"Minkyu-ya."
"Kak Wooseok? Ada apa, kak?"
"Kau.. bergabunglah dengan Wonjin."
"Apa? Tapi kak..."
"Kau tidak perlu khawatir. Kau hanya perlu berjanji padaku. Jika itu tidak akan mengganggu les atau belajarmu. Aku tidak ingin ibu curiga dengan ini."
"Kak, kau..."
"Aku ingin membantumu. Aku juga sama sepertimu. Aku tidak bisa melakukan hal yang kusukai. Itu sebabnya aku diam-diam menyanyi tanpa sepengetahuan ibu."
"Ibu tidak marah?"
"Tentu saja marah. Kau tidak perlu khawatir soal itu. Fokus saja pada event itu. Sampai event itu tiba, aku akan mengajak ibu datang untuk melihatmu."
Minkyu pun langsung memeluk Wooseok. Mereka memang tidak terlalu dekat. Mungkin karena mereka selalu saja belajar. Dan sekarang, mereka baru sadar bahwa mereka saling membutuhkan.
"Kak, terimakasih. Aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan jika tidak ada kau."
"Tidak masalah. Itu gunanya seorang kakak, bukan? Lagipula selama ini aku belum pernah menjadi seorang kakak untukmu. Jadi anggap saja ini pertama kalinya aku benar-benar menjadi kakakmu."
.
.
.
.
"Ham Wonjin."
"Ayah?"
"Iya. Ini ayah."
"Kapan ayah pulang? Ibu mana?"
"Ibu masih ada urusan di London. Kau.. ayah dengar kau masih ikut menari?"
"Iya. Bukankah ayah tidak pernah melarangku melakukannya?"
"Ayah tidak melarangmu. Tapi ayah akan melarangmu jika kau sampai lupa untuk belajar bisnis."
"Ayah.. aku tidak tertarik dengan bisnis."
"Kau harus belajar bisnis. Siapa lagi yang akan meneruskan perusahaan jika bukan kau? Lagipula apa bagusnya menjadi seorang idola?"
"Ayah.. ini mimpiku. Aku ingin mewujudkan mimpiku."
"Mimpi? Apa kau bercanda?"
"Sudah cukup, Yah. Bukankah selama ini ayah dan ibu selalu menganggap aku tidak ada? Ayah mengizinkan ku melakukan ini karena ayah tidak mau aku merasa kesepian, bukan? Lalu kenapa sekarang ayah melarangku?"
"Ini demi masa depanmu, Wonjin! Ini karena ayah peduli padamu!"
"Peduli? Jika ayah peduli padaku, ayah dan ibu tidak akan pernah melupakanku. Ayah dan ibu hanya memikirkan pekerjaan dan bukan aku. Lalu selama ini aku apa, yah? Aku hanya robot untuk bisnis ayah, bukan?"
"Ham Wonjin!"
"Aku lelah, yah. Aku lelah mengharapkan perhatian dari kalian. Aku juga ingin seperti anak yang lain. Selalu diperhatikan oleh orangtuanya. Sedang ayah dan ibu setelah ini pasti pergi lagi, kan? Karena bagi kalian pekerjaan itu lebih penting."
"Kau..."
"Jadi, aku mohon. Biarkan aku memilih jalan ini. Aku melakukan ini karena aku tidak ingin membenci kalian. Apa aku harus mati dulu baru kalian memikirkanku?"
"Wonjin-ah!"
Wonjin lalu masuk ke kamarnya tanpa mendengarkan perkataan Ayahnya. Peduli? Apanya yang peduli jika Ayahnya hanya menganggapnya anak saat bertemu kliennya untuk bekerja sama? Apanya yang peduli jika mereka tidak pernah ada saat Wonjin membutuhkan mereka? Apanya yang peduli jika bagi mereka pekerjaan lebih penting? Wonjin tidak butuh harta yang banyak. Wonjin tidak butuh semua materi ini. Dia hanya butuh perhatian dan kasih sayang dari orangtuanya. Hanya itu. Tapi kenapa rasanya susah sekali?
.
.
.
.
"Keumdong-ah."
"Ada apa, Jiheon-ah?"
"Ayah...Ibu.."
"Mereka bertengkar lagi?"
Jiheon mengangguk meski dia yakin Donghyun tidak melihatnya.
"Aku kesana sekarang. Kau tunggu di luar, oke?"
Sambungan telepon pun terputus. Donghyun bergegas pergi ke rumah Jiheon. Sesampainya disana, dia melihat Jiheon sedang menangis di luar rumahnya. Dia langsung menghampiri Jiheon.
"Jiheon-ah?"
Jiheon langsung memeluk Donghyun. Dia masih menangis. Donghyun pun balik memeluk Jiheon. Dia tahu jika Jiheon pasti tertekan sekarang.
"Sudah, jangan menangis lagi. Aku disini."
"Aku.. takut. Aku takut ayah memukuliku dan ibu kambuh lagi."
"Kapan ayahmu pulang?"
"Baru saja."
"Jangan takut. Ada aku disini."
Jiheon masih saja menangis. Donghyun pun berusaha menghibur gadis itu. Dia tahu masalah Jiheon. Orang tuanya sering kali bertengkar. Jika mereka bertengkar, Ayahnya akan memukulinya dan ibunya akan kambuh lagi sakitnya.
"Aku antar kau ke rumah kak Yireon, ya? Kau bisa menginap disana."
"Apa tidak apa-apa?"
"Aku akan mengatakannya padanya nanti. Jangan menangis lagi. Kau jelek saat sedang menangis."
"Yak!"
"Hehe.. ayo jalan. Akan ku traktir kau es krim sebelum ke rumah kak Yireon."
Jiheon mengangguk. Mereka pun mulai berjalan menuju kedai es krim.
'Aku tidak ingin melihatmu menangis lagi, Jiheon-ah. Akan ku pastikan kau akan bahagia nanti.'
TBC~
Next?
Voment juseyo~
KAMU SEDANG MEMBACA
To My Youth
FanfictionHanya bercerita tentang anak-anak yang mengalami masa pahit dalam hidup mereka lalu bertemu untuk menggapai mimpi mereka.
