Saat pulang sekolah tiba, Jasmine sudah menungguku.
“Yo! Aria.” Jasmine merangkulku seakan kami sudah berteman akrab. “Aku tidak menyangka kalau kau benar-benar berani menunjukkan wajahmu padaku.”
“Jadi kau mengharapkan aku lari? Kalau begitu lepaskan aku, dan aku akan pura-pura berlari seakan tidak melihatmu.”
“Apa-apaan jawabanmu itu? Kenapa kau selalu terlihat seperti orang yang tidak peduli begitu hah?”
“Memang aku tidak peduli sama sekali.”
“Cih… Lebih baik kau sekarang ikut aku, kita cari tempat yang menyenangkan untuk menyelesaikan ini semua.” ucapnya sambil menyeretku sambil terus merangkulku.
Dan tempat yang menyenangkan bagi Jasmine hanyalah halaman belakang sekolah yang sepi. Di saat yang sama, seseorang yang dari tadi siang sudah merencanakan sesuatu menunjukkan wujudnya, Velia dan kedua temannya memandangiku dan Jasmine yang tidak menyadari mereka dari jauh.
“Baiklah, Jasmine, bisa kau cepat selesaikan apa yang kau inginkan.”
“Diamlah sebentar.” Jasmine menamparku.
Ahh… Tamparan lagi… sudah lama aku tidak merasakannya. Tapi sejujurnya aku sudah terlalu muak dengan hal seperti ini. Bisakah dipercepat sampai saat dimana aku terkapar atau yang lainnya? Memangnya hidupku ini apa? Hanya untuk ditampar saja?
Melihat tamparan keras itut, Velia yang sedari hanya mengamati pun mulai mendekat sambil sedikit tertawa.
“Wow… wow… apa yang barusan kulihat ini?” goda Sarah.
“Bully-ing… bully-ing… aduh… apakah aku harus panggil guru sekarang? Hahahaha….” Vania berakting sedikit meledek menyahuti Sarah.
Pandangan Jasmine kini tertuju pada mereka bertiga, dan dari reaksinya, Jasmine jelas tidak senang dengan penghinaan semacam itu.
“Haa….” Jasmine menarik napas dalam-dalam. “Rupanya ada penganggu ya? Apa perlu aku membereskan kalian terlebih dahulu?”
“Kyaaaa… Aku takut… Hahahaha….” ledek Vania.
“Kau kira aku sedang bercanda ya?” Jasmine beranjak meninggalkanku dan mendekati Vania.
“Tunggu sebentar!” Velia menyela.
“Oh ya? Ada alasan apa sampai aku harus menunggu orang yang sudah menghinaku?”
“Biar aku sampaikan langsung ke intinya. Aku adalah orang yang membuat dahi gadis di sana jadi seperti itu. Jadi apakah kau mau menjadi bagian dari grupku? Kau bisa menjadikannya pesuruh kalau kau mau?”
Pengakuan yang indah. Seandainya saja dia berkata seperti itu tentang Hellen kepada semua orang.
“Apa untungnya bagiku? Aku bisa menjadikannya pesuruh tanpa harus menjadi bagian dari kalian.” Jasmine menolak tawaran Velia.
“Mungkin kau belum tahu, tapi… Velia cucu dari pemilik SMA Swasta Magasa. Kau tidak akan menyesal bila bergabung dengan kami.” ucap Vania membanggakan temannya.
“Hahahaha…. Memangnya cucu pemilik sekolah bisa apa? Hanya anak manja yang bergantung pada status orang tuanya. Aku bingung kenapa kau bisa bangga dengan hal itu. Kalau itu saja yang ingin kau ucapkan, biar ku luruskan. Aku menolak tawaran kalian dan lebih memilih untuk menghajar kalian satu per satu saat ini juga.”
“Apa kau bilang?” Velia sedikit jengkel dengan hinaan dari Jasmine.
“Kau gila ya mau menyerang cucu dari pemilik sekolah? Kau bisa langsung di keluarkan loh....” tambah Vania.
“Dikeluarkan dari sekolah itu bukan masalah, dengan beasiswaku aku bisa mendaftar kemana saja, lagipula seharusnya sekolah ini yang beruntung sudah menerimaku setelah salah satu muridnya ada yang bunuh diri.”
Jasmine tahu tentang kasus itu? Kenapa dia masih ingin masuk ke sekolah ini?
“Posisi kami tiga lawan dua, kau pikir memangnya bisa melakukan apa?” gertak Velia.
“Kau bercanda kan?” Jasmine tahu itu semua omong kosong Velia. “Aku ini atlit kejuaraan, kalian tidak sebanding denganku. Biar ku tunjukkan pada kalian.”
Jasmine berjalan dengan tenang ke arah Velia yang dilindungi kedua temannya itu. Tapi meski mencoba untuk menahan langkahnya, baik Vania dan Sarah dapat dijatuhkan dengan mudah dengan sekali dorong. Benar-benar tidak seimbang. Kini Jasmine berhadapan langsung dengan Velia, tanpa ragu Jasmine menarik kerah Velia dan menyeretnya serta bersiap untuk menamparnya.
Apa aku akan diam saja dengan hal ini?
Memangnya kau ingin melakukan apa? Ini kan salah Velia sendiri, jelas-jelas kau tidak ada hubungannya. Apa kau memang benar-benar idiot?
Ya, aku tidak melakukan apa-apa di sini, ini masalah Velia dan Jasmine, tidak ada hubungannya denganku.
Tapi… Aku mungkin benar-benar seorang idiot sekarang. Aku tidak tahu seberapa naif diriku sampai masih menjadi seseorang yang seperti ini. Aku tidak akan bilang kalau tubuhku bergerak sendiri, karena saat ini tanganku sedang menahan tangan Jasmine yang hendak menampar Velia.
“Tolong hentikan, Jasmine.”
“Apa?!” baik itu Jasmine, Velia, Sarah maupun Vania—termasuk diriku sendiri—mereka terkejut melihat apa yang sedang kulakukan saat ini.
“Ahh… Dasar kau ini, benar-benar sesuai dengan tulisan di dahimu itu ya, Aria. Kau ini benar-benar… Idiot!” sambil meneriakan kata Idiot ke arahku, Jasmine menghempaskan Velia yang ia genggam dengan satu tangannya, lalu membalik badannya dan mengarahkan pukulan kerasnya tepat ke arah mata kiriku.
Aku tidak benar-benar yakin apa yang ku rasakan saat itu, tapi rasa sakitnya menusuk hingga masuk ke dalam kepalaku dan tanpa ku sadari aku pun terjatuh dan tak sadarkan saat itu juga.
KAMU SEDANG MEMBACA
Idiot Aria [COMPLETE]
Ficção AdolescenteAria, seorang gadis SMA yang hanya ingin berteman dengan semua murid di kelasnya, harus menyadari kenyataan ia tidak lebih dari sekadar murid yang dibully oleh Velia dan gengnya. Akankah keinginan Aria dapat terwujud?
![Idiot Aria [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/194337535-64-k347072.jpg)