SAAT membuka mata dan menemukan orang tercinta yang paling dikasihi, untuk pertama kali di waktu di mana do'a seperti anak panah yang diluncurkan tepat pada sasarannya. Maira kembali menemukan kenikmatan menatap wajah lelap pria itu, bulu mata lentik yang tak terlalu panjang dan berwarna hitam, bibir tebal yang menyembunyikan gigi gingsul suaminya dengan porsi yang tertakar sempurna, hidung mancung yang sedikit besar tetapi membuat wajah suaminya begitu elok rupawan, juga rambut berantakan yang mampu menahan Maira untuk tidak mengalihkan pandangan.
Tangannya terulur untuk menyentuh wajah itu, bibirnya mengulum senyuman, dengan mata berbinar penuh kekaguman. Namun, dalam beberapa detik sebelum tangan itu mencapai tujuannya, sebelum senyuman itu mengembang dengan sempurna, air mata kembali mengalir dengan sendirinya.
Wajah ini tidak akan lagi kunikmati untuk diriku sendiri.
Tangannya mengambang, lalu sebuah kecupan di telapak tangannya itu mengejutkan Maira. Beserta kekehannya sekali.
"Aku selalu tahu, kalau setiap membangunkan aku tidur, wajah kamu pasti memerah. Ternyata karena menatapku begitu lama, ya?"
Maira menarik tangannya cepat, serta secara bersamaan ia berusaha menghapus air matanya. Ia tidak ingin, kebahagiaan di sepertiga malam itu sirna hanya karena kecemburuan hatinya yang tak ingin berbagi suami.
"Abi kepedean banget!" pekik Maira menutupi rasa sedih sekaligus rasa malu dalam hatinya. Ia hanya perempuan yang tidak pernah digoda sedemikian rupa. Terlebih, pria yang menggodanya adalah seseorang yang telah ditakdirkan bersamanya oleh Allah azza wa jalla. Ia segera beranjak untuk memunggungi Ali dengan segenap degupan jantungnya, yang akhir-akhir ini sering ia khawatirkan karena tak pernah muncul lagi.
"Malu, ya? Ciiee, Maira malu."
Perempuan itu menganga terkejut, ia lupa bahwa pria yang masih berbaring di ranjangnya itu adalah pria tengil yang suka menggodanya sejak lama. Sontak kepalanya menoleh cepat dan tangannya menyabet bantal. Dalam sepersekian waktu, bantal itu sudah dipukulkannya ke tubuh Ali yang kini berpura-pura mengaduh, meskipun kekehan renyah begitu mendominasi.
"Abi jahat! Abi jahat!"
Tidak berselang lama, Maira ikut tertawa bersama suaminya. Ali mengembuskan nafasnya begitu dalam, ia tak pernah melihat tawa renyah Maira yang begitu menggembirakan. Ia telah kehilangan tawa itu dalam beberapa waktu. Bukan. Ia tidak pernah kehilangan tawa istri minimalisnya itu. Justru, ia adalah tersangka utama yang patut untuk dipersalahkan karena telah mengubur tawa itu dari diri istrinya. Tanpa sadar, Ali yang begitu menikmati tawa Maira—yang masih saja memekik sembari tertawa dan mengatakannya jahat karena menggoda Maira—hingga ia melamun dan tak menyadari, Maira tengah menatapnya heran.
"Abi …."
Ali diam, ia masih saja melamun dengan senyuman terkembang penuh di bibirnya sembari menatap Maira. Sementara perempuan yang masih saja mengenakan kerudung biru, meski bentuknya telah tak rapi, itu mencolek-colek pipi tirus suaminya. Ia mengernyit, kemudian mengembangkan senyuman.
"Abi!"
"Astagfirullah! Umi," pekik Ali karena terkejut mendapati jemari mungil itu berada di hidungnya, menghentikan jalur udara untuk memasok kebutuhan paru-parunya akan oksigen. Ditambah teriakan kencang di telinga yang membuat telinga kanannya itu berdenging dengan degupan jantung yang terlampau keras. "Nanti kalau hidung aku lepas gimana?"
"Habisnya Abi bengong."
Menggosok telinga dan hidungnya adalah kegiatan Ali saat ini, hingga ia menyadari bahwa Maira mengedipkan mata perlahan dan menunduk sendu. Ali tak menyukainya, ia memilih untuk bangkit dari posisinya dan duduk di hadapan Maira. Merengkuh perempuan yang tengah mengandung buah hati mereka itu. Lalu, pernyataan Maira yang begitu lirih berhasil menohok jantungnya, seolah menghirup segala nyawa yang ada dalam dirinya, dan menghempaskannya dalam ceruk keputusasaan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Buku #2 | My Persistent Niqobi [TAMAT]
EspiritualCover by Finairakara Buku 2 | Niqobi Series ------------ "Syafakillah, Bidadari." Wanita itu tersenyum lebih cerah, hening. Hingga suara latunan adzan tanda Maghrib tiba berkumandang cukup keras dari surau terdekat. Suara merdu yang membuai melantun...
![Buku #2 | My Persistent Niqobi [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/139884456-64-k571875.jpg)