Teka-Teki - Eps. 26

180 12 0
                                        

Al menuliskan sesuatu tepat di samping tulisan ayahnya di dalam jurnal. Tepat di lembar halaman yang kosong. "Ini sandi koordinat atau sandi merah putih. Ayah pasti sengaja menuliskan ini untukku, karena dia paham banget kalau aku dulu suka banget main sandi pramuka. Salah satunya sandi koordinat ini," ujar Al menuliskan sesuatu.

"Hah?" Dirga bengong.

"Sandi koordinat adalah sandi yang terinspirasi oleh salah satu materi dalam pelajaran matematika yaitu sistem koordinat kartesius. Koordinat kartesius sendiri merupakan sebuah sistem untuk menentukan posisi titik atau obyek pada sebuah bidang dengan dua bilangan yang biasa disebut sebagai koordinat x dan koordinat y. Prinsip yang sama berlaku pada sandi koordinat ini. Dengan memanfaatkan perpotongan sumbu x dan y serta deret alfabet. Sandi ini jadi salah satu materi teknik kepramukaan yang asik untuk dipecahkan, Ga!" Al semakin girang layaknya bocah mendapat gunungan permen lolipop.

"Lalu?" Dirga garuk-garuk kepala tak mengerti.

"Jadi, sandi ini menggunakan dua buah kunci untuk menentukan koordinat huruf, setelah dipertemukannya dua buah huruf kunci dalam satu titik. Kunci pada sandi koordinat dapat ditentukan oleh si pembuat berita, masing-masing kunci adalah dua buah kata yang masing-masing kata terdiri dari lima buah huruf. Kunci ini nantinya harus diketahui oleh si penerima berita untuk menerjemahkan isi berita," jelas Al dengan mata berbinar.

Dirga manggut-manggut tanda mengerti. "Berarti kita harus tahu kuncinya dulu dong ya?"

Al mengangguk cepat. Ia kembali menelusuri syair tulisan ayahnya. Ayah pasti menuliskan kuncinya dalam syair, pikirnya. Sejenak, ia menggumam tanpa suara. "Ketemu!" teriaknya.

"Apa?" Dirga bahkan belum bisa mencerna kata-kata Al tadi. Tapi si jenius yang sering menyamakan dirinya dengan Einstein, karena kesamaan nama depannya itu sudah mendahuluinya.

"Coba kamu lihat!" Al sedikit menyodorkan jurnal itu di hadapan Dirga. "Sandi koordinat memerlukan dua kata yang masing-masing terdiri dari lima huruf sebagai kata kuncinya. Dan di dalam syair ini hanya ada dua kata dengan lima huruf yang disebut sebanyak empat kali."

Tangan Al mulai menuliskan deretan huruf membentuk kata Indra secara horisontal sebagai sumbu X dan kata Vajra secara vertikal sebagai sumbu Y. Kemudian, dia mengisi deret abjad dari A hingga Z pada sistem koordinat tersebut. Untuk kolom terakhir, Al mengisinya dengan huruf Y dan Z secara bersamaan. Mata Al kembali menatap syair yang tertulis.

"Sandi koordinat ini selalu terdiri atas deretan abjad yang terkelompok dua-dua. Seperti bait pertama syair yang ditulis ayahku. Indra Vajra Iringan Airavata. Kemungkinan, koordinatnya adalah IV IA karena Ayah sepertinya sengaja menuliskan kata per kata menggunakan kapital," cerocos Al yang kemudian menarik garis antara huruf I dan V pada deret abjad yang telah dibuatnya tadi. "Huruf A," gumamnya. Al kembali melanjutkan dengan menarik garis tipis antara huruf I dan A. "Huruf U," lanjutnya.

Perlahan, Dirga mulai mengerti. Ia pun ikut menebak-nebak huruf selanjutnya, hingga beberapa detik kemudian, mereka berhasil menemukan jawaban atas sandi itu.


***

[TAMAT] Api Unggun TerakhirCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang