leibh baik aku menunggu seiring berjalannya waktu untuk bisa akrab dengan semuanya.

Hari ketiga adalah hari terakhir orientasi, hari itu isinya adalah pengumuman tentang bagaimana tata tertib sekolah, penampilan ekskul oleh senior, dan yang paling ditunggu adalah pengumuman pemenang permainan selama masa orientasi, hadiahnya mungkin hanya sekedar beberapa makanan kecil, tapi rasa kemenangannya yang ditunggu oleh murid-murid.

Meski aku termasuk baik dalam olahrga, tapi kinerja tim yang diutamakan, karena kami kekurangan anggota hal itu membuat kami kalah di berbagai bidang permainan dan mendapat hadiah terburuk dari terburuk yaitu sebagai pemenang yel-yel bodoh yang terpaksa harus ku lakukan sekali lagi saat menerima hadiah.

Kapan penderitaan memalukan ini akan benar-benar berakhir!

Dan itulah akhirnya, setelah mendapat tawa dari murid-murid yang ada, aku menjadi pewakilan menerima hadiah dan kembali bersama kelompokku. Tidak banyak yang dilakukan di hari ketiga, dan kami bisa pulang lebih cepat dibanding hari kedua, dan hari ini pula pembagian seragam SMA yang sudah di pesan, bisa diambil di tata usaha sekolah dan bisa memakainya mulai besok. Keseragaman yang membuatku menjadi satu dengan yang lainnya terlepas darimana aku sebelumnya berasal dan masuk ke lingkungan baru ini.

Masa orientasi pun dinyatakan berakhir dan bisa kuanggap berhasil, aku mendapat banyak teman baru yang baik dan dapat beradaptasi dengan cepat. Tapi di hari ketiga ini, Hellen tetap tidak datang, aku bertanya-tanya apa yang terjadi padanya, mungkin aku akan bicara padanya jika ia sudah kembali masuk.

Idiot Aria [COMPLETE]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang