Peluh & Darah - Eps. 54

142 10 1
                                        

"Nggak! Aku mohon jangan aku yang bawa medali itu!" isak Kirana mengiba, menjulurkan kedua tangannya pada Elizabeth.

"Lalu, siapa lagi yang akan membawa benda itu, jika bukan kamu? Lalu, apa fungsi kamu di sini kalau bukan untuk membawa benda itu?" ujar Elizabeth dengan kening berkerut dan rambut yang telah diikat tinggi, memperlihatkan lehernya yang jenjang  dengan tonjolan otot di sana sini.

"Aku dan teman-temanku bersedia ikut dengan kalian demi ilmu pengetahuan yang belum terkuak. Aku dan teman-temanku bersedia ikut dengan kalian demi kekayaan warisan leluhur kami yang masih belum ditemukan. Aku dan teman-temanku—"

Plakkk

Satu tamparan keras mendarat di pipi Kirana yang dalam sekejap merona merah. Membekas bentuk jemari Elizabeth yang mengerahkan semua emosinya.

"Kau terlalu naif! Kami tidak selugu yang kau kira, Kirana. Sejak awal, kedatangan kami ke Indonesia hanya untuk mencari medali-medali ini, bukannya menjadi pengasuh mahasiswa-mahasiswa labil seperti kalian!" desis Elizabeth sambil mengenakan tas ransel di punggung Kirana yang berisi medali.

Seketika itu juga, bahu dan punggung Kirana terasa sangat berat. Pandangannya sedikit kabur, tetapi ia masih mampu berjalan setelah didorong oleh Elizabeth keluar dari kamar. Tak ada satu pun yang bersedia memegang atau menggandengnya. Beberapa kali, Kirana berpegangan pada dinding di lorong hotel hingga akhirnya melewati pintu tangga darurat untuk mencapai roof top. Tempat dimana helikopter yang disewa oleh Klaus menanti mereka.

Embusan angin kencang menyambut ketika pintu teratas di bangunan hotel itu terbuka lebar. Rambut Kirana berkibar tak tentu arah. Ia bahkan harus memicingkan mata untuk menghindari debu yang beterbangan. Semakin ia berjalan mendekati helikopter itu, semakin terasa embusan angin menampar wajahnya. Baling-baling helikopter itu teramat besar dan bergerak begitu cepat. Dua orang terlihat menanti mereka masuk ke dalam si burung besi. Klaus setengah berlari dan terlihat bersalaman dengan salah satu orang yang mengenakan kacamata hitam dan berpakaian serbahitam. Tak lama, Klaus pun memanjat naik ke dalam helikopter. Elizabeth menarik tangan Kirana kasar, lalu melepaskannya beberapa saat kemudian ketika ia telah sampai di pintu masuk helikopter. Klaus dan satu orang lelaki membantunya naik. Giliran Kirana tiba. Klaus tak menjulurkan tangannya. Hanya lelaki yang tadi membantu Elizabeth-lah yang menolongnya.

"Biar aku bawakan tasmu," teriaknya di tengah deru baling-baling helikopter yang begitu berisik.

Hampir saja Kirana melepaskan tas itu dari bahunya, tapi Klaus menarik tangannya paksa.

"Berani kau lepaskan tas itu dari tubuhmu, kucincang kau!" pekik Klaus.

Kirana dan lelaki tadi hanya bisa mendongak dan terdiam. Namun, lelaki itu tetap membantu Kirana naik ke atas helikopter.

"Apa kamu baik-baik saja? Tanganmu sedingin es," katanya berjengit, ketika menyentuh tangan Kirana.

Cepat-cepat gadis itu naik dan tak menjawab pertanyaan lelaki tadi. Kirana duduk tepat di hadapan Elizabeth yang memalingkan wajahnya. Perempuan itu sudah mengenakan earmuff besar di kedua telinganya.

Kirana hanya menundukkan kepalanya. Ia teringat akan kakeknya dan Pandu. Hanya sebait doa yang bisa ia panjatkan saat itu. Meskipun ia sadar, kakeknya pasti sangat khawatir dengannya saat ini. Ia belum menghubungi beliau sejak berangkat kemarin. Lamunan Kirana buyar, ketika Peter duduk di sampingnya dan sengaja menabrak bahunya. Dari sekian banyak orang yang pernah ditemui Kirana, Peter adalah satu-satunya orang yang ingin sekali ditendangnya agar jatuh dari helikopter saat itu.

Perlahan, helikopter itu mulai bergerak naik. Sedikit was-was, Kirana mengintip ke arah pintu helikopter yang memang tidak tertutup. Sedikit demi sedikit, mereka mulai bergerak meninggalkan daratan Kalimantan. Hutan dengan pepohonan yang rapat dan derasnya riam Mahakam semakin terlihat mengecil. Kirana berusaha menguatkan hati. Ia yakin, ketiga orang temannya itu berhasil menyelamatkan diri.

Sedikitdemi sedikit, rasa panas menjalari punggungnya. Kirana merasa bebannya kianberat. Dengan mata setengah terpejam, ia mencoba melawan rasa itu. Keduatangannya terkepal sebagai pelampiasan rasa nyeri yang dia rasakan. Napasnyaterasa sedikit sesak hingga ia tersengal dan tersedak. Elizabeth mau tak maumenoleh ke arah Kirana yang terbatuk di hadapannya.


***

[TAMAT] Api Unggun TerakhirCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang