Bab Dua Puluh Delapan: Pesan untuk Abi

2.4K 214 16
                                        

DALAM setiap langkahnya menuju ke rumah Pemilik Hati, ia memikirkan banyak hal yang tak pernah ia duga sebelumnya. Hal apa yang telah ia abaikan adalah hal yang pernah ia perjuangkan dengan sepenuh tenaga, bahkan dalam waktu yang begitu lama hingga mengubahnya menjadi insan yang tidak terkira kejamnya. Dan kini, setelah ia mendapatkannya, perjuangannya ia sia-siakan dengan membuang segala sesuatu itu tentangnya. Maira-nya.

Semua memori yang telah bercokol dalam hati yang berusaha untuk ia tutupi dan abaikan, muncul kembali ke permukaan dan menohok segala ego-nya. Ia seperti api yang disiram air, perlahan tetapi mematikannya.

"Eh, lo di sini?"

Ali menolehkan kepala, matanya menemukan sahabatnya tengah berada di sampingnya bersama dengan sosok yang membantunya mengingat jalan untuk kembali, Ibrahim. Ia melihat pria keturunan Arab itu tengah menyimpulkan senyuman, meski ia sangat ingin bertanya bagaimana keduanya bisa datang ke masjid secara bersamaan. Seingatnya, apartemen tempat Rio tinggal tidak dalam jarak yang dekat dengan masjid inijuga terdapat masjid yang lebih dekat dengan masjid lain.

Namun, ia mengurungkan untuk bertanya.

"Gue kira lo ke Malang sama Maira."

Keningnya mengerut. Malang? Maira ke Malang? Bukannya ia di rumah sakit?

Sementara Rio saling pandang sekilas dengan Ibrahim, kemudian ia meringis ketika menyadari sesuatu. Meski ia heran dengan hal itu, tetapi ia lebih tahu bahwa seharusnya ia tidak membicarakan itu. Walau ia enggan untuk menahannya.

"Masuk, yuk. Sudah Adzan."

Itu ajakan Ibrahim. Membakar hati pria yang tengah menggenggam bara api adalah hal yang tidak seharusnya dilakukan. Dengan menyebutkan segala sesuatu yang berhubungan dengan keluarga, rasanya Ibrahim tahu bahwa rumah tangga sahabat barunya itu tengah tidak baik-baik saja. Sampai ketiganya berdiri sejajar, mendirikan shaf untuk menemui Ilahi dalam setiap gerakan seirama bersama jemaah lain. Menggumamkan setiap takdir hati yang tak pernah begitu gamblang, dan penuh misteri. Mencoba mencari tempat Perlindungan dari Maha Pelindung.

Kajian rutin selepas Maghrib kali itu, adalah sebuah jawaban yang dikirimkan langsung oleh Maha Cinta untuk Ali.

"Apa yang ada dalam wanita yang membuatmu tergoda, sejatinya juga dimiliki oleh istrimu."

Hadist Nabi sholallahu alaihi wassalam itu pernah dibacanya dalam buku yang diberikan oleh Maira. Ia bahkan berdiskusi dengan Maira, mengenai alasan mengapa hadist itu bisa muncul terkait dengan kisah Rasulullah yang pernah menatap seorang perempuan dan justru memilih untuk mendatangi salah satu istrinya. Karena bagaimanapun, yang halal dan dalam ridho Sang Ilahi adalah yang terbaik dari yang terbaik.

Semua yang pernah dilakukannya bersama Maira, semua kenangan bahtera rumah tangganya, perlahan berputar seperti kaleidoskop yang menyadarkannya dari segala rasa buruk sangkanya. Menyibak segala mendung yang ia ciptakan sendiri dalam pelayaran penuh badai. Ia hampir saja meninggalkan kapal yang hampir menabrak karang dan siap hancur untuk tenggelam itu.

"Marahnya wanita adalah diam, sedangkan kecewanya adalah pergi."

Apa Maira benar-benar pergi tanpa izinku? Kecewakah dia?

"Jangan biarkan istrimu pergi dari rumah dalam keadaan kecewa. Karena ia akan sulit untuk kembali."

Setelahnya, pikirannya yang semula kosong, seolah mendadak diisi dengan segala ingatan dan pemikirannya kembali.

Buku #2 | My Persistent Niqobi [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang