Lingkungan yang baru terasa sangat aneh, tidak ada yang ku kenal, tidak ada yang ku ketahui selain kelasku 1-A, pembagian kelas yang sudah dibertahukan sejak aku mendaftar dan mengambil seragam, aku tidak tahu di mana aku harus duduk, sementara kelas masih sepi.
“Selamat pagi, hoamh…” seseorang datang.
Tampaknya ia belum menyadari siapa sebenarnya aku yang asal ia sapa barusan tadi. Aku pun sedikit memerankan peran yang memaksa dan membalas sapaannya.
“Se-selamat pagi.”
Anak perempuan itu mengucek matanya dan akhirnya menyadari keberadaanku yang tidak ia kenal, mungkin karena suara yang belum pernah ia dengar membuatnya menatapku dengan canggung.
“A… A-anu, kamu anak yang tidak pernah masuk sekolah itu ya? Aku tidak pernah melihatmu.”
“I-iya.”
Di ruang kelas itu masih hanya ada kami berdua, sepertinya keberadaanku membuat suasana di sini jadi tidak nyaman untuknya.
“P-perkenalkan, namaku Angel.” gadis itu mengulurkan tangannya padaku.
“Aria…” ucapku singkat.
“Nama yang bagus.”
“Terima kasih… kau juga.”
“Hahaha, sebenarnya namaku cukup pasaran di sekolah.”
“Maafkan aku.” secara reflek aku langsung meminta maaf karena perkataanku yang tiba-tiba, aku takut ia jadi membenciku karenanya.
“Hahaha, tidak apa-apa, jangan menganggapnya terlalu serius. Kalau kau sedang mencari tempat dudukmu, itu ada di situ.” Angel menunjuk tempat duduk yang ada di barisan paling belakang. “Aku duduk di tempatmu. Jadi untuk ke depannya, mohon kerja samanya.”
“Ah, terima kasih banyak, mohon bantuannya.”
“Hahaha, kamu terlalu formal, biasa saja, biasa saja, kita kan teman sekelas.”
Setelah itu aku duduk di tempatku, lalu berusaha mengobrol dengannya entah itu hal-hal kecil tentang sekolah atau pun tentang pelajaran sampai anak-anak yang lain datang satu per satu, menyapanya dan menatapku sedikit canggung. Mereka terlihat ragu untuk juga menyapaku meski ada beberapa anak yang melakukan, itu wajar saja, anak yang tidak masuk selama seminggu tiba-tiba muncul di hadapan mereka. Bel pun berbunyi tanda mulainya pelajaran, Guru yang mengajar pun memperkenalkanku pada yang lain sekalipun itu bukan wali kelasku, tapi sepertinya kabar tentangku sudah menyebar di ruang guru.
Berkat bantuan Angel, aku bisa berkenalan dengan banyak teman-teman yang lain. Angel adalah orang yang ceria dan baik, berkebalikan denganku, yang tertutup dan pendiam. Tapi karena kebaikannya ia menganggapku temannya lalu membuatku membuka diriku kepada teman-teman yang lain dan dapat tertawa bersama. Saat ini aku merasa senang dan bahagia bisa berada di sekolah.
Dalam beberapa hari terjadi perubahan dalam kehidupanku, baik di sekolah ataupun di rumah, aku mulai berbicara dengan paman dan bibi dibantu Elliot yang polos dan tidak tahu apa-apa, meski beberapa hal masih canggung kami bisa makan malam bersama, di sekolah pun begitu, makan siang bersama, mengunjungi teman dan melakukan kerja kelompok, bermain bersama setelah pulang sekolah dan lain-lain.
Tapi apa yang berjalan terlalu lancar terkadang menakutkan dan itulah yang terjadi selanjutnya. Suatu hari aku jajan sendirian di kantin, Angel yang selalu bersamaku saat itu sedang dimintai tolong oleh guru untuk melakukan sesuatu. Ku pikir itu hal yang biasa, aku pun membeli minuman di kantin dan tiba-tiba seorang anak perempuan muncul di hadapanku, aku tidak terlalu akrab dengannya di kelas, meski aku sekarang sudah diterima di kelas 1-A tapi tetap ada murid-murid yang tidak akrab denganku, itu wajar dalam pertemanan, terlalu banyak perbedaan membuat satu sama lain terkadang tidak akrab, begitu juga aku dengan Elma, gadis yang muncul di hadapanku. Dan ada satu hal di mana aku merasa aneh ketika pertama kali masuk ke sekolah adalah, tidak ada yang menanyakan kemana aku pergi selama seminggu itu, baik guru atau teman sekelasku yang lainnya.
“Hei, teman-teman lihat itu. Dia anak yang tidak punya orang tua, lihat betapa kasihannya dia.” Elma berteriak di seisi kantin.
