"Biar aku coba mengartikan itu," kata Al dengan tampang seriusnya, lalu menatap ukiran huruf itu satu persatu.
"Aneka bāhūdara vaktra netram. Aneka bāhūdara vaktra netram. Paśyāmi tvām sarvato nantarūpam. Nā 'ntam na madhyam na punas tavā 'dim. Paśyāmi viśvesvara viśvarūpa," ucapnya lirih. "Kulihat Engkau dalam wujud tak terbatas di segala penjuru. Dengan tangan, perut, muka, dan mata tak terhitung jumlahnya. Tetapi aku tak melihat akhir, pertengahan, dan permulaan-Mu. O Tuhan, seru sekalian alam, O rupa alam semesta."
Tiba-tiba relief naga itu bergerak perlahan. Sayapnya terkepak indah dan makhluk ukiran itu meliuk berputar searah jarum jam. Dirga, Al, dan Kenan spontan mundur beberapa langkah dengan mata awas. Lingkaran emas itu pun terbuka perlahan. Gelap.
Al yang mengintipnya sedikit malah merasakan embusan angin dingin dan bau anyir. Sontak, ia pun bergidik. Berjuta rasa penasaran juga menggelayuti Dirga dan juga Kenan.
Kenan membuka pintu lingkaran raksasa itu agar terlihat lebih lebar. Rasa penasaran benar-benar telah mengalahkan ketakutan yang muncul di dalam dirinya saat itu. Ia meletakkan kameranya agar tetap terjuntai di dada, sementara kaki dan tangannya bersiap memanjat masuk ke dalam lubang gelap yang sedikit lebih tinggi dari tubuhnya.
Tangan Dirga menghentikan Kenan. "Kamu yakin aman?"
Bahu Kenan naik dengan cepat, tanda ia tak yakin dengan keputusannya. Tapi, ia memilih untuk mengusir rasa penasarannya itu dengan masuk ke dalam lorong.
"Kalian nggak bakalan masuk ke sana kan?" tanya Al setengah tak percaya.
"Kita harus masuk, Al." Dirga menatapnya lekat.
"Tapi, ayahku nggak membahas tentang relief naga ini kan?"
"Beliau memang tidak membahas tentang relief ini, tapi kita harus cari tahu ini apa!" tukas Dirga.
"Bisa jadi ayahmu nggak menulis tentang ini, karena memang beliau belum pernah menemukan tempat ini sebelumnya," ujar Kenan yang badannya masih setengah bergelantungan. Hingga kemudian, ia melompat masuk ke dalam lorong gelap itu.
Dirga melemparkan senternya pada Kenan, kemudian ia pun ikut memanjat masuk bersamanya.
"Sial," umpat Al yang merasa tak punya pilihan lain, selain mengikuti jejak kedua temannya.
Perlahan, ketiganya mengendap masuk melewati lorong gelap dan berair itu. Tak ada apapun di sekeliling mereka. Setibanya di ujung lorong, mereka menemukan satu ruangan luas dengan patung naga meringkuk tepat di tengah ruangan.
"Patung naganya gede banget!" pekik Al takjub dan itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya, karena itu bukanlah patung.
Dirga dan Kenan menghentikan langkah ketika leher naga itu mulai bergerak perlahan meskipun matanya masih terpejam. Al yang belum sadar akan hal itu, terpaksa ditarik oleh Dirga dan Kenan. Beruntung, mereka menariknya tepat ketika naga itu membuka mata dan mendengus mengeluarkan kobaran api dari lubang hidung serta mulutnya.
Al syok. Tubuhnya mengejang, ketika Dirga dan Kenan memaksanya bersembunyi di balik sebuah pilar besar.
"Kita harus balik ke pintu masuk tadi. Dan kita cuma punya sedikit waktu," bisik Dirga dengan degup jantung tak beraturan, ketika naga itu akhirnya bangkit dan mendongak disertai desisan napas api.
Kenan yang sedang sibuk mengintip gelagat Sang Naga malah tak sependapat dengan Dirga. "Kita nggak boleh keluar sekarang, Ga!" desisnya.
"Kamu mau kita terpanggang jadi sate santapan naga itu ya?" suara Al mencicit seperti tikus ketakutan.
"Coba lihat ke arah tepat di atas naga itu berdiri." Kenan menunjuk dengan telunjuknya, tepat ke arah dinding yang di bagian tengahnya bersemayam pecahan salah satu medali.
Untuk beberapa saat, Dirga terdiam.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
[TAMAT] Api Unggun Terakhir
FantasyDirga, pemuda yang hobi wall climbing di kampusnya tiba-tiba harus terjebak dalam kegiatan Pramuka konyol. Namun, Pramuka justru mempertemukannya pada sosok gadis impiannya bernama Kirana. Tak ada yang menyangka, keduanya akan terlibat suatu eksped...
![[TAMAT] Api Unggun Terakhir](https://img.wattpad.com/cover/183263927-64-k70395.jpg)