Bab Tiga Puluh Empat: Menambal Dinding-Dinding

2.2K 143 19
                                        

Pria bermata sayu yang merangkul perempuan mungil dalam kursi penumpang pesawat tujuan Jakarta itu merasa tengah merengkuh bidadari paling suci. Bidadari yang sengaja diturunkan oleh Pemilik Cinta untuk menemani langkah-langkahnya di dunia, sembari bertanya-tanya kebaikan apakah yang membuatnya pantas mendapatkan pendamping dengan hati bersih melebihi pualam, dengan untaian kata maaf yang melebihi bulir debu di seluruh daratan, dengan ribuan doa yang selalu mengalir melebihi buih di seluruh lautan.

Ali menyaksikan bagaimana gumpalan-gumpalan awan yang seringkali membuat Maira bermunajat penuh kekaguman dan keceriaan. Meski kini perempuan itu tengah terlelap dalam dekapan. Ia tersenyum kecil melihat awan-awan itu, tanpa gerakan bermakna ia memejamkan mata. Mencoba cara yang selalu Maira jaga untuk setiap suka-duka, mengetuk pintu-pintu langit melalui doa.

“Aku sudah menjadi pakaian koyak bagi kamu. Jadi, biarkan aku menjadi pakaian yang layak untukmu, di masa ini, dan masa-masa selanjutnya.” Ali berbisik, memenuhi panggilan jiwanya yang tengah benar-benar kalut, tetapi ditenangkan hanya dengan menatap Maira.

Sedangkan perempuan itu tersenyum di balik lelapnya, tanpa peduli bahwa rasa sakit yang ia terima sebelum-sebelum itu adalah luka yang mampu membuatnya hampir saja menyerah untuk bertahan. Namun, ia tahu bahwa segala jalan dalam kehidupan tidak akan pernah mulus, jika Jannah adalah hadiah yang ingin ia dapatkan. Ia ingin mempersembahkan surga bagi suaminya pula. Karena sebagai sesama manusia, ia dan Ali tidak hanya sekadar terkait, tetapi saling menjadi bagian dari diri dan hati masing-masing.

Jika cinta ini adalah bentuk perjuanganku meraih cinta-Mu, maka kuatkan aku, ya Rabb.

Tanpa diminta, dua hati yang terhubung karena cinta tanpa syarat itu saling membahas dalam doa kepada Sang Pencipta. Mencoba kembali menguatkan, memperbaiki dinding-dinding rumah dan hati.

“Mantu Mama!!”

Teriakan sambutan dari Reva yang memenuhi seluruh rumah itu berhasil membuat beberapa asisten rumah tangga yang sedang bekerja menoleh ke arah datangnya Maira dan Ali. Bahkan ketika mereka berdua baru saja menyembulkan tubuhnya dari balik pintu utama, tidak lama setelah tiba di Jakarta, setelah menetap beberapa hari di Malang.

“Assalammualaikum, Ma.”

“Waalaikumussalam, gimana kabar keluarga di Malang? Kamu sudah makan? Sudah minum susu? Istirahat semalam nyenyak? Ada mual atau mun--”

“Ma, biar Maira istirahat dulu, ya?” potong Ali dari seruntutan kalimat tanya mamanya. Terlebih ia takut Maira kembali bersedih karena rentetan pertanyaan tentang kehamilannya, walau ia yakin Maira tak akan pernah melupakan hal tersebut, berikut detail-detail kecilnya. Bahwa memang sebuah kodrat bahwa perempuan akan mudah memaafkan, tetapi tak pernah mudah melupakan. Terutama yang berurusan dengan perasaan.

Air muka Ali yang terbaca tak sedap di mata Reva membuat kerutan di kening, tetapi ia memilih diam dan membiarkan Maira untuk beranjak ke kamar dan beristirahat sesuai anjuran anak lelaki satu-satunya itu. Perlahan, matanya mengekori derap-derap ketukan sepatu dari hadapannya hingga pangkal tangga. Meski ia tersenyum melihat kedua sejoli itu kembali bersama, tetapi ia tersenyum tan puas melihatnya. Ada sesuatu yang mengganjal dalam respon mereka.

“Ahlam saiidah.” Mimpi indah. Ali mengecup kening Maira dan berbisik, sembari hati melantunkan sebuah doa. Syafakillah, wahai hati istriku.

Maira yang telah berdiam di pelukan suaminya di balik selimut itu merapatkan diri. Mencari perlindungan di tempat yang nyaman, dan entah apakah itu hanya akan ia rasakan sendiri atau akan ada kepala lain yang bersandar di waktu-waktu berikutnya. Hingga nantinya, saat ia merangkul pria kesepian itu, ia tak akan lagi mencium aroma mentol dari parfum suaminya, melainkan khas wewangian tubuh perempuan. Ia takut kehilangan tempatnya untuk meringkuk.

Buku #2 | My Persistent Niqobi [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang