"ini dia, dia cantik kan?" tanya padaku sambil menunjukkan foto seorang gadis yang tengah tersenyum.
Sangat manis.
Tapi hal itu membuat ku terkejut setengah mati.
Dia, dia adalah gadis yang sama, yang bertemu dengan ku 1 bulan yang lalu.Gadis yang bahkan tak pernah hilang dalam ingatanku.
"kakak, aku harus pergi 10 menit lagi kelas akan dimulai"
Aku tak menghiraukan perkataan adik ku.
Apa yang harus aku lakukan sekarang?
Tidak ada yang bisa aku lakukan sekarang, benar, tidak ada.
Aku terus berjalan di koridor kampus tanpa memperhatikan sekitar ku, sampai aku melihat gadis itu lagi, ia sedang berlari menuju kearahku.
"astaga, kenapa sepatu ini harus lepas diwaktu yang tidak tepat"
"jika seandainya hari ini aku tidak terlambat aku tidak akan memakai mu"
Dia terus mengoceh karena sepatunya yang terlepas dari kakinya.
Dia terlihat sangat menggemaskan,
Ku lihat ia kembali berlalri meuju kearahku dan melewati ku begitu saja.Apa dia tidak melihat ku?
Atau apa ia sudah melupakan ku?Memangnya siapa aku yang harus dia ingat? Aku hanyalah seseorang yang tanpa sengaja bertemu dengannya.
Dan lagi pula dia adalah gadis yang sama yang akan di lamar oleh fatih, aku harus bisa melupakannya.
Aku kembali melangkah menuju fakultas hukum.
Setelah pulang dari kampus, ibu dan fatih serta Aisyah sedang membicarakan lamaran yang akan dilakukan malam ini, tentu aku tidak akan ikut membicarakan nya, apa lagi akan mengahadirinya.
Mungkin sikap ini sedikir kekanakan akan tetapi siapa yang akan sanggup melihat gadis yang kau cintai di lamar oleh saudara sendiri?
"Ilham, kau sudah pulang nak? Kemarilah, bergabunglah untuk membicarakan lamaran malam ini"
"tidak ibu, aku merasa sangat lelah dan juga sedikit pusing aku akan beristirahat saja sekarang" jawab ku.
"baiklah tidak apa-apa, kau bisa beristirahat agar bisa ikut serta malam ini".
"tidak ibu, aku juga tidak akan ikut, malam ini aku ada pekerjaan dan harus segera menyelesaikan nya"
Elak ku."pekerjaan apa yang sangat penting hingga bisa menghalangi mu untuk mengahadiri acara lamaran ku ilham? " kali ini fatih aku langsung kembali berjalan ke kamar ku.
Aku tidak tau harus apa sekarang.
Karena merasa tak tenang aku memutuskan untuk mengambil wudhu dan membaca al-qur'an, dan benar saja setelah membaca al-qur'an kegelisahan serta kekhawatiran seolah lenyap begitu saja di gantikan dengan rasa tenang.Setelah membaca al-qur'an ku putuskan untuk beristirahat, aku terlelep hanya dalam beberapa menit saja.
*
Entah berapa jam aku tertidur, tapi aku bangun setelah adzan maghrib di kumandangkan.
Setelah melaksanakan sholat maghrib aku kembali membaca al-qur'an.
Sampai terdengar suara bising dari bawah karena sibuk bersiap, utamanya suara ibu yang sedari tadi tak berhenti berteriak memanggil fatih yang tak kunjung selesai bersiap.Mungkin dia sangat gugup, fikirku.
Aku pun memytuskan untuk kebawah menemui ibu ku.
"ibu kenapa ibu berteriak sepetti itu? " tanya ku setelah berada di hadapan ibu ku.
"fatih, sedari tadi belum selesai bersiap"
"mungkin dia sangat gugup ibu karena itulah ia membutuhkan banyak waktu" kata ku sambil menampilkan senyum yang begitu ku paksakan.
Terlihat Aisyah menuruni tangga dengan gamis maroon miliknya dan kerudwng yang berwarna senada, terlihat sangat manis.
"jadi kau juga ikut adik kecil?" tanya ku
"kenapa tidak, aku akan bertemu calon kakak ipar ku, ini juga merupakan yang pertama untukku kak, selama 3 tahun mengenalnya aku tidak pernah kernah kerymahnya syifa sekalipun" jelas panjang lebar.
"lihat, kak fatih sudah selesai" kata Aisyah saat melihat Fatih menuruni tangga.
Dengan kemaja biru, celana hitam dan juga sepatu tentunya."jadi kau benar-benar tidak ikut?" tanya fatih.
"iya, maafkan aku, pekerjaan ku benar-benar penting" jawab ku
"pekerjaan apa? " tanyanya.
Berusaha menenangkan hati dan fikiran itu yang akan aku lakukan, batin ku.
"masalah kampus"jawab ku berbohong.
"baiklah tidak masalah jika kau tak ikut bersama kami. tapi saat pernikahan nanti kau harus menghadirinya" kata Fatih dengan sangat pedenya.
"kau sangat percaya diri" balas Ilham berusaha menampilkan senyum terbaiknya.
"apa salahnya? Ucapan adalah doa bukan?" kata nya sambil tersenyum.
"kak ayo, ibu udah nunggu dari tadi "
Kata Aisyah yang datang dari arah pintu."ah, iya baiklah aku segera kesana" jawab Fatih.
"baiklah aku pergi sekarang, dan jangan lupa kunci semua pintu dan jendela" kata Fatih dengan senyum mengejek.
"jadi kau fikir aku seorang perempuan?" tanya Ilham terdengar sedang menahan rasa kesal.
Aku mendengar suara tawa dari luar yang ku yakini itu adalah suara tawa dari Fatih.
Aku kembali ke kamar, kembali memenangkan perasaan yang sedari kembali tak tenang.
Berkali-kali ku hela nafas berharap bisa menghilangkan atau hanya sekedar meredakan rasa tak tenang, tapi tetap tak berhasil.
Bayangan saat pertama kali bertemu dengannya tak bisa hilang dari fikiran ku.
Bagaimana jika Syifa menerima lamaran Fatih? Apa yang harus aku lakukan sekarang?.
Semua merupakan ujian untukku, apa aku terlalu menaruh harap keoada gadis itu?
Dan benar saja berharap pada manusia itu hanya akan memberikan rasa sakit.Beberapa saat kemudian aku pun terlelap berharap semuanya akan baik-baik saja ketika bangun besok.
*****
Bersambung......

KAMU SEDANG MEMBACA
Stuck In You
Teen FictionCerita ini cocok untuk semua usia, dan tidak ada konten dewasa apa pun dalam cerita ini. Putri Nurul Asyifa, seorang gadis yang mencintai sosok pria yang selalu hadir dalam mimipinya. ia bahkan tak pernah bertemu dengan pria tersebut sekalipun...