DUA kehidupan, dua jiwa, dua pikiran, yang disatukan dalam ikatan rasa bersama sebuah atap pernikahan. Menunjukkan sebuah kesatuan, di mana setiap cuil hati yang dimiliki dan setiap saset kebohongan akan mengurai tiap ikatannya. Perlahan-lahan, lalu seluruhnya. Tinggal bagaimana rasa itu menjadi pengikatnya kembali, sebelum tercerai berai karena ego tiap pecahannya.
Dua insan yang tengah berada dalam rengkuhan satu sama lain, berpelukan dalam tangisan yang mengubah segala hubungan keduanya selama ini yang berasaskan kebohongan dengan alasan demi kebaikan dan kebahagiaan satu sama lain. Menyembunyikan lukanya masing-masing, lalu berdiam diri seolah dunia adalah tempat pengabulan harapan kebahagiaan. Hingga keduanya lelah, Ali dan Maira yang tengah menyalurkan semua beban untuk ditanggung bersama melalui pelukan, kini mulai tenang.
Setelah beberapa saat terdiam membisu, dalam aksama penuh nestapa kepada Tuhan Semesta Alam karena tidak membiarkan hubungan itu berlangsung apa adanya, dengan celah-celah yang kian menambah cinta. Bukan menjadi hubungan yang berjalan sempurna, tetapi tanpa cinta yang kian membesar akibat luka yang menguatkan.
"Aku nggak bisa mengerti kamu, kalau kamu nggak bicara. Aku nggak bisa mengerti apa yang kamu mau, kalau kamu nggak minta."
Maira mengangguk, mengeratkan pelukannya, menghabiskan isaknya.
"Aku mencintaimu, tidak seperti aku mecintai Tuhan. Tapi, aku mencintaimu karena kamu adalah orang yang membawaku mengenal Tuhan. Cinta ini tidak sempurna, Ra."
Ali mengembuskan nafasnya, mengecup singkat pucuk kepala istrinya dan memejamkan mata. Sembari menata hatinya, ia mendongak dan menatap langit-langit kamar yang berwarna putih kosong. Seperti istrinya yang selalu tampak bersih, selalu mengutamakannya, selalu membahagiakannya, selalu mengaguminya, selalu menyempurnakan dirinya, selalu tersenyum. Intinya, selalu tampil dengan baik-baik saja yang sempurna bahagia. Padahal punggungnya telah membungkuk dan mulai menghitam, karena menanggung semua ketidak bahagiaan dunia seorang diri.
"Cinta ini tidak sempurna. Jadi, bantu aku untuk tidak menjadikannya semakin memudar, dengan membiarkan aku menjadi pelindungmu."
Maira mengangguk kembali, tetapi tetap diam takzim meresapi tiap kata yang keluar dari bibir suaminya. Mencoba menyerap ilmu dari pria yang lebih mengerti tentang hati itu, yang selalu ia kagumi, yang selalu ia cintai, yang selalu ia banggakan, yang selalu menjadi satu-satunya nama dalam doanya, yang menjadikan setiap rasa meresap begitu jauh hingga ke sumsum tulang-tulangnya.
"Apa kamu nggak percaya kalau aku mampu melindungi kamu? Apa sebegitu nggak pantasnya aku menjadi pelindung kamu?"
Pelukan tangan Maira mengerat, ia tak menyangka bahwa Ali akan berpikir bahwa dirinya telah merendahkan pria itu. Ia tak mengerti, bahwa suaminya akan bertindak seperti seorang pria yang tak dibutuhkan istrinya sebagai pelindung dalam bahtera ini. Maira mempercayai suaminya. Ia percaya pada Ali. Namun, ia ingin menjadi seperti Umi Fatimmah yang selalu tangguh menanggung semua luka sendirian.
"Kamu tidak akan tahu, apa yang terjadi di balik dinding-dinding rumah setiap pasangan, Ra."
Deg!
Itu adalah kalimat yang sama yang diucapkan oleh Abah, berbulan-bulan lalu sebelum ia pergi ke Cikarang bersama Ali sebagai pengantin baru. Ia melupakannya, benar-benar melupakannya. Bagaimana mungkin, seorang ibu akan membiarkan putrinya melihat sosok ibu itu menjadi sosok yang lemah, tidak mampu menjadi rumah bagi anaknya, berdiri rapuh sebagai penopang rasa untuk putrinya, dan menjadi wanita yang mudah jatuh hanya karena luka dunia?
Bagaimana mungkin, orang tua akan membiarkan ketidakbahagiaannya terlihat oleh anaknya? Bagaimana mungkin, ia tak menyadarinya sedikit pun?
Tubuhnya membeku. Kesadarannya selama ini menghilang kemana? Ali mengembuskan nafasnya lagi, lalu mengangkat dagu Maira, berniat untuk membuatnya bisa menatap wajah tirus dan mata cerah istrinya. Yang bagaimanapun keadaannya, selalu bisa membuatnya jatuh cinta setiap saatnya. Setelah menatap sekian lama, menyelaminya, tanpa melakukan apa pun. Ali tersenyum dalam kebisuan Maira.
KAMU SEDANG MEMBACA
Buku #2 | My Persistent Niqobi [TAMAT]
SpiritualCover by Finairakara Buku 2 | Niqobi Series ------------ "Syafakillah, Bidadari." Wanita itu tersenyum lebih cerah, hening. Hingga suara latunan adzan tanda Maghrib tiba berkumandang cukup keras dari surau terdekat. Suara merdu yang membuai melantun...
![Buku #2 | My Persistent Niqobi [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/139884456-64-k571875.jpg)