Kenapa aku di sini?
Karena aku tidak ingin pergi ke sekolah.
Kenapa?
Karena papa dan mama sudah tidak ada. Aku kesepian.
Orangtuaku meninggal saat liburan sekolah ketika aku lulus SD, seminggu sebelum aku menjadi murid SMP, orangtuaku mengalami kecelakaan dan menyebabkan aku yang anak tunggal sekarang menjadi seorang yatim piatu, mengurung diri di kamarku, sendirian. Memangnya apa yang bisa kulakukan?
"Aria, ayo keluar dari kamarmu, sudah dua minggu kamu di dalam sana, cepat atau lambat kau harus pergi sekolah nak."
Sejak saat itu, aku diasuh oleh paman dan bibiku, mereka orang yang baik yang sudah ku kenal sejak kecil dan ada juga adik sepupuku yang masih kelas 1 SD, aku tahu mereka juga pasti sedih dan cepat atau lambat waktu akan terus berjalan. Tapi aku kan juga masih anak kecil, aku ingin papa dan mamaku.
Aku tidak menjawab panggilan itu, dan bibi hanya menaruh makanannya di luar kamarku, menungguku mengambilnya sendiri. Paman dan bibi pasti cemas. Aku duduk di lantai kamarku, sambil memaksa memasukan nasi dan sup yang sudah ku ambil, lalu menatap seragam SMP yang tergantung di dinding kamarku. Seragam yang kubeli bersama orang tuaku 3 hari sebelum kematian mereka, setiap kali melihatnya aku menangis, kesal dan marah. Aku tidak ingin mengenakannya, karena itu menyedihkan, aku teringat pujian dari papa dan mama karena aku berhasil masuk SMP setiap melihat seragam itu.
"Wahh anak papa sekarang sudah besar ya."
"Nanti kalau sudah masuk SMP mama belikan barang yang kamu mau ya."
"Kamu juga harus dapat banyak teman ya di sekolah nanti."
"Jangan jadi anak yang nakal. Buat mama bangga ya."
Menyebalkan. Mengesalkan. Aku benci semuanya. Apanya yang buat mama bangga, kalau mama sudah tidak ada. Aku tidak menghabiskan makananku dan kembali ke kasurku, menangis beberapa menit dan kembali tidur.
"Jam berapa sekarang?"
Aku terbangun di kamarku yang lampunya masih menyala, melihat jam di dinding, jam 4 pagi. Melihat makananku yang masih tergeletak di lantai, aku mengangkatnya dan keluar kamar untuk mencucinya. Aku sebisa mungkin menghindari paman dan bibi dengan keluar pagi-pagi.
"Kakak sudah bangun?"
"Eli? Kamu sudah bangun? Sedang apa kamu pagi-pagi begini?"
Sepupu laki-lakiku, Elliot, aku tidak tahu kalau anak kelas 1 SD bisa bangun sepagi ini, seingatku aku selalu kesiangan saat masih kecil.
"Hari ini aku olahraga, aku ingin cepat-cepat pergi. Kakak tidak ke sekolah?"
Perkataan anak kecil yang polos seakan berusaha menyudutkanku tanpa rasa bersalah, aku tidak bisa menyalahkannya, di matanya ia tentu belum tahu kalau aku sudah tidak masuk sekolah seminggu terakhir.
"Ya sudah, ayo kakak bantu siap-siap, kamu bisa mandi sendiri kan?"
"Iya, bisa."
Aku menyiapkan beberapa sarapan kecil untuknya, telur goreng dan segelas susu. Elliot menyantapnya dengan senang sehabis mandi, waktu masih menunjukkan pukul 5 pagi, dan anak ini sudah siap untuk kemana saja.
"Kakak belum siap-siap? Kayak aku dong, anak yang pintar."
Dia baru saja selesai mandi dan menyombongkan hal kecil yang tidak penting, ingin ku jitak kepalanya, tapi itu bukan benar-benar kesalahan yang harus dihukum.
"Iya, iya, kakak siap-siap sekarang, kamu jangan lupa cek buku mu ya."
Meski aku tidak yakin apakah aku akan benar-benar pergi ke sekolah, tapi paling tidak aku ingin memberi contoh yang baik padanya, setidaknya ia akan berpikir bahwa aku akan bersekolah kalau melihatku bersiap-siap dengan mandi pagi. Selesai mengeringkan tubuh, aku tidak langsung mengenakan seragamku, Elliot sudah kembali ke kamarnya, mungkin merapikan buku atau ke ruang tamu menonton TV menunggu paman dan bibi bangun untuk mengantarnya ke sekolah.
Aku kembali ke kamarku. Menatap seragam yang tergantung di dinding.
Apa aku akan pergi ke sekolah hari ini?
Aku tidak tahu.
Sampai kapan aku akan melarikan diri seperti ini?
Memangnya kenapa melarikan diri?
Memangnya kenapa? Kenapa aku tidak bisa menjawab pertanyaan diriku sendiri? Aku berjalan mendekati seragam itu, menyentuhnya dan ingatan akan orangtuaku kembali memasuki kepalaku, aku ingin menangis lagi. Menyebalkan. Aku mengambil seragam itu dan mengenakannya, lalu bersiap-siap pergi ke sekolah lalu menyiapkan buku pelajaran yang jadwalnya sempat di kirimkan guru yang datang ke rumah beberapa hari setelah aku tidak masuk sekolah.
Paman dan bibi terkejut melihatku keluar dari kamar dengan seragam dan membawa tas di punggung, mereka tidak berkata apa-apa begitu juga denganku. Terlalu canggung dan tiba-tiba membuat paman dan bibi menghentikan sarapannya sesaat.
"Kakak ingin pergi bersamaku?" Elliot memecahkan keheningan itu.
"Aria... ka-kamu tidak sarapan dulu?" nada suara bibi agak gemetar ketika berbicara, mungkin ia takut dapat merubah keputusanku.
"Tidak usah, aku akan sarapan di sekolah."
"Ka-kalau begitu biar paman mengantarmu." paman langsung bangkit dari tempat duduknya dengan terburu-buru. Ini benar-benar canggung.
"Aku bisa pergi sendiri." bagiku atau paman, meskipun terdengar normal untuk mengantarku pergi tapi terasa aneh. "Kalau begitu, aku pergi."
"Hati-hati di jalan kak."
Meninggalkan paman dan bibi serta Elliot, aku mengenakan sepatuku dan membuka pintu depan, sudah 2 minggu lebih aku tidak pergi keluar dan hanya melihat jalanan melalui jendela kamarku. Apakah aku bisa melakukannya?
Kenapa sekarang aku memutuskan untuk pergi?
Aku tidak tahu.
Karena aku tahu kalau terus melarikan diri tidak akan ada yang berubah dan semakin lama semakin menyakitkan.
Ya, mungkin aku berpikir begitu. Aku pun menghentakkan kakiku keluar pintu gerbang rumah dan mulai berjalan di pagi hari yang dingin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Idiot Aria [COMPLETE]
Novela JuvenilAria, seorang gadis SMA yang hanya ingin berteman dengan semua murid di kelasnya, harus menyadari kenyataan ia tidak lebih dari sekadar murid yang dibully oleh Velia dan gengnya. Akankah keinginan Aria dapat terwujud?
![Idiot Aria [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/194337535-64-k347072.jpg)