Makan siang di atas atap bersama Jasmine menjadi sebuah kebiasaan yang tidak di sengaja, bukan karena aku ingin melakukannya, tapi murni karena kebetulan dan selalu saja Jasmine yang lebih dulu muncul di atas atap sebelum aku datang, sekalipun ia tidak sedang membolos jam pelajaran, ia tetap bisa ada di sana lebih dulu. Tanpa ada percakapan atau tatapan mata yang berarti, sekalipun kami berada di satu tempat seakan kami memiliki area masing-masing dan tidak saling mengganggu. Rasanya memang agak aneh, meski tidak terlalu canggung, setelah memakan bekal makan siang pun aku selalu turun ke kelas lebih dahulu sebelum bel masuk istirahat berbunyi dan bertemu kembali dengan Jasmine di kelas, jika memang ia benar-benar ingin mengikuti pelajarannya.
Beberapa hari berlalu tanpa ada masalah, sampai tiba-tiba suatu siang saat aku baru saja menutup bekal makan siangku, wali kelasku tiba-tiba muncul dari balik pintu dan memergokiku.
“Ah, rupanya Aria.” Ia terlihat sedikit tergesa-gesa, berlari ke atap sekolah memang sedikit melelahkan. “Apa kau melihat di mana Jasmine? Ibu mendapat banyak sekali laporan dari guru mata pelajaran selama seminggu ini dia selalu membolos kelas.”
Aku bisa saja dengan mudah menjawabnya bahwa ia bersembunyi dibalik tabung air besar yang ada beberapa meter di depanku. Tapi perkataan Jasmine yang telah memperingatkanku membuat mulutku terbisu dan hanya menggelengkan kepala.
“Ah, tidak tahu ya, ngomong-ngomong sedang apa kau di sini?”
“Makan siang.” Jawabku datar.
“Baiklah kalau begitu, jika kamu melihatnya tolong sampaikan padanya untuk menghadap ibu setelah pulang sekolah.” ucap wali kelasku yang langsung meninggalkan atap sekolah setelah menerima anggukanku.
Kalau saja ia berniat sedikit mencari lagi, mungkin dia sudah menemukan Jasmine, mungkin karena dia melihatku yang sendirian membuatnya berpikiran tidak akan ada orang lain lagi di sini. Aku pun bersiap berdiri dan membereskan bekal makan siangku untuk segera turun sebelum bel masuk kelas berbunyi, tapi langkahku terhenti saat Jasmine tiba-tiba menyapaku.
“Aku baru tahu kalau kau ternyata anak yang penurut, setidaknya pada perkataanku.” ucapnya sambil berjalan keluar dari balik tabung air besar tempatnya bersembunyi.
“Yah, kau bisa bilang aku bukan seseorang yang senang dipukuli oleh gadis SMA yang suka dengan kekerasan.” jawabku datar dengan nada menyindir.
“Haha, tapi dari perkataanmu sepertinya kau belum kapok?”
“Lagipula, kenapa kau harus sering membolos kelas?” ucapku mengalihkan pembicaraan.
“Apa pedulimu?”
“Satu, aku tidak suka berbohong pada guru, kedua, kau jadi tidak perlu dikejar-kejar seperti ini lagi ‘kan?”
“Kau pikir memangnya semudah itu? Pelajaran yang membosankan, guru killer, atau terkadang kerja kelompok yang menyebalkan. Ya, terutama itu, melihat orang lain yang tidak ingin sekelompok denganku membuatku muak dan lebih memilih sendirian.”
“Yah, itu semua terserah padamu. Bertahan beberapa jam di kelas atau orang tuamu dipanggil ke sekolah, pilihannya ada ditanganmu, memangnya kau tidak belajar apa-apa saat di skors kemarin? Setidaknya aku sudah menyampaikan pesan wali kelas padamu untuk menghadap ke ruang guru setelah pulang sekolah. Dah.” ucapku sambil berjalan meninggalkannya.
“Ancaman macam apa itu?! Kau yang seharusnya belajar dari kejadian kemarin! Tidak lucu kan menggunakan dua buah penutup mata?” Jasmine terlihat sedikit terseinggung dan menjawab dengan nada kesal dan sedikit meledek.
