"Keumdong-ah, kau datang juga."
"Tentu saja. Ngomong-ngomong kau latihan disini?"
"Ya, aku latihan disini. Ah aku ingin mengenalkanmu pada seseorang."
"Siapa?"
"Ah.. dia temanku disini. Dia juga berasal dari Produce School, sama sepertimu."
"Oh ya?"
"Tapi sepertinya dia kakak kelasmu."
"Ah begitu. Ngomong-ngomong kau semangat sekali membicarakannya. Kenapa?"
"Aku menyukainya. Ah itu dia."
Deg.. hati Donghyun sakit saat mendengar pengakuan Jiheon. Gadis itu menyukai orang lain. Dia lalu mengikuti arah pandangan Jiheon. Wajar saja dia menyukai anak itu. Dia tampan dan pandai menari. Ah dia merasa kalah.
"Ayo aku kenalkan kau padanya. Kak Wonjin!"
Donghyun hanya menurut saat Jiheon menariknya untuk berkenalan dengan Wonjin. Tiba-tiba suasana hatinya memburuk melihat Wonjin yang mengusak rambut Jiheon. Dia bahkan belum pernah seperti itu. Wonjin pun lalu menyapa Donghyun.
"Ah.. kau Donghyun, kan? Jiheon bercerita banyak tentangmu."
Jiheon? Membicarakannya? Bolehkah dia berbesar hati sekarang?
"Ah iya. Namaku Keum Donghyun siswa kelas 10 dari Produce School."
"Ah salam kenal. Aku Ham Wonjin kelas 12 dari Produce School."
Donghyun mengangguk. Kakak kelasnya ini baik juga. Untuk saat ini dia berusaha mengesampingkan perasaannya. Tujuannya ada disini adalah untuk berlatih demi mencapai impiannya dan menunjukkan bakatnya pada orangtuanya. Dia harus fokus.
"Keumdong-ah, semangat! Aku yakin kau pasti bisa."
Ya, Donghyun sepertinya akan benar-benar fokus. Sudah dia bilang bukan jika gadis itu penyemangatnya?
.
.
.
."Areumdaun areumdapdeon geu gieogi nan apaseo
Apeun mankeum apahaedo sarajijireul anhaseo
Chingudeureun saramdeureun da naman baraboneunde
Nae moseubeun geureon ge aninde jakkuman meoreoman ga""Suaramu bagus juga."
Eunsang terkejut saat melihat Yunseong tiba-tiba masuk ke ruang musik. Hey, dia tidak pernah menunjukkan suaranya pada siapapun. Dia sudah jelaskan jika dia ingin menyerah pada mimpinya bukan? Dia tidak mau terlalu membebani ibunya.
"Kak Yunseong?"
"Ah kau mengenalku, ya?"
"Tentu saja. Kakak kan wakil komdis dan wakil osis disini. Ngomong-ngomong ada apa kakak kemari?"
"Aku hanya bosan. Aku ingin latihan disini."
"Latihan? Dance?"
"Ya, benar. Kau sendiri? Kenapa tidak pernah menunjukkan suaramu?"
"Aku hanya.. takut."
"Aku juga. Aku selalu merasa tidak percaya diri dalam menunjukkan tarianku."
"Bolehkah aku melihatnya?"
Yunseong mengangguk dan mulai menari. Eunsang bahkan sampai terkagum seperti itu. Hey, bagaimana tidak? Tarian Yunseong benar-benar bagus. Dia benar-benar menunjukkan karismanya saat menari. Tak lama kemudian, lagu pun selesai dan Yunseong pun berhenti menari.
"Bagus sekali."
Yunseong kaget. Bagus? Tariannya bagus? Benarkah?
"Benarkah?"
"Ya, bagus sekali. Aku bahkan tidak bisa seperti itu."
"Kau punya poin tersendiri. Suaramu."
Eunsang kembali terdiam. Jujur, dia masih ingin menjadi seorang penyanyi. Tapi dia tidak ingin membebani ibunya dengan meminta untuk les vokal bukan? Itu sebabnya dia menahan diri untuk tidak menunjukkan suaranya. Dia takut jika dia harus mengikuti serangkaian kegiatan dan ya menghabiskan uang yang susah payah dihasilkan oleh ibunya. Terlebih lagi, adiknya sebentar lagi masuk SMA, dia benar-benar harus menahan itu.
"Aku tidak mempunyainya, kak."
"Suaramu bagus. Aku yakin kau akan menjadi penyanyi hebat nantinya."
"Tidak. Aku sudah menyerah, kak. Aku tidak ingin membebani ibuku dengan impianku. Untuk menjadi penyanyi aku harus mengikuti les vokal dan lainnya. Keluargaku tidak mempunyai ekonomi yang cukup. Jika bukan karena beasiswa, aku tidak mungkin ada disini."
"Kau tahu. Aku juga ingin menyerah. Aku tidak punya rasa percaya diri. Dengan begini aku tidak akan pernah bisa tampil di panggung. Tapi aku rasa, aku tidak akan menyerah. Aku sudah sejauh ini."
"Apa yang harus ku lakukan, kak?"
"Lakukan apapun yang kau inginkan. Aku yakin kau bisa."
TBC~
Next?
Voment juseyo~

KAMU SEDANG MEMBACA
To My Youth
FanfictionHanya bercerita tentang anak-anak yang mengalami masa pahit dalam hidup mereka lalu bertemu untuk menggapai mimpi mereka.