Suasana menjadi suram, beberapa anak ikut tertawa bersama dengannya tapi juga ada yang terlihat tidak senang dengan sikap Elma, tapi yang lebih penting.
Kenapa dia melakukan itu?
Elma mengingatkan satu hal yang penting dari semua ini, semua teman di kelas ataupun para guru sudah mengetahui tentang kejadian yang menimpa orangtuaku dan berusaha untuk tidak menyinggung masalah itu. Itulah kenapa mereka tidak pernah menanyakan kemana aku tidak masuk selama satu minggu pertama sekolah dimulai.
“Aku kasihan padamu anak baru, aku yakin teman-teman yang lain juga begitu. Mereka terpaksa berteman denganmu yang kehilangan orang tua. Aku sih tidak bisa seperti mereka, bukankah lebih baik jujur, kalau berteman dengan anak yatim piatu itu menjijikan daripada memaksakan diri berteman begitu. Kau tidak akan menangis kan anak baru?”
Terpaksa? Jadi selama ini Angel dan yang lainnya berteman denganku secara terpaksa? Apakah benar begitu? Apa iya? Selama ini hanya aku sendiri yang benar-benar menganggap mereka sebagai teman? Bukankah ini terlalu menyakitkan? Kenapa aku tidak menyadarinya?
Aku tahu itu tidak benar kan?
Tidak, aku tidak tahu.
Aku tahu kalau Angel tulus berteman denganku kan?
Tidak, aku tidak tahu.
Kenapa aku membohongi diriku sendiri?
Tidak, aku tidak membohongi diriku.
Kenapa aku mempercayai perkataan Elma dan bukan Angel?
….
Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa?
“Hentikan!” tanpa sadar aku berteriak di kantin dan membuat semua orang yang ada di sana terkejut termasuk Elma.
Air mataku mengalir tak dapat ku tahan. Ini memalukan, Aku benci padanya, benci pada mereka yang menertawaiku, benci pada teman-teman sekelasku, benci pada Angel dan yang terutama dari semuanya, aku membenci diriku sendiri.
Setelah menangis dan mempermalukan diri dihadapan Elma, aku pun berlari, lari dari kenyataan dan pergi meninggalkan kantin, aku tidak tahu kemana aku harus pergi, aku tidak mungkin kembali ke kelas di saat seperti ini. Sambil menutupi wajahku yang menangis memalukan seperti ini aku berlari dan terjatuh di lorong sekolah.
“Aria, apa yang kau lakukan?” Dari kejauhan Angel melihatku dan mencoba menghampiriku.
Aku tidak sanggup untuk bertemu dengannya, ketika aku melihat wajahnya perkataan Elma terlintas di kepalaku.
“… Mereka terpaksa berteman denganmu yang kehilangan orang tua….”
Aku melihat Angel dengan penuh kebencian, selama ini dia hanya kasihan padaku, mereka semua hanya terpaksa berteman denganku, mungkin karena perintah guru atau mungkin juga karena mereka benar-benar kasihan, apapun alasannya itu tidak menyenangkan. Tanpa memedulikannya aku bangkit berdiri dan langsung pergi keluar sekolah dan pulang ke rumah. Di sepanjang orang-orang melihatku layaknya orang bodoh yang menangis dan tatapan kasihan mereka. Aku benci, benci, benci.
Bibi yang sendirian di rumah karena paman sedang bekerja, terkejut melihatku pulang terlalu cepat sambil menangis dan terlebih lagi meninggalkan tasku di sekolah. Mungkin kalau bibi terkejut karena aku kelupaan membawa pulang Tupperware-ku itu lebih baik dan lebih lucu. Tapi sayangnya tidak begitu. Aku tidak dapat melihat mata bibi yang menatapku dengan kebingungan, dan belum sempat ia menanyakan keadaanku. Aku langsung kembali mengurung diriku di kamar. Menangis di kasurku hingga air mataku habis dan tertidur di sana.
Sore hari saat paman sudah pulang. Paman dan bibi terus mengetuk pintu kamarku yang ku kunci dan terus menanyakan keadaanku. Aku tidak menjawabnya, tidak ingin menjawabnya. Dalam kepalaku aku tahu mereka juga kasihan padaku. Aku begitu memalukan sebagai manusia yang dikasihani oleh semua orang. Itu menyebalkan. Paman dan bibi mungkin juga terpaksa untuk mengurusku karena orangtuaku tidak ada. Semua orang sama saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Idiot Aria [COMPLETE]
Teen FictionAria, seorang gadis SMA yang hanya ingin berteman dengan semua murid di kelasnya, harus menyadari kenyataan ia tidak lebih dari sekadar murid yang dibully oleh Velia dan gengnya. Akankah keinginan Aria dapat terwujud?
![Idiot Aria [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/194337535-64-k347072.jpg)