"Wonjin-ah?"
"Aish dimana dia?"
Minkyu mencarinya di sekolah tapi dia tidak menemukan anak itu. Dia juga belum datang ke kelas. Firasatnya menjadi tidak enak karena semalam Wonjin bercerita banyak padanya tentang orangtuanya.
"Apa aku harus ke rumahnya, ya? Baiklah aku akan kesana."
Setelah meminta ijin kepada guru piket hari itu, Minkyu pun datang ke rumah Wonjin. Sesampainya disana, dia bertemu ayah Wonjin.
"Permisi, paman. Apa Wonjin ada?"
"Oh, Minkyu. Dia ada di kamarnya. Masuk saja."
Minkyu heran. Anaknya tidak masuk sekolah tetapi ayahnya tidak peduli. Lihat saja, ayahnya bahkan hanya berkutik dengan pekerjaannya. Minkyu pun bergegas menuju kamar Wonjin. Tapi dia tidak ada disana.
"Apa di kamar mandi, ya?"
Dia pun menuju kamar mandi. Betapa terkejutnya dia saat melihat darah keluar dari pergelangan tangan Wonjin. Ya, Wonjin selfharm. Dia segera membawa Wonjin ke rumah sakit.
"Paman, Wonjin selfharm. Aku harus membawanya ke rumah sakit."
Ayah Wonjin tidak mendengarnya. 'Ah, percuma saja bicara padanya' batin Minkyu. Dengan sigap, dia membawa Wonjin ke rumah sakit. Untung saja dia segera membawa Wonjin, jika tidak, entahlah apa yang akan terjadi pada anak itu.
"Apa sih yang di pikiranmu sehingga kau melakukan ini, Wonjin-ah?"
"Kak, apa kak Wonjin baik-baik saja?"
Ya, dia Wonyoung. Dia membolos kelas hari ini karena khawatir pada Wonjin. Dia juga tahu masalah Wonjin sehingga dia seperti ini.
"Dia baik-baik saja. Aku membawanya tepat waktu."
"Syukurlah. Aish, kenapa dia seperti ini?"
"Aku yakin dia susah lelah mengharapkan orangtuanya. Dia pikir ini cara terakhir agar orangtuanya melihatnya."
"Aku sudah memberitahu paman dan bibi. Aku tidak tahu apakah mereka akan kesini."
"Wonyoung-ah, bolehkah aku meminta tolong sesuatu?"
.
.
.
."Ada apa, kak Yunseong?"
"Wonjin. Dia masuk rumah sakit."
"Apa? Kenapa bisa?"
"Dia.. selfharm."
"Kenapa..."
"Aku juga tidak tahu. Dia sangat pandai menutupi semuanya."
Yunseong memang tidak mengetahui apa masalah Wonjin sebenarnya. Dia juga tidak enak ingin bertanya karena dia yakin itu privasi.
"Lalu.. bagaimana dengan tim?"
"Aku rasa kita harus menunggu Wonjin sembuh. Kita masih punya waktu 2 minggu."
"Aku juga berfikir begitu, kak. Kasian kak Wonjin."
"Kak Wonjin kenapa?"
Itu suara Jiheon. Dia datang bersama Donghyun.
"Dia masuk rumah sakit."
"Apa?"
"Dia selfharm."
Jiheon pun lemas mendengarnya. Untung saja Donghyun memegang tangannya, jika tidak gadis itu sudah jatuh.
"Tidak mungkin, kak Wonjin..."
"Itu benar, dia selfharm."
"Dia baik-baik saja?"
"Aku tidak tahu. Minkyu belum memberi kabar."
Jiheon menangis mendengarnya. Donghyun yang melihatnya pun langsung memeluknya.
"Keumdong-ah... kak Wonjin."
"Dia akan baik-baik saja, Jiheon-ah aku yakin."
"Benarkah?"
"Iya. Percaya padaku. Dia akan baik-baik saja."
.
.
.
."Yireon-ah, kau kemari?"
"Tentu saja. Aku khawatir padanya. Dia baik-baik saja kan, Minkyu?"
"Dia sudah baikkan. Kau melihatnya, kan?"
"Kapan dia akan sadar?"
"Dokter bilang tidak lama lagi."
"Kenapa dia seperti ini?"
"Dia lelah, Yireon-ah."
"Dia.. ada masalah?"
"Ya. Dia terlalu pandai menutupinya."
Yireon merasa iba melihatnya. Wonjin yang dia kenal itu selalu ceria, dia selalu bisa mencairkan suasana. Dia tidak menyangka dibalik itu semua dia menyimpan suatu masalah.
"Aku.. tidak menyangka dia seperti ini."
"Aku juga. Wonjin yang aku kenal sangat kuat. Aku rasa dia sekarang sudah ada di puncak masa lelahnya."
Yireon mengangguk. Minkyu benar. Ada kalanya seseorang merasa lelah dengan masalahnya. Tapi, bukan ini satu-satunya cara bukan?
"Yireon-ah, aku ingin mengatakan sesuatu."
"Apa?"
"Wonjin. Terimakasih kau sudah membuatnya ceria seperti itu. Aku rasa kau berperan penting dalam hidupnya. Bersamamu, dia bisa melupakan masalahnya."
"Aku? Tapi kenapa?"
"Kau tahu? Dia tidak pernah membuka hatinya untuk gadis manapun. Tapi dia membukanya untukmu."
"Maksudmu?"
"Aku yakin kau tahu itu, Yireon-ah. Dia menyukaimu."
TBC~
Next?
Voment juseyo~

KAMU SEDANG MEMBACA
To My Youth
FanfictionHanya bercerita tentang anak-anak yang mengalami masa pahit dalam hidup mereka lalu bertemu untuk menggapai mimpi mereka.