“Jangan marah padaku, tapi pada ibu wali kelas yang sedang mencarimu.” kalimatku menjadi penutup pembicaraan kami sebelum aku benar-benar meninggalkannya dan turun ke lantai bawah.
Esok harinya Jasmine datang seperti biasa, dan seakan menuruti perkataanku, ia tidak membolos kelas sebelum jam isitirahat seperti yang biasa ia lakukan, sekalipun pelajaran yang diajarkan saat ini adalah matematika, yang mana termasuk dalam satu dari tiga guru killer yang ada di SMA ini. Sesekali mata kami berpapasan dan ia langsung membuang mukanya begitu saja. Sejujurnya aku tidak benar-benar terlalu peduli pada dirinya atau ingin merubahnya. Tapi jika memang itu membuatnya lebih baik, aku pun tidak mempermasalahkannya.
Seperti dengan sengaja menungguku di atas atap, Jasmine berdiri lurus di depan pintu menuju atap dan menatapku dengan dingin.
“Apa kau senang sekarang?” tanya Jasmine tanpa memberiku waktu untuk duduk atau bahkan melewati pintu menuju atap. “Aku tidak ingin melihatmu tersenyum dengan bangga seakan bisa menekanku seperti itu.”
“Aku tidak tersenyum.” memang tidak.
“Ibu wali kelas bilang kalau sekali lagi aku membolos, orangtuaku akan dipanggil, sama seperti perkataanmu sebelumnya, bagaimana kau bisa tahu hal itu? Apa kau melaporkanku?”
Rupanya dia sudah mendatangi wali kelas kemarin, siapa yang sangka dia takut dengan hal seperti itu.
“Tidak mungkin kan aku repot-repot melakukan hal itu.” dan lagi, ku rasa semua murid juga sudah bisa membayangkan hukuman seperti itu bila terus membolos pelajaran, untuk apa aku melaporkan dirinya.
“Bagaimana aku bisa tahu kau tidak berbohong?! Dan lagi, jangan tersenyum!”
Aku tidak tersenyum.
“Baiklah, hentikan saja perdebatan bodoh ini. Katakan saja apa maumu sekarang.” Aku lelah menjelaskan padanya kalau tidak ada hubungannya aku yang melapor dengan hukuman yang akan ia dapatkan, entahlah, apa dia memang benar-benar sebodoh ini atau hanya mencari-cari alasan.
Jasmine berjalan mendekatiku “Apa yang kau punya?”
“Tidak ada apa-apa.”
“Yang ditanganmu?”
“Hanya bekal makan siang. Memangnya kau serendah itu sampai mengambil makan siang orang lain?”
“Kau menghinaku?!”
“Ku berikan sebagian karageku dan anggap semua ini selesai.”
“Sejutu.”
Aku tidak tahu apakah Jasmine memang sebodoh ini atau ini adalah karakter aslinya. Kami duduk bersebelahan dan bersandar pada tembok yang ada di dekat pintu menuju atap lalu membuka bekal makan siangku. Mata Jasmine terlihat agak bersinar saat melihat daging karage yang ku masak sedikit gosong.
“Aku ambil karagenya dan kau boleh makan yang lainnya.” ucap Jasmine tanpa mempedulikan bagian hitam gosong yang ada pada dagingnya.
“Sudah cukup?” tanyaku setelah ia memakan beberapa karage yang membuatku terpaksa makan hanya dengan lauk telur—setidaknya itu favoritku.
“Baiklah ku sisakan satu untukmu dan sekarang berikan aku minum.”
“Tidak ada, aku hanya punya botol minumku sendiri, tidak mungkinkan—“
Sebelum aku menyelesaikan kalimatku, Jasmine langsung mengambil botol minumku tanpa izin dan langsung meminumnya tanpa ragu.
“Aaahh… segarnya.”
“Memangnya kau tidak jijik minum bekas orang lain?”
“Tidak masalah. Aku biasa melakukannya dengan temanku di tempat latihan.”
Oke, tapi sekarang aku yang jijik untuk minum dari botolku sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Idiot Aria [COMPLETE]
Fiksi RemajaAria, seorang gadis SMA yang hanya ingin berteman dengan semua murid di kelasnya, harus menyadari kenyataan ia tidak lebih dari sekadar murid yang dibully oleh Velia dan gengnya. Akankah keinginan Aria dapat terwujud?
![Idiot Aria [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/194337535-64-k347072.jpg)